Arul Ceu Rita

Arul Ceu Rita
Dok. Manggala

Kampung Sukamaneh adalah kampung kecil yang masih setia hidup di masa lalu. Kabel listrik baru  masuk sepuluh tahun lalu, sinyal masih harus dicari sambil naik ke pohon jambu, dan warga yang pergi ke Alfamart─yang baru bisa ditemui setelah tiga km dari kampung─masih suka melepas sandal di depan pintu karena takut dianggap tidak sopan.

Di kampung yang damai tapi kudet itulah, seorang remaja berusia 17 tahun bernama Arul tinggal bersama ibunya, Ceu Rita, seorang janda tangguh yang memiliki warung nasi uduk di depan rumahnya. Rumah mereka kecil, berdinding papan, dengan dapur sempit yang setiap pagi dipenuhi bau sambal dan suara bergelombang halus dari Forum Evaluasi Lintas Rumah Tangga yang diadakan oleh ibu-ibu setempat.

Arul dikenal sebagai anak yang cerdas. Apa pun yang ia dengar atau baca cepat saja melekat di kepalanya. Kadang dari obrolan orang-orang dewasa, kadang dari diktat sekolah yang ia pinjam, atau sekadar membaca koran bekas yang dibawa pulang ibunya dari warung. Dari situlah ia pernah menemukan istilah hukum Newton.

Tapi, dengan gaya sok tahu khasnya, Arul malah berkomentar, “Hukum Newton? Emangnya Newton anak hukum? Bukannya dia anak IPA?”

Anak-anak mengidolakan Arul karena ia selalu punya cerita ngawur yang membuat mereka senang. Orang tua? Lebih banyak beristigfar kalau dengar dia bicara. Selain cerdas tapi ngawur, ada satu hal lain tentang Arul yang tak terbantahkan: ia punya rasa percaya diri yang tinggi.

***

Di satu pagi yang biasa-biasa saja, Masjid Jami Sukamaneh mengumumkan lomba khotbah untuk para remaja. Hadiah yang membuat Arul tertarik bukan uang ataupun piala, tapi sebuah sarung bermerek mahal yang konon dingin dipakai saat terik dan tidak kusut meski dilipat seminggu.

Arul langsung mendaftar. Bukan karena ingin menjadi penceramah hebat, tapi karena satu hal: “Sarungnya keren, Mah. Katanya kalau pakai sarung itu, bisa bikin sujud kita lebih stabil,” ucap Arul kepada ibunya.

Ceu Rita menggeleng tak habis pikir sambil terus mengulek sambal.

“Arul, sarung mah hanya sekadar kain, ibadah mah yang penting isi hatinya ikhlas.”

Tapi Arul tetap ngotot. Ia bahkan mencoba semua sarung di rumah untuk latihan khotbah sambil berdiri di atas bangku dapur, memegang cobek seolah mikrofon.

***

Pagi itu, langit kampung Sukamaneh masih terlihat abu-abu, suara ayam jago kalah cepat oleh suara Ceu Rita.

“Ruuuul! Gera hudang maneh teh! Yang lomba hari ini tuh kamu, bukan mamah!”

Di dalam kamar, Arul menggeliat malas. Ia tak langsung bangun, tapi juga tak bisa tidur lagi. Hari ini penting baginya karena akan menentukan apakah ia bisa mendapatkan sarung impiannya atau tidak. Ia melamun, mengingat-ingat mimpinya semalam. Ia bermimpi sedang berkhotbah di atas panggung masjid besar, disorot lampu, sarungnya melambai indah, dan semua orang terharu dan bangga. Arul Ceu Rita, jadi juara.

Sementara itu, di dapur, Ceu Rita sudah menyiapkan bala-bala dan mengulek sambal dengan penuh emosi. Bukan karena bumbunya susah halus, tapi karena Arul masih belum mandi, padahal waktu lomba semakin dekat.

“Aruuuul! Burukeun mandi! Ceunah mau lomba!” Suara Ceu Rita menggema dari arah dapur, bercampur dengan bunyi wajan yang baru saja mendarat di atas kompor.

Setelah mandi dan bersiap-siap, Arul berdiri di depan kaca kecil yang digantung pakai tali rafia. Ia memakai peci hitam, baju koko bekas Lebaran tiga tahun lalu, dan sarung pinjaman dari tetangganya, Mang Apud─sarung mahal, katanya. Motifnya batik hitam putih. Ia pinjam sarung itu khusus untuk hari lomba.

“Mah, Arul udah kasep belum?” sambil membalurkan Haslin Seger Snow ke wajahnya.

“Tanyain ke malaikat Jibril weh, Mamah mah nyerah.” Jawab Ceu Rita, kesal.

“Nih, jangan lupa sarapan dulu, Rul.”

“Siap, Mah. Nuhun.

Arul pun berangkat ke Masjid Jami Sukamaneh yang berjarak 900 meter dari rumahnya. Ia pergi dengan berjalan kaki sambil sesekali menyanyikan lagu Ebiet G. Ade favoritnya.

Bapak ibunya, telah lama party… ditelan bencana tanah ini…”

Masjid sudah ramai; anak-anak duduk di barisan belakang. Ibu-ibu sudah siaga dengan kipas dan camilan. Mang Ujang, yang merupakan ketua RT sibuk menata kursi juri. Sementara itu, di barisan depan, terlihat Bapak Ajengan Djunaedi, DKM Masjid Jami Sukamaneh.

Arul duduk di pojok, komat-kamit, mencoba melancarkan materi khotbahnya.

“Duh, belum hafal banget,” ucapnya pada diri sendiri, “Untung pake sarung Mang Apud, jadi agak tenang dan percaya diri.”

Ketika namanya dipanggil, Arul berdiri. Tangan agak dingin, tapi wajah tetap tenang. Ia berjalan ke panggung dengan penuh gaya. Langkah pelan, berwibawa, sambil mengangguk ke arah juri dengan mantap, bahkan sempat senyum ke Ceu Titin yang duduk di barisan ketiga sambil memakan kue sagu keju yang kurang laku.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,” Arul membuka khotbahnya dengan intonasi yang cukup meyakinkan. Ia berbicara tentang pergaulan, tentang kesabaran, dan tentang pentingnya menahan amarah. Tapi baru tiga menit, sarung “kebanggaannya” mulai melorot. Arul berusaha menahan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya masih berusaha menunjuk-nunjuk memberi nasihat.

Satu anak kecil mulai cekikikan. Disusul bisik-bisik di saf ibu-ibu. Mang ujang bahkan menyembunyikan tawa di balik sorban hijau yang ia pakai.

Arul tetap bertahan, tapi fokusnya buyar. Ia sudah tidak tahu apa yang harus disampaikan selanjutnya. Di pikirannya hanya ada “sarung” dan bagaimana caranya agar ia bisa mengakhiri khutbahnya dengan tenang.

Akhirnya, ia menutup khotbahnya dengan kata-kata “Saudara sekalian… hidup ini seperti sarung tanpa ikat pinggang. Kalau tidak hati-hati, kehormatan kita bisa jatuh. Cukup sekian dari saya. Atas perhatiannya, terima kasih. Saya Arul Ceu Rita. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Khotbah selesai. Tepuk tangan tidak ada, hanya batuk-batuk kecil. Arul turun dari panggung dengan senyum setengah gagal.

Di depan Masjid, Ajengan Djunaedi menepuk pundak Arul.

“Sarung bagus memang bisa bikin kita kelihatan rapi dan menambah kepercayaan diri, Arul. Tapi isinya tetap dari sini,” tangannya menunjuk kepala dan dada, “Bukan dari merek sarung.”

“Khotbahmu sudah bagus, tapi lain kali, pastikan pondasi pakaian sekuat pondasi dalil, hahaha.” Suara tawanya pecah, giginya yang sedikit kuning berjejer jelas, sorbannya melorot sedikit karena badannya terguncang.

Arul mengangguk. Ia paham. Bukan karena khotbahnya jelek, tapi karena ia terlalu sibuk mencari pembungkus, sampai lupa meresapi isinya.

***

Di rumah, Ceu Rita menyambut Arul dengan sepiring gehu dan pisang goreng.

Kumaha hasilna, Rul?” Ceu Rita tak tahan untuk tak bertanya, matanya menatap penuh penasaran sambil terus mengulek sambal di cobek yang berasap tipis.

Arul mengangkat bahu, wajahnya memerah, bibirnya menahan senyum kecut. “Gagal, Mah,” Jawabnya lirih dengan tawa kecil yang sedikit tertahan, mencoba menyamarkan kecewa di hatinya.

Ceu Rita menyipitkan mata sebentar, menahan tawa yang ingin meledak, lalu duduk di samping Arul, pura-pura sibuk menyuap gehu.

Kumaha dampak dari sarung mahal Mang Apud terhadap performa khotbah, kerasa?” tanyanya sambil menahan geli dalam hati.

Arul menatap sarung di pinggangnya, sedikit kesal, “Ah, kegedean.”

Tawa Ceu Rita pecah, tubuhnya terguncang, suara tawanya memenuhi dapur. Ia menepuk pundak Arul berulang kali.

Setelah tawanya reda, Ceu Rita kembali menepuk Pundak Arul, namun lebih lembut sambil  tersenyum hangat. “Bukan sarungnya yang kegedean, Rul, tapi ekspektasinya.”

Mereka makan gehu dan pisang goreng dalam diam. Namun, dalam diam itu, Arul mengerti bahwa kepercayaan diri datang bukan dari apa yang dipakai, tapi dari apa yang diyakini dalam hati.

Oleh: M. Alfin Nurrohim

Penulis adalah Pimpinan Umum Manggala 2025-2026

Editor: M. Alkindi Badruzaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *