Judul buku: Falsafah Hidup: Memecahkan Rahasia Kehidupan Berdasarkan Tuntunan Al- Qur’an dan As-Sunnah
Penulis: Prof. Dr. HAMKA Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit: 1940 (Pertama terbit), 2015 (Republika Penerbit) Tebal buku : 428 halaman
ISBN: 978-623-279-034-6
Kategori: Keagamaan / Muslim / Refleksi / Nonfiksi
Sinopsis
Sering kita lihat setiap pagi, banyak orang berangkat ke tempat mereka mencari nafkah, dan hal ini dilakukan hampir setiap hari. Karena terlalu terbiasa, rutinitas tersebut dapat kehilangan makna mendalam dan terasa “hambar”.
Hal ini dapat terjadi kepada siapa pun, termasuk seorang muslim, ketika keliru dalam memaknai kehidupan. Kesalahan memandang hakikat hidup dapat membuat seseorang merasa hampa meski telah memperoleh hasil dari apa yang ia kerjakan. Dalam konteks inilah, Buya Hamka—seorang ulama sekaligus sastrawan—menulis buku Falsafah Hidup yang menguraikan cara seorang muslim memandang dan bersikap berdasarkan dua pedoman utama: Al-Qur’an dan Sunnah. Buku ini diawali dengan pembahasan tentang fungsi akal yang menjadikan manusia istimewa dibanding makhluk lain ciptaan Allah, dan bagaimana akal berpengaruh besar dalam kehidupan, baik secara individual maupun sosial.
Isi buku ini sebenarnya lebih mengajak pembaca untuk merefleksikan diri, karena banyak tema yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sayangnya diri kita terkadang tertutup oleh tabir kesibukan dan keangkuhan duniawi, sehingga enggan menyadari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan. Ketika direnungkan lebih dalam, hal-hal tersebut dapat mengubah perspektif kita dalam memaknai hidup. Maka dari itu, buku ini dapat membantu menyingkap tabir keegoisan tersebut. Buya Hamka menyampaikan falsafah-falsafahnya dengan cara yang unik, sehingga pembaca dapat menerima secara perlahan pesan demi pesan yang disampaikan olehnya.
Salah satu falsafah yang paling membuka mata adalah pernyataan Buya Hamka:
“Sebagai manusia, kita harus mempunyai kemanusiaan. Jika telah cukup kemanusiaan, walaupun kaya atau papa (miskin), termasyhur atau tidak terkenal, semuanya hanya warna hidup belaka, bukan hakikat hidup. Hakikat hidup ialah tujuan, niat suci dan sederhana itu.”
Falsafah ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Misalnya, seorang influencer dalam bidang edukasi yang menargetkan jumlah pengikut sebanyak satu juta, padahal yang terpenting dari perannya sebagai influencer bukanlah jumlah pengikut yang ia dapatkan, namun banyaknya orang yang terpengaruhi oleh konten edukasi yang ia sebarkan. Jika niatnya benar, orang-orang akan tetap memberikan kesan baik terhadap kontribusinya. Namun jika ia hanya mengejar angka, ia akan terus gelisah meski telah bekerja keras membuat dan mengunggah konten secara rutin.
Kelebihan
- Penguraian yang disertai dengan gaya sastra yang khas membuat pembaca lebih mudah menyerap pesan yang diuraikan oleh penulis.
- Menggunakan cerita sebagai alternatif, sehingga membuat materi terasa lebih hidup.
- Pesan dan nasihat dari Buya Hamka disampaikan dengan gaya bahasa yang lembut, tidak tergesa-gesa dan tidak menggurui sehingga hati pembaca dibuat luluh dan dapat diterima.
Kekurangan
- Gaya bahasa yang berbeda dengan gaya bahasa saat ini membuat orang yang pertama kali membaca karya Buya Hamka agak kesulitan memahami materi pada buku ini, sehingga perlu membiasakan diri terlebih dahulu ketika membaca karya Buya Hamka.
- Tidak dicantumkannya referensi kitab hadis (takhrij) sehingga pembaca harus memvalidasi kembali keabsahan beberapa kutipan.
Penutup
Bagi seseorang yang ingin menarik diri sejenak dari cepatnya arus kehidupan, buku Falsafah Hidup karya Buya Hamka dapat menjadi renungan berharga. Falsafah-falsafah yang diuraikan mampu mengingatkan kembali tujuan hidup dan nilai setiap langkah manusia. Meski tebal, buku ini mampu memengaruhi pembaca dan membuatnya seolah tenggelam dalam lautan hikmah dari sang penulis.
Oleh: Yusa Setiawan
Penulis adalah Kru Website Manggala 2025-2026
Editor: Hizbi Dzilarsyi





