Langit kelabu seperti biasa. Udara terasa basah, tapi bukan karena hujan. Melainkan karena beban yang tak terlihat menekan pundakku.
Di taman, aku duduk hampir setiap sore—bersama anjing yang sangat kusayangi lebih dari siapa pun—bukan karena menunggu siapa pun. Tapi karena itulah satu-satunya tempat di mana aku bisa membiarkan dunia berjalan tanpa harus ikut di dalamnya.
Angin sore berembus pelan, menyapu helai rambutku yang kusut. Di hadapanku, daun-daun gugur tanpa suara.
Dan aku, seperti mereka, hanya ingin jatuh tanpa ditanya alasan.
Langit menjingga, tapi warnanya tidak menghangatkanku. Lalu, terdengar suara pelan, ragu tapi nyata. Aku menoleh sedikit, tak ingin terlihat terlalu penasaran.
Tanpa kusadari, ternyata ada seorang anak di sampingku. Usianya mungkin sebaya. Wajahnya biasa, tapi matanya… ada sesuatu di sana. Bukan rasa ingin tahu. Tapi, kesunyian yang sama. Dia pun tiba-tiba menepuk punggungku dengan halus sambil menyapa, “Hei, nona?”
Aku tidak menjawab. Tapi aku juga tidak menolak. Dia duduk di sebelahku. Jarak kami cukup dekat untuk aman, cukup nyaman untuk terasa nyata.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Dia mencoba membuka obrolan.
“Kamu sering ke sini?” Tanyanya kemudian.
Aku hanya mengangguk kecil. Masih tak yakin harus bicara atau tidak.
“Aku juga, aku suka tempat sepi. Karena tempat ramai sering bikin sakit kepala,” dia terus mencoba mengajakku berbicara.
Keheningan kembali mengisi ruang di antara kita, untuk kemudian…
“Aku… suka taman ini,” katanya setelah beberapa menit. “Bukan karena indah, tapi karena diam. Diam itu… lebih jujur dari kata-kata.”
Ia tidak bertanya tentangku. Juga tidak menyinggung ibuku. Tidak menyebut gosip sekolah. Hanya duduk di situ, menatap langit yang sama. Dan entah mengapa, itu cukup untuk membuat dadaku terasa lega.
Aku tidak tahu siapa dia dan juga tidak ingin tahu tentang dia. Karena bagian dari diriku mulai takut, bahwa jika aku tahu… aku akan mulai berharap. Dan aku benci harapan. Karena harapan adalah pengkhianatan pertama sebelum luka datang.
Aku mengangkat sedikit wajahku. “Diam juga bisa menyakitkan,” jawabku akhirnya.
Dia menoleh padaku, lalu mengangguk pelan.
“Benar,” katanya. “Apalagi kalau itu satu-satunya hal yang kita punya di rumah.”
Kata-katanya menembus sesuatu dalam diriku. Tidak tahu bagaimana ia bisa tahu. Tapi, kalimat itu terlalu dekat dengan kenyataan. Aku menelan ludah. Dunia seperti berhenti bergerak untuk beberapa detik.
“Aku gak bermaksud ikut campur,” lanjutnya.
Akhirnya aku menatapnya lebih lama dari sebelumnya.
Kemudian ia sontak bertanya, “Apakah kamu yang selalu keluar dari kelas dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan?”
Aku pun terdiam, karena selama ini tak pernah benar-benar ada seseorang yang memperhatikanku. Mungkin karena dia sepertiku. Terlalu diam untuk diperhatikan. Terlalu sunyi untuk dipedulikan.
“Karena aku tahu kamu gak salah. Mereka hanya butuh seseorang buat diinjak. Dan kamu… terlalu diam untuk melawan,” lanjutnya. Dia seolah-olah memperdulikan.
Aku menarik napas dalam-dalam. Kalimat itu sangat membuat dadaku terasa berat.
Lama sekali aku menundukkan kepala sebelum akhirnya bertanya,
“Kenapa kamu peduli? Sebenarnya siapa kamu?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutku—pelan, tapi dengan beban yang sudah kupendam terlalu lama.
Dia terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arahku, tapi bukan seperti orang yang menilai, lebih seperti seseorang yang juga sedang mencari jawaban dari dalam dirinya sendiri.
Lalu, dia bicara, “Namaku Ren. Aku kakak kelasmu. Kelas dua.”
Diriku sempat terkejut. Tak pernah sadar. Wajahnya memang familier, tapi tak pernah benar-benar kuperhatikan. Seperti aku yang tak pernah benar-benar dilihat siapa pun, rupanya aku juga tak pernah benar-benar melihat orang lain.
Dia menghembus napas perlahan, “Aku sering melihatmu, aku ingat karena kamu selalu berjalan sendirian. Dan aku tahu, orang-orang di sekolah ini tidak sekadar membiarkanmu sendiri, mereka memang ingin kamu merasa sendirian.”
Aku menggigit bibirku. Tanganku mengepal di pangkuan. Entah kenapa, aku tidak merasa ingin lari. Mungkin karena suaranya terdengar tulus. Atau mungkin karena ini pertama kalinya ada yang benar-benar melihatku.
“Mereka bilang aku bau,” bisikku akhirnya.
“Mereka menyebutku anak pelacur. Mereka suka menyembunyikan sepatuku, menyobek bukuku, meludahi meja tempat aku duduk. Kadang aku dengar mereka bertaruh, siapa yang berani menyentuhku seolah aku penyakit.”
Ren menunduk, wajahnya menegang.
“Itu belum separah rumah,” lanjutku.
Setiap kali mengingatnya aku bisa merasakan kembali beratnya langkah pulang seperti biasa.
Ranselku hampir kosong, wajahku kotor, rambutku kusut. Aku tahu ibuku akan marah. Tapi aku tak pernah takut lagi tentang apa yang akan dikatakannya. Tak akan memperburuk apa yang sudah rusak.
Pintu rumah kami terkunci dari luar. Suara langkahnya terdengar saat membuka pintu. Ibuku masuk. Terlihat tubuhnya Lelah dan bajunya bau alkohol, rambutnya berantakan. Tangannya membawa tas plastik berisi uang, dan satu gelas minuman yang separuh kosong.
Tanpa mengatakan apa-apa, ibuku mengambil sehelai kain, meremasnya keras, lalu melayangkannya ke arahku.
“Lihat ini!” Suaranya meninggi.
Kain itu menyisakan jejak tangan penuh noda di baju lusuhku.
“Kau keluar seperti ini?! Kau pikir ini layak untuk dilihat manusia?!”
Aku terhenti sejenak, darah di wajahku mendidih, malu dan sakit. Ibu melangkah mendekat, menarik lengan bajuku, menggoyangkannya kasar.
“Kenapa kau tidak pernah mandi sebelum pergi ke sekolah? Kenapa rambutmu selalu berantakan seakan-akan kau sengaja. Seperti kau tidak pantas diberi rumah?”
Hampir saja air mataku keluar. Aku tidak ingin jadi bahan tawaan lagi. Aku meremas—dekap—tubuhku sendiri agar tidak goyah.
Dia menarik tanganku lebih keras dan masih dengan suara tingginya.
“Kau pikir aku senang hidup seperti ini?! Dengan anak yang susah diatur sepertimu?!” Bentaknya. Seolah olah aku yang selalu jadi biang masalah baginya.
Aku melangkah mundur perlahan.
“Biarkan aku pergi!” suaraku pecah, tapi suaraku tidak didengar.
Ibu menarik rambutku dengan tangan kasar sambil menghinaku, “Kau bukan siapa-siapa! Kau cuma beban! Kalau kau bisa hilang, mungkin hidup ini bakal lebih mudah!”
Aku menunduk. Suara lirihku nyaris tercekik.
“Aku benci rumah. Aku benci sekolah. Aku benci bangun pagi. Tapi aku juga benci berharap malam cepat datang. Karena malam hanya berarti… aku masih ada.”
Sunyi menyelimuti kami. Tapi kali ini, bukan sunyi yang menyiksa.
Ren tidak menjawab. Dia hanya duduk di sana, mendengarkan. Tidak menyela. Tidak menyuruhku untuk tetap tegar dan kuat. Tidak menyalahkanku karena terluka.
Sampai sore itu perlahan tenggelam, saat angin bertiup lebih dingin dari biasanya, aku bertanya padanya.
“Ren…,” sahutku dengan lirih.
“Kalau kamu pergi… aku harus bicara dengan siapa?” Dia tidak menjawab.
“Ren?” tanyaku lagi.
Tak ada jawaban. Aku menoleh ke sebelah. Dan bangku itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tas sekolahku, dan di bawah bangku, seekor anjing dengan bulu kusam dan mata besar yang menatapku tanpa berkedip. Lalu… aku menatapnya lama.
Dia menjulurkan lidahnya, pelan, mengibaskan ekornya yang kurus. Aku mengusap kepalanya, dan suara itu… suara Ren, pelan, seperti muncul lagi dari dalam kepalaku, “Aku gak janji bisa menghilangkan semua rasa sakitmu… Tapi, aku bisa duduk di sebelahmu, setiap kamu butuh.”
Air mataku jatuh.
Tanganku terus membelai anjing yang sudah bersamaku sejak kecil. Satu-satunya makhluk yang tidak pernah menolak keberadaanku. Dan saat itu aku baru sadar bahwa seseorang yang mengajakku bicara itu tak pernah ada. Dia hanya nama yang kuberi… pada satu-satunya makhluk yang tak pernah meninggalkanku.
Oleh: Faiz M. Ajbi
Penulis adalah Kru Website Manggala 2025-2026
Editor: M. Alkindi Badruzaman






