Elegi Untuk Rumah Yang Hilang
Oleh: Khansa Mujahidatunnisa
Sambil menengok senja aku berpuisi
Disempurnakan jingga, aku melukis di atas pelangi
Sore itu, bersama Ibu aku memandangi langit bulan Juni
Menebak-nebak, untuk siapa bintang rela jatuh berkeping?
Cahayanya berpendar sesaat, lalu padam dan mengering
Sekelebat bayangan pekat menyelimuti rembulan
Kami menyaksikan sinarnya meregang nyawa
Di tengah gulita,
Aku dihinggapi pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi sederhana
Bu, di mana bisa kutemukan juang ketenangan yang menang?
Di mana bisa kutemukan pulang tanpa merasa dibuang?
Kata mereka, punya rumah adalah mimpi yang kekanak-kanakan
Maka biar aku hanyut dalam badai angan-angan
Dimaki dari kejauhan, bertalu disebut bajingan
Nyaris menyerah oleh persoalan yang menghabisi pikiran
Bu, kapankah lelah ini layak rebah?
Adakah waktu kala mata ini tak lagi basah?
Setelah pengembaraan panjang membuatku pasrah
Aku malah menepi persis di sebelah bangkai janji-janji
Lalu Ibu menarikku pada peluknya yang abadi
Jemarinya mengetuk-ngetuk lembut ujung dahi
Berusaha memadamkan elegi yang berapi-api
Kudapati rumahku pada sosoknya yang teduh berseri
Penulis adalah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Milangkala KPMJB Ke-48
Menyambut Sang Tuan
Oleh: Muthi’ Annisa
Kata Firdaus, kehidupanku telah kalah
Maka aku tahu hari ini akan ke mana
Kemudian menangkap remang cahaya di sela-sela kayu ulin
Aroma kapur dengan malu membelai seisi ruang tamu
Hangat jari-jemari Ibu menelisik tanganku
Sang Tuan datang …
Bagaimana dengan mawarku?
Layu
Apel yang kusisihkan untuk besok?
Busuk
Aku masih ada sisa semur daging
Sudah basi, Nona
Lalu dengan apa aku menjamumu?
Sang Tuan mendekat, “Dengan duka.”
Ibu berteriak, “Oh, sungguh tiada nan amerta. Tiada engkau, tiada pula aku, Nak.”
Tuan, ingin kutanyakan
Berwujud apa tempatku pulang?
Karena Sang Tuan telah datang …
Ibu, tolong tanyakan untukku
Apa sudah bisa kusebut abadi jikalau waktu saja bukan milik kita?
Ibu, kudengar sebuah kata memiliki nyawa
Enggankah Firdaus memberi kata padaku sekali lagi?
Diusap keningku yang kian memucat sembari berbisik lirih
“Iringi ibu, kita ke rumah.”
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمد رسول الله.
Penulis adalah Juara 2 Lomba Cipta Puisi Milangkala KPMJB Ke-48
Menyemai Kesuma Impian
Oleh: Hasna Nabilatushafaa
Kala luka menyemai impian dalam kebun harapan,
Maka biarkan rasa sakit itu memupuknya tumbuh berdahan,
Disiram dengan derasnya air mata perjuangan,
Agar semakin terasa pedihnya goresan duri-duri kehidupan.
Bila angan yang merekah itu sebuah duri untuk ku lewati,
Bila semerbak impian itu aroma nektar yang siap meracuni,
Adalah bersusah payah menghadapinya yang ingin ku lalui.
Abaikan jika duri itu menggores diriku dengan kebengisan,
Bahkan hingga rapuh bersimbah darah pengorbanan,
Kan ku tebas duri-duri itu dengan pedang kegigihan,
Sebagai bukti langkahku tak pernah hilang keinginan.
Di kebun, tak jarang pula ku temui sekelompok lalat,
Yang tak membiarkanku gigih nan juga kuat,
Katanya dasar keras jangat,
Tapi, tak ku hiraukan kicauan mereka yang mengumpat.
Kau melakukan apa? Tanya penjaga toko bunga
Aku menyemai butir usaha,
Untuk menuai bunga cita,
Memupuk dengan rabuk doa,
Dan menjaga keutuhan setiap kelopak karsa,
Tak lupa ku sirami dengan tetesan netra.
Kesuma itu ku semai bukan untuk dipajang,
Agar setiap mata yang lewat turut memandang,
Atau demi mendapat julukan si penggiat ladang.
Satu hal itu selalu ingin ku perjuangkan,
Meski harus terluka untuk menerima keindahan,
Ku namai ia sebagai kesuma impian.
Penulis adalah Juara 3 Lomba Cipta Puisi Milangkala KPMJB Ke-48
Lilin Pertama
Oleh: Khaliza Arzeti
Rumah?
Ya. Tempat pulang katanya.
Namun,
Beberapa dinding tak memantulkan kasih,
dan beberapa tangis dibalas gema yang menerkam.
Bingkai usang di dalamnya,
Memajang senyum terpaksa seolah bahagia.
Malam itu,
lilin pertama menyala.
“Terangilah rumah ini,” kata pemiliknya,
seolah aku sudah tahu cara menjadi cahaya.
Aku tumbuh dalam rumah yang tak kupilih.
Lelehan sumbu itu terus membakarku—
yang mereka sebut pengorbanan.
Padahal, itu isakku tanpa suara,
ingin berkesah tanpa dianggap lemah.
Tapi, siapa yang peduli?
Setiap tetes yang jatuh dari diriku,
menjadi persembahan bisu di altar rumah ini,
hanya demi kehangatan delusif,
demi pelukan dalam ilusi.
Lucu, bukan?
Mereka menikmati nyalaku,
tanpa melihat betapa api itu membunuhku,
perlahan, dan mati dalam keheningan.
Ah..
Lagi-lagi siapa yang peduli?
Aku mati demi disebut cahaya,
tapi..
siapa yang menyebutku manusia?
Penulis adalah Juara Harapan 1 Lomba Cipta Puisi Milangkala KPMJB Ke-48
Rumah Merah
Oleh: M. Gema Samudera
Sebuah masa kukisahkan
Kepada awan gemawan tersipu
Bahwa penghidupanku kandas
Jalan jalannya lunas
Dan kayu kayu fondasinya tumpas
Duli pangkuan aku menghambur ayah ibu
Seperti ada suatu masa aku lugu
Menerka jengkal demi jengkal keberuntungan
Belaian kasar menikam
Menyayat mengoyak kala mengaji
Begitu saja dan aku terhempas
Terbakar marah merah
Menerjang berderu berdebu
Bersama pendekar laga satu dua
Sepuluh sejuta berdebar debar!
Hanya pada lirikan mata kami jatuh masai
Penulis adalah Juara Harapan 2 Lomba Cipta Puisi Milangkala KPMJB Ke-48






