Tetaplah Aku Kawanmu

Tetaplah Aku Kawanmu
Dok. Manggala

Ingatan-ingatan tentang Ustadz Khaidir selalu menggangguku. Dikala membuka mata lepas lelap, dikala menutup mata lepas penat. Kata-katanya mendikteku untuk berjalan di atas norma-norma sosial yang elok laku lagi budi. Setidaknya menurut standar Ustadz Khaidir. Bahkan di saat kepalaku ramai, riuh rendah tentang kekesalanku terhadap kapitalis sialan, suara Ustadz Khaidir lekat tiada peri.

Penampilannya selalu bersih, rapi, wangi, jali. Andaikata engkau berjalan berpapasan dengannya, setidaknya sampai engkau tiba di teras rumahmu, wangi parfum Ustadz Khaidir memudarpun tidak. Masyarakat memuja pemuka agama macam Ustadz Khaidir, memberikan apapun yang ia mau, sebab Ustadz Khaidir senantiasa memberi pula apa yang mereka mau: ketenangan rohani.

“Hendak kemana bertolak, Lat?” suatu sore itu, wangi Ustadz Khaidir bahkan sudah tercium bermeter-meter sebelum berpapasan denganku. Aku hanya tersenyum canggung membalas senyum rupawan Ustadz Khaidir, merapikan setumpuk map di pelukan.

“Oh, Ustadz Khaidir. Hanya menghadiri perkumpulan saja.”

“Perkumpulan apakah itu? Adakah macam?”

“Macam, Ustadz… tentu saja,” senyumku lindap di akhir kalimat.

Tentu tidak bisa kuberitahu bahwa aku akan menghadiri perkumpulan partai sosialis bawah tanah tempatku berlabuh setahun dua tahun belakangan. Kami berpisah seraya Ustadz Khaidir sudah menyapa jemaat lain yang ia papasi. Padahal baru saja Jumat yang lalu, Ustadz Khaidir mengingatkan bahaya komunisme, tipikal masyarakat didikan Orde Baru.

****
“Seminggu yang lalu, PHK massal perusahaan A benar-benar…!” Syarif, kawanku, terhenti mengomel sebab dia sudah naik pitam duluan. Dia menghantam rokok yang masih panjang ke asbak. “Habislah, aku tak punya uang,” suaranya melemah.

“Maka, ayo kita demo lagi!” Maidun berceletuk.

“Tak payah! Gerakan kita semakin tercium. Apalagi oleh Ustadz rupawan itu, Ustadz Khaidir. Kudengar dia antek aparat, sebab dia pemuka agama. Semakin jadi saja agama diperalat!” Faisal menginterupsi. Dia adalah pemimpin Gerakan Bawah Tanah kami. Aku menyimak takzim.

“Dalat, bagaimana persiapan kita? Kita tidak bisa diam begini. Jikalau memang kita mau mengubah sistem, harus dari sekarang, dari skala terkecil!” Faisal membakar rokoknya.

“Ah, amanlah itu, Bang. Aku sudah persiapkan Abang untuk maju ke pemilihan kades bulan depan. Alat-alat kampanye sudah jadi adanya! Realisasi pemikiran kita nyata!”

Faisal manggut-manggut, begitu pula Syarif, begitu pula Maidun, dan sepuluh orang lainnya di ruangan remang itu.

***

Pemilihan kepala desa Jibon semakin dekat. Warung-warung kopi, lapau-lapau kayu penuh sesak orang tua, muda, wanita, pria. Obrolan-obrolan kini dipenuhi siapa lawan siapa, ide lawan ide, gagasan demi gagasan. Kekopian diseduh, rerokokan dibakar, menemani diskusi-diskusi panas, debat-debat lantang, bisa pula mendampingi bisik-bisik lirih, diskusi-diskusi remang, pelan tapi pasti dan sarat ambisi. Semua memiliki standar sendiri, pemikiran pribadi, opini mandiri. Semua bebas berpendapat, toh ini negara demokrasi, semua berhak, termasuk paham-paham paling salah sekalipun.

Ada dua calon yang didaftarkan. Satu di antaranya calon paling kuat yang jadi pembicaraan se-desa, tentu saja pemimpin rohani masyarakat, Ustadz Khaidir.

Pembawaannya yang ramah, perilakunya yang elok, memberikan ketenangan siapa saja yang bersua dengannya. Hampir tiap warga jatuh hati pada kharismanya.

Adapun satu lagi calon ialah pemuda krosboi yang punya pemahaman dan prinsip kuat, namanya Faisal, ketua kami.

Dia tidak difavoritkan, tidak dikenal luas, tidak dielu-elukan, tapi dia membawa pemikiran bahwa semua orang di desa memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada kaya, tidak ada miskin. Setiap orang berlaku momennya, berharga adanya. Berbagai respon muncul sebab pemikirannya ini: kebanyakan senang sebab membawa harapan baru, sebagian lagi sangsi. Aku tahu betul siapa saja mereka.

Siang itu aku hendak berkumpul dengan Gerakanku, membawa map tebal, rencana kampanye, penuh strategi sosial. Terik matahari menyinari jalan setapak yang kususuri.

Tiba-tiba semerbak wangi menyeruak. Ustadz Khaidir muncul dengan stelan putih biasanya, menyapaku dengan senyuman andalannya. Aku terpaksa tersenyum dan terpaksa menyapa. Interaksi dengan Ustadz Khaidir selalu menggangguku.

“Wah… wah… wah… apa hal tergesa sangat, Dalat?”

“Haha, tidak pula tergesa, Ustadz. Berjalan biasa pun… mari.”

Baru selangkah beranjak Ustadz Khaidir menahan lenganku, menatapku. Tatapannya susah diartikan.

“Jangan lupa sembahyang, ya?”

Aku hanya mengangguk lantas beranjak pergi.

***

Bocah itu berjalan tanpa sendal, lewat di depanku sambil menyeret kresek berisi beras sekilo. Dia baru saja keluar dari toko sembako milik istri Ustadz Khaidir. Wajahnya tampak berseri. Kutanyakan padanya apa hal. Dia berkata istri Ustadz Khaidir baru saja memberinya sekilo beras guna dimakan bersama keluarganya. Dia berkata toko itu memang toko yang dermawan dan baik hati, memberi kepada semua kalangan. Tak heran toko itu selalu ramai dan sukses, bahkan mengalahkan toko-toko sembako lain di Kampung Jibon. Coba saja keluarganya punya uang, mereka pasti selalu bisa membeli makanan dari toko istri Ustadz Khaidir itu. Bocah itu pamit denganku, mematut-matut beras, bersenandung. Setidaknya untuk sehari dua hari ini dia dan keluarganya kenyang.

Begitu banyak orang miskin di kampung ini, tapi kenapa mereka bahagia begitu saja saat diberi sekilo-dua kilo beras? Makan, tidur, kemudian bekerja begitu-gitu saja esok hari, bertanya-tanya bila mereka akan mendapat bantuan gratis lagi dari toko istri Ustadz Khaidir. Sore hari anak mereka mengaji di masjid, mengeja ayat-ayat Tuhan. Ustadz Khaidir langsung yang membimbing mereka, tapi begitu saja lalu selesai. Hari diulang lagi esok. Kulihat toko istri Ustadz Khaidir semakin laris, tahun demi tahun.

“Sal, ayo kita dirikan koperasi!” sore itu kukatakan ideku kepada Faisal. “Agar setiap warga memiliki kepemilikan, memiliki harta, dan bisa mempergunakannya untuk kemajuan mereka!” Telinga Faisal tegak mendengar ide itu.

“Bagus, Lat! Sesuai dengan visi misi kita. Masukkan ke skema dan ide kampanye.”

Maka kemudian kami gencar mempromosikan ide pendirian koperasi ini. Perlahan, kami adakan sosialisasi dan pendidikan dasar tentang koperasi. Warga kebanyakan menyambut ramah ide ini, apalagi para pemilik toko-toko kecil. Maka bagai keajaiban, presentasi dukungan dan perkiraan suara mengalami eskalasi signifikan. Masyarakat menyambut baik ide kami. Faisal yang awalnya diremehkan mulai lebih percaya diri, hati kami menghangat, begitu pula masyarakat desa yang melihat harapan baru keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Kami menatap pemilu lebih percaya diri mulai sekarang.

Tentu masih banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang terlontar daripada warga soal koperasi ini.

“Apakah aman? Menitipkan kebendaan saya yang sedikit ini? Tidak akan rugi?” Julmiatun bertanya sore itu saat kami menjelaskan bagaimana koperasi berjalan.

“Saya tidak bisa jamin 100% ibu tidak akan rugi. Tapi kami percaya kalau semua anggota ikut mengawasi dan bertanggung jawab, risiko bisa diminimalkan. Tentu ibunda bebas memilih. Tapi yang pasti, di koperasi, ibunda memiliki harta yang terus bergerak dan diawasi bersama. Semua punya kontrol atas asetnya!” aku menjelaskan yakin.

Julmiatun manggut-manggut.

Suatu hari, lagi, Kahar bertanya, “Kalau memang harta bersama, lantas siapa yang akan mengawasi harta kita ni? Jangan sampai nanti dikorup macam yang sudah-sudah di kota besar!”

“Ah, tak perlu cemas, Bang. Semua anggota punya hak dan tanggung jawab yang sama. Tidak ada satu orang pun yang bisa menguasai semuanya sendirian. Setiap transaksi, simpanan, dan penggunaan modal akan dicatat dan bisa diperiksa semua anggota. Jadi kalau ada yang mencoba curang, langsung ketahuan, Bang. Bagaimana? Top, bukan?”

Kahar mengangguk-angguk. Elehan… elehan.

“Sistem ni… bagus. Tapi coba kita diskusikan ke Ustadz Khaidir dahulu, bolehkah?” sore hari itu kami bertemu Hasanatun.

Aku, Faisal, Maidun bertatap-tatap.

“Ah, bukan mengapa… tapi sebagai orang pintar lah… orang paham… Ustadz Khaidir boleh jadi memberi masukan yang baik, bukan? Apalagi dengan ilham dari ayat-ayat suci yang dibacanya tu!”

“Ah, silakan, Bu… sila… tanyalah dahulu,” Faisal lebih dulu membuka mulut sebelum aku membalas perkataan Hasanatun.

Kami pamit buru-buru.

Tapi selain daripada itu, masyarakat tetap menyambut baik. Mereka setuju bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan hak yang sama, bukan hanya pengusaha atau orang-orang besar yang lain hari lain pula kayanya. Mereka tersenyum, mereka tertawa saat menyadari betapa hebatnya ide itu.

Dan seketika lembar-lembar ide terbuka di kepala. Lebih lagi, seribu rama-rama menyeruak dari dada. Saatnya bangsaku maju, dari skala terkecil.

***

Beberapa hari ini, angin bertiup kencang. Terasa dingin dan lembab, menggigit kulit tiap aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju markas. Dedaunan pohon bambu berbisik halus. Aliran air sungai juga terasa begitu nyaring di telingaku. Juga mendung. Awan bersedih namun tidak tersedan. Boleh jadi dia menahan tangis. Menahan marah. Menahan apa, ya?, pikirku bertanya. Padahal musim hujan masih jauh.

Di tengah sholat malam pada hari-hari itu, aku berdoa, meminta. Apapun itu, ya Tuhan, keluarkanlah, jatuhkanlah sekarang. Boleh jadi jika itu buruk, sakitnya tidak terlalu terasa.

***

Riuh rendah. Berisik! Kukatakan keras-keras dalam hati. Begitu terang malam ini, begitu panas, begitu bergairah?

Pandanganku buram, pendengaranku kabur. Perlahan membaik, dan seketika suara-suara buram yang menenangkan itu berubah menjadi suara berisik yang amat mengganggu.

Aku tertampar. Maksudku, benar-benar tertampar.

Darah terpercik ke lantai.

Pria yang amat kukenali itu kembali menghantam wajahku, kali ini dengan bogem mentah yang menjatuhkanku ke lantai. Aku meringkuk kesakitan. Tanganku sakit, diikat berjam-jam yang lalu. Kakiku diinjak oleh pria itu. Dia menjambak rambutku dan berbicara tepat di depan mukaku.

“Begini dia menjijikkannya wajah orang yang jauh dari Tuhan. Dasar komunis!” Kahar mengempaskan kepalaku kembali ke ubin yang bahkan aku lupa entah berwarna putih atau merah. Sorak-sorai semakin keras. Umpatan-umpatan geram, sorakan-sorakan marah. Dari hati-hati bersih yang terkurung dalam dogma dan doktrin anarkis. Begitu kasihan.

“Jangan! Oi! Jangan!” seseorang berteriak histeris. Setengah takut, setengah putus asa. Aku kenal betul suara itu: Maidun.

“Aku bukan bagian dari mereka, hei! Aku rajin sholat, tuan dan puan! Jangan dulu, hei! Ampun! Ampun! Ampuni saya, ampu—” Suara cempreng yang biasanya ceria itu lindap. Kuusahakan mendongak sedikit, kulihat Maidun menggelepar di tiang gantungan, megap-megap mencari nafas. Di sebelahnya, Syarif cuma menatap Maidun dingin, kepalanya miring, mungkin lehernya patah saat tali tambang menjerat. Tadi, sejam yang lalu.

Aku disentuh oleh tangan yang dingin. Itu Faisal. Dia jauh lebih “sakit” dariku. Wajahnya sudah tidak berbentuk penuh dengan lebam, memar, darah. Tangannya diikat ke belakang dengan jari-jari yang sudah patah kompak bersepuluh. Dia meringkuk lemas di atas lantai antara hidup atau mati. Tapi kutahu dia masih hidup saat matanya menatapku. Seakan bertanya bagaimana bisa hal semacam ini terjadi? Alfa kah aku? Tersilap langkah? Tatapan terakhirnya terbawa bersamaan dengan tubuhnya yang diseret oleh pria yang tidak kukenal. Bunyi gedebuk tidak lama nyaring kudengar. Kutahu dia dijatuhkan ke sumur yang tepat semeter di dekatku. Dari situ kuinsafi tamat sudah riwayat pemuda krosboi itu.

Tadi sore, selepas Maghrib, waktu yang sejatinya biasa digunakan warga untuk mengaji ayat-ayat Tuhan, mendadak terasa lebih sesak. Bersamaan dengan itu, desa lebih terasa sesak lagi dengan aura yang kuat. Aku baru saja pulang sehabis kerja di kota kabupaten, seketika langsung berlari deras ke markas Gerakan saat melihat desa yang begitu kosong dan mencekam. Empat kilo jaraknya dari desa kami, dengan jalan setapak melewati hutan rapat dan dipenuhi akar menjulur dan onak. Bekas tapak-tapak kaki kulihat beriringan dengan langkah yang semakin cepat, dan demi Tuhan tapak-tapak kaki itu banyak.

Aku seketika terperanjat saat melihat rumah kayu markas itu sudah menyala dengan api yang besar, sebesar massa yang berkumpul di sekitarnya, membawa nyala obor, golok, tombak bambu, dan sorakan marah. Aku segera bergegas lari saat melihat dari kejauhan Faisal yang terkulai lemah diseret ke halaman rumah. Namun terlambat. Salah seorang warga melihatku dan langsung berteriak memperingatkan yang lain. Aku terus saja berlari, dan sekonyong-konyong, pandanganku gelap seraya tubuhku terjerambap ke tanah. Aku tidak tahu apa yang mengenaiku.

Apa yang kutahu kemudian hanya pukulan demi pukulan menghantam wajahku, lengkap dengan maki-makian dan teriakan marah: “Dasar komunis!”, “Atheis sialan!”, “Pengkhianat!”, “Jangan ganggu kami!”, “Raskal!”.

***

Wangi semerbak itu akan selalu kuingat. Wangi yang selalu menggangguku tiap bersua dengannya. Wangi yang tipis, bersih, tapi terasa hangat seperti wangi kayu cendana. Wangi kamar Khrushchyovka yang dulu kami tempati. Wangi yang selalu berkeliaran di jalan-jalan desa juga sekarang, menyengat hidungku, ingatanku, dan perasaanku di titik terburuknya. Wangi itu selalu kuingat, dan malam ini terasa sangat kuat dan menyengat.

Ustadz Khaidir berdiri di depanku. Wajahnya tampak sedih dan prihatin. Aku disuruh berlutut di depannya, dipegangi dua orang.

“Kuperingatkan engkau untuk shalat, Dalat… sembahyang.”

Aku hanya diam.

“Lihatlah apa yang telah engkau akibatkan kepada teman-temanmu, atau boleh kusebut kamerad. Apakah Tuhan begitu jauh sehingga engkau lebih memilih menjadi lebih asing lagi dengan-Nya?”

Rahangku mengeras. Kutatap mata Khaidir. Sudah lama tidak kutatap dalam-dalam mata itu.

“Engkau persis lebih tahu, Khaidir!”

“Tidak ada yang kutahu… Tuhanku lebih tahu.”

Aku membuang muka, merasa jijik, malu dengan pantulan wajahku di matanya.

“Padahal shalat dan mengaji bisa menyelamatkanmu.”

Dan masyarakat mengangguk-angguk prihatin.

Dia mendekat, membisikkan kepadaku, “idealisme mati di tempat tempat seperti ini, tovarishch.

Seketika aku tersadar bahwa aku telah kalah dalam pertarungan sekalian umat manusia ini: pertarungan bertahan dalam eksistensi bawah sadar.

Padahal, kita semua akan kalah, dan kita semua akan menang.

Menit-menit berikutnya, Khaidir berpaling dan diikuti pula oleh masyarakat yang senang. Satu-dua berpikir mau makan apa sesudah ini.

Sedangkan aku terbuang, perlahan lindap dalam hembusan angin dingin hutan hujan.

Wangi cendana mengiringi. Entah dari mana.

Untung saja tidak terlalu sakit.

Darrasah, 3 Oktober 2025
09:59

Oleh: Gema Samudra

Penulis adalah Kru Website Manggala 2025-2026

Editor: M. Alkindi Badruzaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *