Turunnya Al-Qadr di Meja Guru Sariroh

Turunnya Al-Qadr di Meja Guru Sariroh
Dok. Manggala

“Kau tahu, Nong, kenapa orang macam dirimu kusebut murtad?” Daneswara tak tampak gundah. Santai saja ia ucapkan kalimat itu sambil memutar bungkus rokok yang berada di tangannya: dengan jari telunjuk sebagai pemutar, ibu jari menahan sisi kiri bungkus rokok, sementara jari tengah menahan sisi lainnya, agarnya tetap terputar dan dalam putaran.

“Gerangan apa yang menjadikan guru Bahasa Indonesia yang menutup auratnya dan melaksanakan lima sembahyang wajib seperti saya murtad? Tapi usah terlalu dipikirkan oleh Bapak akan cara menjelaskannya. Saya mengenal Bapak dari tulisan-tulisan. Agaknya, adalah bisa jadi benar saya murtad jika menuruti sikap-pemahaman ekstremis anda itu, Pak.”

Sebenarnya, mendengar murtad cukup menjadikan telinga di balik kerudung bergaya khas aktivis Partai Keadilan Guru Sariroh sedikit tertarik menegang. Namun, melihat Daneswara yang berada di seberang mejanya begitu santai, urung ketegangan itu dibiarnya tersebar ke sekujur tubuh; Guru Sariroh tetap pada kegiatannya—mengoreksi kertas ujian murid-murid kelas dua belas—dengan sedikit gerakan tambahan: menatap sekilas Daneswara dengan menarik ke atas bola matanya (guna menghindari kacamata yang menempel sedikit turun pada hidungnya), kemudian mengembalikan pandangan ke arah kertas ujian yang sedang ia periksa, dan melancarkan jawaban terdiplomatis yang bisa ia berikan sebagaimana yang termaktub pada dialog yang berlalu.

Daneswara beranjak dari sandaran kursinya, menyondongkan badan ke arah Guru Sariroh. “Oh, kau mengakuinya, Nong?”

“Dengan catatan: jika dari sudut sikap-pemahaman anda yang terkadang ekstremis,” tukas Guru Sariroh meluruskan.

“Tidak-tidak-tidak, kau mengerti bagaimana cerita memberi pengaruh, Nong, kau mengerti! Dan dosa lebih berat bagi mereka yang mengerti.”

Guru Sariroh kini membiarkan ketegangan berjalan pelan. Ia meletakkan kertas ujian yang sedang diperiksanya di atas meja. Mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan ke wajah Daneswara. Tak berkata apa pun dari patahan kata—hanya diam dan sedikit dongakan kepala, menantang Daneswara melanjutkan ucapannya.

Melihat isyarat yang diberikan, Daneswara tergugah, ia siap memasang barikade pertahanan untuk pernyataannya, “Mengabaikan aspek rahmat Tuhan. Kau melakukan itu, Nong! Kau sadar! Kalian melakukan itu! Mencoret kertas, memberi catatan, lantas berkata, ‘Cerita harus dramatis agar memukau pembaca.’ Untuk kemudian menjadikan karya tersebut sebagai bagian dari contoh karya yang buruk isi lagi bobrok pernyataan. Adalah kezaliman bagi yang sedikit mengerti. Adalah kemurtadan bagi yang ahli.”

“Saya kira anda berlebihan, Pak!” Guru Sariroh membalas. “Tapi–”

“Oh, sebuah pengakuan lagi?” Daneswara memotong tak sabaran.

Guru Sariroh menarik tipis kedua ujung bibirnya dengan tidak sama rata, juga menggelengkan tipis kepalanya; tak merasa cukup, ia menutup responsnya dengan dengusan tersinis yang bisa ia denguskan.

“Tapi, tolong jangan dipotong, bisa anda bacakan lagi draf tulisan yang anda kirimkan pekan lalu itu?” kata Guru Sariroh. Sekilas ia mengangkat telunjuknya, mengarahkannya pada draf tulisan milik Daneswara di ujung meja.

Mulut Daneswara setengah terbuka, tak percaya apa yang telinganya tangkap, lantas berkata, “Kau lupa, atau belum membacanya, Nong?”

“Lupa, Pak. Ada beberapa bagian yang perlu saya pastikan.”

Tampak tak terima, Daneswara mengerutkan alisnya. Namun sebelum protes berkepanjangan Daneswara dilayangkan, Guru Sariroh menahan dengan berkata, “Cukuplah penjelasannya dengan anda melihat tumpukan gila kertas ujian ini. Sebabnya saya lupa, dan sebabnya saya hanya masih ‘mengira anda berlebihan’, belum memastikannya.”

Daneswara membuang napas berat panjang yang sengaja betul ia perdengarkan.
Tak begitu peduli, Guru Sariroh menyela, “Sudahlah, sila ambil drafnya, Pak, sila… dan mulai bacakan.”

“Sialan.” Daneswara membuka bungkus rokok yang sedari tadi ia mainkan, mencomot sebatang rokok dari kotak itu.

Melihat apa yang terjadi, naik pitamlah Guru Sariroh, “Jaga bahasa dan selipkan lagi rokok anda! Anda tidak sedang bersantai menggunakan celana pendek di kamar busuk anda. Kita. Anda. Sedang berada di sekolah, Pak. SE… KO… LAH!”

Daneswara langsung mengatup rapat mulutnya. Meletakkan kembali rokok sebagai batang ke bungkusnya, dan sebagai bungkus ke meja dengan tergesa. Daneswara langsung kalah untuk kali ini. Ia tersadar bahwa dirinya dan Guru Sariroh tengah berada di sekolah, tepatnya di ruang guru yang lengang dan terhias sinar temaram senja yang masuk melalui jendela-jendela. Perkataan Guru Sariroh menyadarkan jiwa bermoral yang Daneswara elu-elukan ia miliki.

Demi menuruti dua keinginan ([1] keinginan Daneswara mendebat Guru Sariroh perihal draf tulisan Daneswara, yang draft itu tengah diminta oleh Guru Sariroh agar dibacakan oleh Daneswara [2] dan keinginan Guru Sariroh agar dibacakan draf tulisan Daneswara, yang perihalnya Daneswara ingin mendebat Guru Sariroh), bersegeralah Daneswara mengambil kasar draf bermap coklat di ujung meja.

“Baiklah, kubacakan drafnya, Nong.”

“Ah, iya, adalah waktu dan tempat saya berikan sepenuhnya, Pak.”

“Menceritakan seorang pemuda, Nong. Sebut saja Aku. Bahwa Aku, hampir mati pada malam Al-Qadr yang agung.”

“Sebentar, izin saya ambil sebagian waktu dan tempat yang telah kuberi, Pak. Apa judul untuk cerita anda? Al-Qadr?” Guru Sariroh menjeda dengan ucapan dan gerakan ringan tangannya yang mengambil utuh fokus Daneswara.

“Untuk sementara, begitulah, Nong: ‘Al-Qadr’, karya Daneswara.”

“Ah, adalah begitu rupanya. Oke-oke, sila dilanjut, Pak.”

“Baik,” Daneswara mengangguk sigap. “Ke-hampirmati-an Aku disebabkan penyakit yang menimpanya sejak beberapa hari ke belakang. Oleh karena sebab penyakitnya, Aku begitu bersedih; tak mampu tubuhnya setuju dengan semangatnya tuk beramal maksimal di hari-hari akhir Ramadan. Malam ketika Aku hampir mati adalah malam 27, malam ganjil, malam Jumat.”

“Untuk menjabarkan dengan detil kejadiannya secara kronologis adalah seperti ini: Pertama, Aku sakit tepat Maghrib malam 21. Aku awalnya hanya menderita dehidrasi. Aku tidak sahur, kepala terasa ringan saat berbuka, tenggorokan sangat kering dan tubuh Aku bergemetar halus. Kedua, hari-hari berikutnya Aku jalani seperti biasa—siang bekerja sangat keras, malam beribadah sangat gagas—kecuali Aku harus menahan pusing hebat di kepalanya. Ketiga, tubuh Aku kian hari tak kunjung membaik, malah semakin parah. Keempat, malam 27 adalah puncaknya, tak mampu lagi Aku berdiri; duduk pun macam sebuah cara mempercepat kematian. Aku hanya mampu merebah dan menekuk lemas badannya.”

“Keinginan dan semangat untuk beramal pada penghujung Ramadan adalah karunia yang didambakan setiap insan yang lurus, termasuk Aku. Dambaan itu akan berubah menjadi kepedihan bila mana diiringi dengan kering tenggorokan yang tak terpuaskan, kepala yang terasa seperti ingin terlepas dan napas yang harus ditarik dengan susah payah. Malam yang kelam bagi Aku. Aku kini berbaring di barisan paling belakang masjid kampung, berlapis selimut dan getaran badan. Mulutnya mengucap ringan—sangat ringan—permohonan maaf kepada Tuhan yang mencintai pemaafan.”

“Seakan tak cukup kelam malam yang dilalui Aku, seorang jamaah tetap masjid kampung—sebut saja Dia—yang tadinya khusyuk mengaji di barisan depan, berlagak dan menganggap bahwa malam ini, dan masjid ini hanyalah diperuntukkan bagi yang beribadah dengan semangat. Aku yang hanya mampu berbaring sembari mengucapkan lirih permohonan ampunan kepada Tuhan adalah objek sempurna bagi Dia dalam perlagakan tingkah rusuh yang ia rencanakan. Dia menendang Aku tepat di punggung, setengah keras dan ber–”

“Dia berbuat apa? Tendangan?” Lagi, Guru Sariroh menjeda.

Daneswara membalasnya dengan anggukan gusar. Bukan saat yang tepat untuk menyumpah dan mendebat Guru Sariroh, diriku sedang bercerita, pikir Daneswara.

“Oh, begitu, maafkan, saya mencuri sedikit untuk mengecek sisa lembaran kertas ujian. Sila dilanjut, Pak.”

Baiklah.

“Dia menendang Aku setengah keras dan berucap: ‘Berani kau menodai keagungan malam ganjil Ramadan? Aih….’ Dia memulai aksinya. Aku meringis. Demi Tuhan! Aku tak lagi berkekuatan. Untuk sekadar menahan tubuhnya dengan satu siku, dan memutarkan arah punggunya sebagai bentuk protes pun tak lagi Aku berdaya. Aku hanya mampu mengecilkan ringkukan badan dan menguatkan harapan dalam permohonan ampunan kepada-Nya. ‘Allahumma innaka afuwwun tuhibbu al-afwa fa’fu ‘anniy… allahumma innaka afuw–’ Dug. Satu lagi tendangan mendarat di punggung Aku. ‘Hoy, kau tidak malu? Tuhan melihatmu, Boi! Malu…, Boi, malu….’ Dug. Tendangan terakhir mendarat dengan lebih pelan, Dia tidak lagi fokus pada tendangannya. Dia terpikirkan hal lain. Aku bernapas berat dengan sedikit lebih lega, berharap tak ada lagi gangguan. Air mata keluar karena sakit kepala juga kesedihan tak tertahan. Tetiba…”

“Tetiba Dia datang,” Daneswara berkedip cepat dan menajamkan pandangan, tak disangka Guru Sariroh benar-benar keterlaluan memotong ketiga kalinya, “…membawa kitab berisi Kalam Tuhan yang tadinya Dia pergunakan untuk membaca di barisan depan. Dengan begitu Dia membaca sangat keras, suaranya jelek, benar-benar mengganggu Aku yang tengah sekarat. Begitu, kan, Pak?” Guru Sariroh merapel kejadian panjang dengan singkat, memutus kesempatan Daneswara memamerkan kelihaiannya memberi deskripsi kesakitan yang dialami tokoh Aku.

“I-iya, Nong, adalah begitu.” Terkejut bahwa potongan Guru Sariroh bukan potongan yang menyebalkan. Guru Sariroh telah mengingat potongan cerita!

“Kemudian, Aku yang hampir mati menjadi tak hampir mati: Aku mati di pagi harinya.” Lanjut Guru Sariroh.

Daneswara tersenyum, memberikan anggukan persetujuan, bahagia nian hatinya melihat Guru Sariroh mengingat ceritanya.

“Dia, juga mati di pagi harinya, terpleset di kamar mandi masjid kampung.” Kalimat yang satu ini, Guru Sariroh ucapkan dengan menaikkan kedua alisnya, meminta persetujuan Daneswara. Daneswara, sekali lagi, mengangguk memberi persetujuan.

“Berarti usah kulanjutkan ceritaku, Nong? Kau berarti juga mengetahui bagaimana kemudian Aku dan Dia menghadap Tuhan. Dan tidak seperti penutup usang pada cerita-cerita lain, keduanya, Nong; Aku dan Dia; mereka masuk surga.”

“Benar, adalah cukup sekiranya waktu anda bercerita, Pak. Saya mengingat bagaimana cerita ini berakhir. Sangat mengganggu. Namun ternyata kertas-kertas ujian ini mengganggu saya dari hal yang mengganggu. Sehingga adalah perlu bagi saya mengingat kejadian di masjid kampung dengan pembacaan anda.”

Daneswara manggut-manggut mendengar apologi Guru Sariroh terkait permintaannya mengulang cerita dan pemberhentiannya terhadap dirinya yang sedang bercerita.

“Tapi, seperti yang sebelumnya saya nyatakan, saya tidak setuju bagaimana cerita ini ditutup. Dan kali ini… dengan yakin saya katakan… adalah berlebihan mengecap ketidaksetujuan saya sebagai tindak laku kemurtadan.”

Daneswara berhenti memanggut; memandang lebih lekat Guru Sariroh. Kemudian dengan gigi yang terlihat sedikit, ia tersenyum.

“Lanjutkan, Nong, aku tahu kau mengerti tujuanku. Namun apa pembelaanmu?”

“Sebelum saya jawab, adalah bacaan Kalam Tuhan atau ‘ajakan kebaikan’? Yang mana yang anda pergunakan sebagai juru selamat bagi Dia?”

“Kebaikan apa pun, Nong… kebaikan apa pun….” Daneswara merasa bijak dengan jawabannya, naik turun dibuatnya bahunya.

“Adalah cerita anda, dan anda sebagai penulisnya telah membangun ketegangan moral terhadap perusuh di cerita itu. Berani sekali anda? Mencabut hukuman baginya di akhir cerita. Konflikmu, Pak… runtuh seketika.”

“Persetan, Nong, dengan konflik.”

“Bagaimana anda bisa berkata begitu???” Kali ini urat di kedua penghujung jidat Guru Sariroh terlihat.

“Cerita anda juga telah kehilangan daya moral di aspek yang paling banyak pembaca sadari, Pak! Anda bertanggung jawab untuk itu! Anda tertuntut untuk tidak memasukkan manusia penendang manusia lain yang tengah sekarat, di malam paling agung, ke dalam surga Tuhan yang suci. Tolong sadari itu!”

“Untuk alasan begitu, Pak…, untuk alasan yang itu. Saya menolak dan menyarankan untuk mengganti penutup cerita anda.”

“Jadikah saya murtad dengan begitu, Bapak Daneswara?”

Mendengar pembelaan panjang Guru Sariroh, Daneswara mengepal menyatukan jari-jari kedua tangannya, mengatur air mukanya seserius yang ia bisa. “Begini Guru Sariroh, adalah yang akan kurentetkan sekadar bentuk pengingat. Diriku mengetahui kapasitas kau, Nong. Dan kapasitas kau kiranya menobatkan perkiraanku menjadi kepastian.”

“Sangat bertepatan memang bila kita jadikan perusuh di malam Al-Qadr itu masuk neraka, Nong. Betapa patut dengan apa yang Dia lakukan. Tendangan, ucapan kasar, dan yang terburuk, suara jelek yang menghantui kondisi sekarat seseorang sepanjang malam. Oh, Guru Sariroh… sempurna sekali cerita pendek dengan penutup seperti itu. Tapi apalah daya penulis sepertiku, Nong, manakala memutuskan bahwa cerita yang kutulis bersinggungan dengan Al-Qadr. Rahmat Tuhan, Nong, adalah berjuta kali lebih luas dibanding penghujung ideal cerita mana pun. Matilah Dia! Namun rahmat Tuhan pasti melingkupinya.”

Daneswara menjeda, dan kali ini Guru Sariroh tak menyela.

“Akuilah, Nong! Akui kemurtadanmu!”

“Saya hanya berjalan di atas kesesuaian, Pak!”

“Kesesuaian yang membuatmu murtad?”

“Kesesuaian yang dengannya sastra hidup dan bertahan.”

“Namun ini rahmat Tuhan, Nong, jangan kau bermain bara di tanganmu.”

“Beberapa bara memang harus dipegang agar kesesuaian tak menjadi barang murah, Pak.”

“Begitu kau menjalani hidup?”

“Ya, begitu.”

Di antara mata yang enggan saling bertatap, ruang guru benar-benar menjadi khidmat. Tak ada jawaban. Tak ada lagi yang dipertentangankan. Kedua tokoh utama sedang meresapi dan menikmati perenungan.

Kekhidmatan yang menetap berangsur pergi ketika azan Maghrib berkumandang dan Guru Sariroh beranjak berdiri bersiap pergi.

“Saya mau pulang, dan melakukan sembahyang. Agarnya kemurtadanku mungkin berkurang,” ucap Guru Sariroh memasukkan kertas-kertas ujian ke tas ranselnya.

“Aaah akhirnya! Sebuah pengakuan!”

“Dengan catatan… dengan catatan….” Guru Sariroh tersenyum, dan yang satu ini bukan senyuman sinis, “Sesuaikan penutup cerita anda, Pak.”

“Atau mungkin tidak begitu, Nong?”

Guru Sariroh tidak menjawab, ia berjalan keluar ruang guru, menyisakan keheningan dan Daneswara bermesra manja.

Daneswara tetap duduk di sana, memutar kembali bungkus rokoknya.

Akuilah, Nong, akuilah….

 

Oleh: Muhammad Alkindi Badruzaman

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Manggala 2025-2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *