Fakta yang Bersuara: Penerapan Sastra dalam Mengolah Fakta sebagai Kritik guna Menjaga Citra Masisir

Dok. Manggala
Dok. Manggala

Pendahuluan

Mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir, yang sering kita sebut dengan Masisir memiliki jumlah yang sangat besar. Semakin besarnya minat calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar – dengan melihat data yang masuk ke KBRI – maka ledakan populasi Masisir akan sejalan dengan hal tersebut. Terlebih dengan datangnya mahasiswa baru tahun 2025.

Jumlah yang banyak akan meningkatkan potensi permasalahan moral, tak terkecuali di lingkungan Masisir. Hal ini selaras dengan teori Social Disorganization Theory yang menyatakan bahwa lingkungan masyarakat yang padat dengan mobilitas tinggi akan meningkatkan risiko kejahatan atau penyimpangan sosial karena norma dan kontrol sosial melemah. Pada kondisi seperti inilah media informasi berfungsi untuk mengontrol situasi sosial. Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Musthafa Abd Rahman salah satu senior wartawan kompas ketika ditanya oleh salah satu anggota forum IJMA (Ikatan Jurnalis Media Masisir) tentang fungsi media. “Salah satu fungsi media adalah kontrol sosial,” jawab pria yang berpengalaman meliput di wilayah Timur Tengah tersebut.

Namun, di antara banyaknya permasalahan moral yang terjadi di kalangan Masisir, sering kali terdapat isu permasalahan yang mencoreng nama baik Al-Azhar, bahkan bertentangan dengan aturan syariat Islam dan tentu hal seperti ini tidak dapat dibiarkan. Hal ini membuat media informasi menjadi bimbang dalam mempublikasikan kritik kepada khalayak publik: antara mempublikasikan kritik tersebut – yang dapat merusak citra Masisir sebagai mahasiswa universitas Islam tertua, bahkan citra Al-Azhar itu sendiri – atau tidak mempublikasikannya. Namun, apabila berita tersebut tidak dipublikasikan, maka fungsi media sebagai kontrol sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lantas solusi konkret apa yang bisa mengatasi dilema seperti ini?

Berdasarkan permasalahan dan dilema yang terjadi, penulis menawarkan analisis solusi konkret yang dapat diterapkan melalui sebuah program bernama “Suara IJMA”. Program ini memanfaatkan keunikan penyampaian sastra dan luasnya jangkauan yang dimilikinya dalam menyampaikan kritik terhadap Masisir. Oleh karena itu, pada bagian selanjutnya penulis akan menguraikan secara lebih mendalam mengenai relevansi, konsep, dan mekanisme program Suara IJMA sebagai bentuk penerapan sastra dalam menghadirkan kritik yang solutif terhadap realitas Masisir.

Pembahasan

Sebelum masuk pada pembahasan solusi, penulis akan memaparkan perihal sastra beserta fungsi dan keunikannya. Sastra adalah karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medium utamanya mengekspresikan pengalaman, pemikiran, dan perasaan manusia melalui kata-kata yang indah dan imajinatif.

Uniknya, sastra mempunyai ruang yang berada di luar jangkauan ilmiah, atau bisa dikatakan bahwa sastra bisa menembus atau menjangkau apa yang tidak bisa dijangkau oleh ilmiah. Roland Barthes, seorang teoritikus sastra dan kritikus Prancis mengemukakan pandangan bahwa sastra memiliki kemampuan atau ruang makna yang tidak bisa diakses dengan metode ilmiah, sehingga sastra memiliki kebebasan dan keluasan ekspresi dalam menyampaikan sesuatu.

Bermuala dari keunikan sastra inilah penulis memiliki solusi konkret dalam memecahkan masalah yang sudah dipaparkan di pendahuluan. Ketika media merasa bimbang antara menjalankan fungsi sebagai media informasi atau menjaga citra Azhari, maka mengolah kritik melalui sastra menjadi solusi. Kritik dapat berbentuk cerpen, puisi, ataupun bentuk sastra lainnya tanpa meninggalkan poin kritik dan aktualitas informasi.

Hal ini dapat menjaga citra mahasiswa serta Universitas Al-Azhar apabila kritik yang disampaikan dalam bentuk karya sastra tersebut sampai kepada pihak eksternal. Namun, apakah fungsi media sebagai kontrol sosial akan tetap berfungsi jika kritik tersebut berbentuk sastra? Tentu, bukan hanya fungsi media yang akan berjalan dengan baik,  penulis yang menyampaikan kritik melalui bentuk karya sastra juga akan lebih mudah menanamkan pesan moral agar pembaca tidak terjerumus pada kesalahan yang sama. Pesan itu disampaikan tanpa bahasa yang menggurui, melainkan dengan ungkapan yang menyentuh dan dapat diterima oleh hati.

Sastra memiliki keluasan kiprah dalam menyentuh pembacanya, sehingga pembaca bukan hanya mendapatkan informasi, namun juga mendapatkan refleksi diri agar tidak terjerumus kepada hal yang sama, kenapa? Bukankah sesuatu yang disampaikan melalui sastra bisa lebih cepat dipahami dan diresapi oleh hati? Bahkan, tidak sedikit karya sastra yang hanya dapat dipahami melalui hati dan akal, tanpa mampu diungkapkan kembali dengan kata-kata. Demikian pula dengan solusi yang ditawarkan penulis; melalui kedalaman makna yang terkandung di dalamnya, sastra mampu menyampaikan informasi, kritik, dan pesan moral secara bersamaan dengan cara yang halus namun mendalam.

Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu media informasi Masisir, Wawasan, pernah memuat sebuah kritik yang cukup sensitif dalam bentuk cerpen berjudul “Babi Ngintip.” Sebuah cerpen yang menyampaikan kritik terhadap isu amoral yang terjadi di kalangan Masisir namun disampaikan dengan cara yang melindungi citra Azhari tanpa menutupi realitas kejahatan yang terjadi. Cerpen ini mengandung analogi yang mendalam, membawa pembaca pada alur yang merefleksikan realitas sosial melalui tokoh-tokoh fiktif yang seakan tidak berasal dari kasus nyata, padahal menyiratkan kritik terhadap sebuah isu yang terjadi.

Melihat komentar dari unggahan kritik tersebut, terdapat tanggapan positif pembaca yang menyampaikan kedalaman analogi yang disampaikan dalam cerpen tersebut: “Analoginya keren!!” Hal Ini menunjukan kepuasan pembaca terhadap realitas berita yang dibalut dengan sastra. Namun, penulis menganalisa bahwa kritik dalam bentuk cerpen ini tidak begitu tersebar luas di kalangan Masisir, padahal kasus ini merupakan pelajaran moral yang besar terhadap setiap individu Masisir.

Kondisi ini menggambarkan adanya kesenjangan antara kekuatan kritik sastra yang mampu menggugah kesadaran dan rendahnya penyebaran pesan di lingkungan Masisir. Karena itu, perlu dihadirkan solusi konkret yang dapat menjembatani daya kritis sastra dengan efektivitas media informasi sebagai sarana kontrol sosial. Terlebih, dari seluruh media informasi Masisir, hanya Wawasan yang mempublikasikan kritik tersebut. Apakah media lainnya memilih untuk bungkam terhadap peristiwa ini? Penulis tidak beranggapan demikian, melainkan melihat adanya dilema antara menjaga citra keazharian dan menjalankan fungsi media informasi. Dalam situasi seperti ini, kritik berbentuk sastra melalui Suara IJMA menjadi jalan tengah yang efektif untuk menyeimbangkan keduanya.

Kemudian, setelah penulis menganalisis bahwa setiap media informasi Masisir memiliki keunggulan masing-masing, ada media yang unggul dalam memperoleh data dan informasi yang valid, sementara ada pula yang lebih menonjol dalam mengolah bahasa dan mengekspresikannya secara estetik melalui karya sastra. Maka, dengan terbentuknya IJMA diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengintegrasikan kedua kekuatan tersebut, sehingga kritik dalam bentuk sastra dapat terimplementasi dengan lebih luas dan berdampak.

Ketika muncul isu sensitif di kalangan Masisir, IJMA akan bergerak secara kolektif dalam merumuskan kritik atas isu tersebut, dengan membagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing media. Setelah kritik tersebut diolah menjadi sebuah karya sastra, publikasi dilakukan secara serempak sebagai satu karya bersama. Langkah ini menunjukkan bahwa ketika IJMA bertindak secara bersatu, terdapat pesan dan informasi serius yang ingin disampaikan.

Selain itu, penyampaian kritik melalui karya sastra mempermudah penyebarannya, sehingga fungsi media sebagai pengontrol sosial dapat berjalan dengan baik tanpa mencoreng citra Universitas Al-Azhar maupun paraAzhari di mata publik eksternal. Inilah yang penulis maksud dengan “Suara IJMA.”

Dengan hal tersebut, fungsi media sebagai kontrol sosial tetap berjalan dan citra Masisir pun akan tetap terjaga dengan baik. Lalu, jika kritik dalam bentuk sastra ini sampai ke khalayak eksternal, Masisir tidak akan menjadi perbincangan yang panas. Karena pembaca eksternal menganggap sastra ini hanya sebuah karya saja tanpa mengetahui adanya kritik dalam karya ini yang disampaikan oleh media informasi terhadap kasus sensitif yang terjadi.

Namun, Perlu ditekankan bahwa esai ini tidak bermaksud mendorong praktik penyamaran fakta atau pembatasan penyampaian hasil investigasi. Gagasan “Suara IJMA” hadir sebagai alternatif penyampaian kritik yang mempertimbangkan dilema antara menjaga citra Azhari dan menjalankan fungsi media sebagai kontrol sosial. Dengan kata lain, pendekatan sastra yang ditawarkan bukan untuk menggantikan kerja jurnalistik yang faktual, melainkan untuk melengkapi dan memperkuatnya agar pesan kritik dapat tersampaikan secara lebih efektif dan tetap proporsional di tengah sensitivitas isu yang terjadi di kalangan Masisir.

Penulis: Galih Azmi Moh Yasin

Editor: M. Alkindi Badruzaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *