Angin Segar dari Dua Azhari Muda

(KH Imam Jazuli & Ustadz Muhammad Elvandi)

Oleh: Muhammad Rifky Handadari

Penulis adalah Pimpinan Redaksi Manggala 2022-2023

Sebagai instansi pendidikan yang telah berdiri lama, Universitas Al-Azhar berhasil melahirkan alumni-alumni yang tersebar di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Di Bumi Pertiwi sendiri para alumni Al-Azhar (Azhari) kerap distereotipkan sebagai seorang ustadz, da’i, atau penceramah. Hal tersebut akhirnya memantik saya untuk merenung ‘apakah peran kita sebagai Azhari mandek di situ-situ saja? apa mungkin kita berbuat lebih untuk bangsa dan Negara yang kita cintai?’ Setelah merenungi cukup lama, saya tiba-tiba teringat dua sosok Azhari muda yang –menurut saya- edgy (tidak biasa), unik, dan cukup menarik untuk dibahas karena gagasan-gagasan serta peran yang telah mereka berdua torehkan di Indonesia. Yap, dua tokoh tersebut adalah KH Imam Jazuli dan Ustadz Muhammad Elvandi.

SEKILAS TENTANG DUA TOKOH DI ATAS

Pertama KH Imam Jazuli. Sosok yang kerap disapa dengan Kyai Imjaz ini adalah pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia yang terletak di Cirebon. Selepas lulus S1 di Al-Azhar Kairo fakultas ushuluddin, beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Kebangsaan Malaysia fakultas Human Science. Selama di Kairo beliau sudah aktif di organisasi pelajar, organisasi keilmuan, bahkan juga di partai politik. Warisan rill darinya yang bisa kita lihat saat ini adalah berdirinya cabang PDI-Perjuangan di Kairo dan saat pada itu beliaulah yang menjadi ketuanya.

Perannya tak berhenti sampai di situ. Sepulangnya ke Indonesia makin banyak masyarakat yang merasakan kebermanfaatan akan dirinya. Selain sebagai pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) dengan ribuan santrinya, KH Imam Jazuli juga pernah tercatat sebagai pengurus PBNU dan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia).

Selain KH Imam Jazuli, ada juga Ustadz Muhammad Elvandi. Beliau adalah sosok yang berhasil menaklukan pendidikan di timur dan barat. Tak merasa cukup menyelesaikan S1 di Timur Tengah, beliau memilih Prancis sebagai tempat singgah selanjutnya untuk menempuh S2, tepatnya di Institut Europeen des Science Humaines de Paris. Belum puas dalam belajar, sosok yang akrab dipanggil Kang El ini melanjutkan lagi pengembaraan menuntut ilmunya di University of Manchester pada program MA Political Science: Governance and Public Policy. Selama menjadi mahasiswa, hari-harinya selalu diisi dengan kegiatan produktif seperti terjun dalam organisasi mahasiswa, aktif menjadi pembicara di berbagai forum,  hingga menulis dan menerbitkan buku.

Setelah mengarungi timur dan barat, Kang El pun kembali ke Indonesia dan melanjutkan khidmatnya kepada masyarakat yang lebih luas lagi. Di samping aktif mengisi seminar dan menjadi pembicara, beliau juga mendirikan MUDA (Muslim Berdaya) Community yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan seperti mentoring dan lain sebagainya. Di bidang pendidikan, beliau aktif menjadi dosen di Telkom University Bandung.

GAGASAN DAN PEMIKIRAN DUA TOKOH DI ATAS

Sebagaimana yang telah disebutkan di awal, dua tokoh edgy ini –sebagai alumni Azhar- memiliki sudut pandang dan gagasan yang menurut saya cukup berbeda dibanding dengan alumni-alumni Azhar yang lain. Sebagai pengalaman pribadi, saya selalu dipesankan oleh para guru baik yang merupakan alumni Al-Azhar atau bukan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya di Al-Azhar. Dalam konteks ini mereka menyarankan saya untuk jangan puas hanya S1 di Azhar, akan tetapi teruskanlah hingga S2 atau bahkan hingga S3. Kurang lebih kalimatnya “kalo di Azhar sampe Lc doang mah nanggung!” juga tak lupa diakhiri dengan doa dan harapan “nanti pulang jadi ulama yaa, bisa buka majlis ta’lim, ngisi ceramah di mana-mana, pokoknya masyarakat butuh kalian.” Dan saya yakin kalau saya bukan satu-satunya yang pernah mendapat pesan dan harapan seperti itu.

BACA JUGA: “Masisir Bukan Azhari, Lantas?

Pada tahun 2018, untuk pertama kalinya saya mendengar langsung nasehat dan pesan dari Kang El sebagai alumni Azhar ketika mengisi acara di sekolah saya, beliau berkata “umat islam jangan alergi sama barat, jangan takut untuk belajar ke barat. Alumni timur tengah yang jadi ustadz sudah banyak, saat ini kita butuh orang yang paham islam untuk mengisi ruang-ruang yang lain.” Tentu saat itu ucapannya berhasil membuka mata saya lebar-lebar tentang peran alumni Azhar yang awalnya saya kira hanya di situ-situ saja.

Ustadz Muhammad Elvandi adalah salah satu bukti nyata lulusan Azhar yang memiliki pemikiran progresif dan revolusioner. Tentu kita sudah sering melihat para ustadz lulusan Azhar membuka kajian tafsir, akhlak, ataupun fiqih. Tidak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja di zaman ini kita butuh sesuatu yang lebih, dan saya rasa Kang El telah menjawabnya. Berbeda dengan alumni Azhar pada umumnya, Ustadz asal bandung ini justru membuka Kajian Peradaban Islam. Di situ beliau menyadarkan anak muda tentang pentingnya umat islam untuk melek politik agar dapat membangun peradaban. Mulai dari Visi Global Islam, sejarah politik islam, hingga membentuk generasi pemimpin semuanya telah tuntas dibahas. Dengan kajian Peradaban Islam yang menyadarkan para generasi muda untuk melek politik, dan MUDA Community yang membangun SDM berdaya saing global (atau biasa beliau sebut dengan istilah Elite Circle Moslem), rasanya tidak berlebihan kalau mengatakan sosok Muhammad Elvandi sebagai seorang Azhari yang cukup edgy dan memiliki warna tersendiri di kalangan alumni Al-Azhar.

(Ustadz Muhammad Elvandi)

Dalam hal ini Kang El bukan satu-satunya, belakangan ini saya mendengar gagasan yang jauh lebih ekstrim dan kontroversial dari KH Imam Jazuli. Dalam beberapa forum beliau kerap kali menyampaikan keresahan akan para alumni Azhar yang menurutnya masih belum cukup berdampak untuk bangsa dan Negara. Sebagai landasan dari keresahanya, beliau mempertanyakan di mana para Azhari di pemerintahan, BUMN, kementrian, dan sektor-sektor lainnya.

Lebih dari itu, tak jarang juga beliau menyarankan santri-santrinya untuk tidak melanjutkan S2 di Al-Azhar, melainkan di Negara-negara yang maju seperti Eropa, Australia, Malaysia, dan lain-lain. Beliau berpandangan bahwa lulusan S1 Al-Azhar yang sesungguhnya sudah cukup alim untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Atas dasar itu, sudah saatnya para lulusan S1 Azhar ini lebih membuka diri dengan ilmu-ilmu duniawi yang lebih bervariatif.

Di pesantren yang diasuhnya sendiri, KH Imam Jazuli telah menyediakan banyak  sekali program penunjang skill agar santri-santrinya mampu menjadi generasi yang memiliki daya saing tinggi serta adaptif di era modern seperti saat ini. Terbukti, setiap tahun Pesantren BIMA berhasil meluluskan ratusan santrinya ke universitas-universitas internasional. Tiada lain upaya ini beliau lakukan agar peran santri ke depannya tidak hanya di situ-situ saja. Kesadarannya  terhadap pengembangan SDM inilah menjadikan Pesantren BIMA sebagai lembaga pendidikan yang telah banyak melakukan inovasi dan sukses mengintegrasi berbagai kurikulum.

(Pesantren Bina Insan Mulia)

Melalui jargon ‘Ngaku NU Wajib ber-PKB’, Kyai yang selalu berpakaian sederhana ini juga mengajak para santri (warga NU) untuk mulai merubah mindset yang tadinya hanya berkutat pada belajar dan mengajar menjadi lebih sadar dan berperan dalam kancah politik. Ide tersebut sudah tak terhitung berapa kali beliau sampaikan baik melalui ceramah, seminar, atau tulisan. Beliau juga tak henti-henti mencoba memahamkan para santri bahwa satu kebijakan dan regulasi dari pemegang kekuasaan jauh lebih berpengaruh daripada fatwa-fatwa para ulama. Maka dari itu, seorang santri yang terjun ke politik agar bisa menetapkan kebijakan yang maslahat tidak kalah penting dari seorang santri yang menjadi pendakwah atau ulama

KESIMPULAN

Setelah melihat sosok dan gagasan dua tokoh di atas, saya rasa keduanya memiliki setidaknya dua irisan yang sama; melek terhadap politik dan fokus kepada pengembangan SDM di era modern. Meskipun jika kita cermati keduanya juga memiliki perbedaan corak keberislaman antara islam tradisional dan islam modern, hal itu tidak menutup fakta bahwa mereka adalah alumni Azhar hebat yang telah berkiprah di masyarakat luas.

Maka menurut saya keduanya adalah contoh Azhari muda yang sukses mengharmonisasi antara ilmu keislaman (ukhrawi), ilmu umum (duniawi), dan ilmu sosial. Perpaduan itulah yang menjadikannya memiliki gagasan-gagasan segar dan peran di masyarakat luas. Tentu mereka hanya dua contoh dari alumni-alumni lain yang telah berperan luas entah menjadi politisi, pembisnis, atau apapun itu. Hanya saja jika dibanding seluruh alumni secara umum, jumlahnya masih sangatlah sedikit.

Pada akhirnya, gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh dua tokoh di atas hanya sebuah tawaran saja, bukan sebuah paksaan. Akan tetapi, ada baiknya bagi para calon alumni Al-Azhar untuk mulai merenung ‘mau dibawa ke mana diri kita ke depannya?’. Sependapat dengan KH Imam Jazuli dan Ustadz Muhammad Elvandi, para Azhari kedepannya harus lebih berperan di masyarakat, agar para Azhari kelak dapat menjadi role-model dalam membangun masyarakat yang maju, moderat, dan berdaya saing tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *