Ruangan di Lantai Sebelas

“KITA DIJEBAK! SIALAN!” Pria gendut itu sudah mengatakan hal yang sama sejak lima menit yang lalu.

Seketika keheningan dan ketegangan menyelimuti ruangan ini. Seseorang baru saja mati tertembak peluru yang entah dari mana, tepat setelah ia melanggar satu-satunya aturan di ruangan tersebut:

JANGAN MENGHUBUNGI SIAPA PUN.

Kami berada di suatu ruangan di lantai sebelas. Ruangan luas dengan cat putih itu membuat suasana terasa lebih terang. Jendela besar yang mengarah ke taman kota menambah kesan hangat. Sinar matahari yang terpancar dari luar menambah warna pada ruangan bercat putih itu. Tata letak ruangan itu terlihat seperti ruang tunggu, dengan meja panjang yang dikelilingi sofa-sofa empuk mahal, lengkap dengan vas dan tumpukan majalah edisi terbaru—yang sudut halamannya sudah terlipat, menandakan majalahnya sudah dibaca beberapa kali. Di salah satu pojok ruangan, terdapat bar kecil dengan mesin kopi dan deretan gelas kaca. Di sebelahnya, tampak satu-satunya pintu di ruangan itu yang terkunci. Tak ada jalan keluar.

Aku bersama tiga orang dewasa lainnya saling bertatapan. Ulah siapa ini?

Tak lama, anak perempuan—yang sejak tadi berdiri bersama ibunya—mendekati mayat itu dan berkata, “Woah! Keren! Tertembak seperti adegan dalam film!”

Anak ini aneh.

Sunyi. Hanya terdengar jarum jam yang berdetak dan hentakan kaki pria berkacamata kotak. Aku akhirnya memecah kesunyian dengan mengutarakan pendapatku, “Resepsionis di lantai bawah tadi berpesan pada kita semua untuk tidak menghubungi siapa pun di dalam ruangan ini tanpa menyita ponsel kita.”

“Ya, kita sudah masuk jebakan dan aku rasa ada sesuatu yang harus kita lakukan untuk keluar dari ruangan ini,” lanjutku.

“Apa menurutmu, bocah sok tahu? Satu-satunya cara untuk keluar dari sini adalah dengan menghubungi polisi, tapi nyawa kita taruhannya!” Si Pria Gendut menanggapi.

“Aku rasa kita harus menyelesaikan teka-teki untuk keluar dari ruangan ini, seperti dalam film Escape Room!” Semua orang menoleh dengan dahi yang mengerut.

“Ayo semuanya! Kita cari angka acak atau apapun yang bisa menjadi petunjuk!” Aku berjalan menuju tumpukan majalah di atas meja untuk mencari petunjuk.

“Hei, bocah sok tahu! Jangan samakan kehidupan nyata dan khayalan orang bodoh!” Telunjuk Si Pria Gendut menusuk udara di depan wajahku. Rahangku menegang; orang ini benar-benar menyulut emosi.

“Eum, a-anu…” Kali ini Si Kacamata Kotak yang berbicara. Dari tadi dia hanya memerhatikan langit-langit ruangan dan empat buah kamera pengawas di setiap sudutnya dengan alis mengerut, seolah bertanya: siapa yang mengawasi kita disini?

Si Kacamata Kotak berkata, “Bagaimana kalau kita memperkenalkan diri masing-masing dan menceritakan alasan kita datang ke tempat ini. Mungkin dari situ kita bisa mendapatkan titik terang.” Ide bagus!

“Aku Karla! Umurku delapan tahun! Aku kesini sama ibu!” Anak itu satu-satunya makhluk hidup yang tidak terkejut setelah kejadian penembakan.

“Saya Maria, ibunya Karla. Saya datang untuk menemui Pak Surya. Kami mau membicarakan jasnya yang akan saya perbaiki.”

“Pak Surya? Saya juga diminta datang untuk membicarakan dekorasi pernikahan anaknya!” Si Kacamata Kotak menyaut.

“Namamu siapa, kak Kacamata Kotak?” Karla yang bertanya.

“Ah, iya. Namaku Bima.”

“Kalau bapak Gendut?” Karla bertanya sambil menoleh ke Pria Gendut.

“Anak kecil jaman sekarang tidak sopan, ya. Bu Maria, tolong didik Karla dengan benar!”

Bu Maria hanya melirik sekilas ke Si Pria Gendut.

“Ibunya pun sama saja ternyata.”

“Namaku Handoko. Aku teman lama Surya dan mau menemuinya untuk urusan bisnis.”

Giliranku. “Salam kenal, semua. Saya Raka. Pak Surya itu dosen pembimbing saya; kebetulan hari ini diminta beliau datang untuk jadwal bimbingan.”

“Kita semua dijadwalkan datang di waktu yang sama untuk urusan yang berbeda-beda, apa rencana Pak Surya?” Bima memulai diskusi.

“Tunggu sebentar! Mayatnya nggak dibuang?” Karla yang bertanya.

Semua terdiam. Buntu.

***

“Aku lahir tanpa suara, namun kadang membuat semua orang terdiam. Membawa kabar. Kadang manis, kadang pahit. Siapakah aku?”

Sejenak, ruangan itu hening. Pandangan kami semua tertuju pada asal suara: sebuah pengeras suara di pojok ruangan.

“Pecahkan teka-teki ini untuk keluar dari ruangan.”

Handoko menghembuskan napas panjang sembari mengusap kasar wajahnya.

“Cih, benar, kan kataku? Khayalan orang bodoh itu terjadi padamu. SELAMAT BERMAIN, SEMUANYA!” Aku melirik Handoko.

“AAARRGGHH! SURYA SIALAN! APA MAUMU? HAH!”

Let’s just be cool, Man. Let’s be cool.” Kata Karla sambil menatap Handoko.

Karla belajar bahasa Inggris dari film khayalan orang bodoh, Pak” lanjutnya.

Pak Handoko hanya melirik sinis dan dibalas Karla dengan mengangkat bahu.

Hari mulai gelap, lampu dari gedung-gedung lain mulai dinyalakan bersamaan dengan Handoko yang sudah mulai kehilangan kewarasannya. Sejak dua jam yang lalu ia sibuk memukul kaca jendela dengan segala macam benda. Tapi tak ada satupun yang pecah, bahkan retak pun tidak.

Semua tampak berpikir keras.

“Lahir tanpa suara dan membuat semua orang terdiam? Pasti hal yang mengejutkan.”

“Kadang manis, kadang pahit. Seperti kejujuran,” lanjutku.

“Ibu, Karla lapar.”

“Disini tidak ada makanan, Karla.”

“Tapi ada kompor, Bu.”

“Bahan masakannya tidak ada.”

“Itu? Sepertinya belum busuk, belum ada lalat dan belum bau, Bu. Ruangan ini juga ber-AC.” Karla menunjuk ke arah mayat yang tergeletak di pojok ruangan.

Kata-kata yang keluar dari mulut Karla terlalu gila. Sementara yang lain tak menggubris pernyataan polos namun mengerikan dari mulut anak itu. Entah mengapa, mungkin mereka sibuk memikirkan jawaban dari teka-teki tadi atau sibuk memikirkan nyawa mereka. Yang pasti, saat ini Karla sedang sibuk mengamati mayat di pojok ruangan.

“Mayat bukan untuk dimakan, Karla,” Bima menyaut.

“Tapi bisa saja, kan, kalau kita mau. Itu fakta, Kak,” jawab Karla.

“Tunggu, FAKTA!” Bima berteriak.

“Kau mulai gila, Bima?!” Kesabaran Pak Handoko sepertinya memang sangat tipis, jelas-jelas dia yang mulai kehilangan akal sehatnya.

“Lahir tanpa suara dan kadang membuat seseorang terdiam, kadang pahit dan manis. Itulah fakta!”

***

Dinding yang terletak di seberang pintu masuk perlahan terbuka.

Tunggu.

Bukan dinding itu yang kami harapkan terbuka.

“Apa lagi ini?” Handoko mengatakannya setengah berteriak.

Kami semua ragu-ragu berjalan masuk ke dalam ruangan yang baru saja terbuka itu. Ruangan itu sangat sempit dengan bau aneh yang menusuk hidung. Dengan pencahayaan redup, aku berusaha mengenali bentuk ruangan itu. Samar-samar, aku melihat ada satu kasur dengan lampu besar diatasnya.

‘Klik’

Lampu ruangan itu menyala. Semuanya terlihat jelas. Ruangan ini jauh berbeda dengan ruangan sebelumnya. Ini seperti ruang operasi. Tepatnya seperti ruangan sehabis melakukan operasi besar dengan noda darah berceceran di lantainya. Rak alumunium di sebelah kasur pasien itu penuh dengan kassa berdarah. Di salah satu sisi ruangan, terdapat lima drum besar yang berkarat. Sepertinya, itulah sumber bau tak sedap ini.

“Pasti operasinya gagal dan orangnya meninggal,” kata Karla tepat setelah lampu dinyalakan.

“Hei, siapapun kau! Surya! Atau siapapun! Cepat berikan teka-teki selanjutnya!” Handoko berteriak menghadap ke arah kamera pengawas di langit-langit sudut ruangan.

Tidak ada jawaban apapun.

“Eh, di ruangan ini tidak ada pengeras suara.” Kami semua langsung memperhatikan setiap sudut ruangan itu setelah disadarkan oleh Bima. Ya, tidak ada pengeras suara.

“Tapi ada televisi seperti di rumah Karla!” Karla berseru sembari mencoba menyalakan televisi tabung yang terlihat sudah rusak itu.

“Kalau begitu, ayo kita cari petunjuk di sekitar kita!”

Kami semua bergegas mencari apapun yang bisa dijadikan petunjuk, termasuk Karla. Sepertinya anak itu sangat bersemangat menyelesaikan teka-teki kali ini.

“Karla ingin jadi ahli forensik!” katanya semangat.

“Memang Karla lihat siapa, sampai mau jadi ahli forensik?” Aku bertanya iseng.

“Karla suka mayat, kak Raka.”

Pantas saja.

“HEY! LIHAT INI!” Handoko berteriak. Aku menoleh, ternyata ia menemukan alat pemutar kaset suara di salah satu rak alumunium berdarah itu. Pada alat pemutar kaset suara itu terdapat tulisan “PUTAR REKAMAN INI”.

“Sepertinya ini berisi petunjuk,” sahutku.

Handoko menekan tombol PLAY dengan nafas tak beraturan. Tampaknya ia mulai menikmati permainan ini. Tepat setelah tombol ditekan, dinding penghubung ruangan sebelumnya mulai tertutup.

“Handoko Cahyadi…” Kami menoleh, mata Handoko membulat sempurna.

“Bagaimana rasanya melihat orang miskin dengan sukarela memberikan uang padamu karena janji palsu bahwa anaknya akan kembali pulih dari penyakit dengan obat herbal abal-abal?” Handoko menghentikan rekaman.

“HEY! SIAPA DI BALIK SEMUA INI?! DASAR SINTING!” Ia berteriak dengan wajah merah dan suara bergetar ke arah kamera pengawas.

“Anda yang sinting, Pak Handoko.” Bu Maria akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam. Tatapan Bu Maria tajam, arah tatapannya menusuk langsung ke arah Handoko.

“Berikan padaku, rekamannya belum selesai.” Bu Maria merebut alat perekam itu dari Handoko.

“…hanya satu hal yang perlu kau lakukan, Handoko. Terdapat lima drum besar di dalam ruangan. Setiap drum menampung lima macam asam yang berbeda-beda. Tugasmu adalah mencari drum yang menyimpan kunci untuk keluar dari ruangan ini. Kunci itu berada pada drum yang mengandung asam dengan kadar paling rendah. Waktumu lima menit dimulai dari berakhirnya rekaman ini.”

“…jika kau gagal, hujan asam sulfat akan merendam dan membakar kulit orang-orang disekitarmu.”

“… selamat bermain, Handoko. Pilihan ada di tanganmu.” Rekaman itu berhenti. Televisi yang kami kira rusak di sudut ruangan menyala, menampilkan hitungan mundur.

***

“SINTING! SINTING! SINTING!” Handoko berteriak tak karuan.

“Pak, fokus! Hanya ada waktu lima menit untuk keluar dari sini!” Bima berusaha menyadarkan Handoko.

“Ini lima drum yang dimaksud!” aku berteriak. Mereka segera berlari ke arahku.

Drum ini sangat besar, Karla bisa terendam di dalamnya. Drum ini pasti sengaja diisi penuh agar Pak Handoko sulit menjangkau bagian dasar drum ini.

“Pak, di tabung reaksi ini tertulis rumus kimia! Bapak tinggal tentukan mana yang kadar asamnya paling rendah,” kata Bima.

“Hey, kau! Mahasiswa! Mana yang kadar asamnya paling rendah?” Handoko bertanya padaku.

“Pak, saya mahasiswa hukum, saya nggak belajar yang seperti itu.”

Handoko berteriak, suaranya memenuhi satu ruangan. Ia mengacak-acak rambutnya yang sebagian telah beruban. Waktu tinggal empat menit.

“Pak, empat menit lagi kita semua akan dihujani asam sulfat jika bapak tidak mulai mencari kunci itu!” Bima mulai panik.

“AKU TAHU, BODOH!”

Handoko mulai memasukan tangannya ke drum pertama yang menimbulkan sensasi panas terbakar.

Woah, interesting.” Karla berdecak kagum.

Semua orang menunggu tak sabaran, berharap Handoko memilih tabung yang benar. Tangan Handoko berputar mengelilingi tabung reaksi, tapi tangannya gagal mencapai dasar drum.

“AARRGGHH! AKU TIDAK MAU DIBODOHI ALAT PEREKAM SUARA!” Handoko menarik kembali tangannya yang memerah.

“Biarkan saja kita semua mati di sini dan larut bersama asam sulfat! Aku tidak mau mengorbankan diriku demi kalian!”

Sialan. Si Gendut yang angkuh.

“Lagipula, bukan hanya aku yang memiliki dosa. Kalian semua sama berdosanya denganku! Itu sebabnya Surya mengumpulkan kita semua di sini. Dia sedang balas dendam!”

“Dia tahu semuanya!”

Semua terdiam. Benarkah?

***

Lima tahun yang lalu…

“Aku turut berduka, Surya.” Handoko menghampiri Surya yang baru saja kehilangan anak bungsunya.

“Aku selalu merasa sudah mengusahakan segalanya untuk kesembuhan anakku, Raisa, tapi ternyata belum sepenuhnya kuusahakan. Aku merasa gagal, Handoko.”

“Ini semua sudah diatur dalam garis takdir, Surya. Kita tak bisa protes.” Handoko mencoba menenangkan Surya.

“Berhenti menyalahkan dirimu,” lanjutnya.

Mata Handoko menangkap bungkusan kecil di atas nakas.

“I-ini?” Mata Handoko membulat sempurna.

“Aku sampai memberi anakku obat herbal yang selalu kau rekomendasikan pada orang-orang, hahaha.” Surya tertawa kecil, tatapan matanya tetap kosong.

“Tapi tetap saja, Si Bungsu lebih disayang Tuhan,” sambungnya.

Keringat dingin membasahi wajah Handoko, kali ini mulutnya tertutup sempurna. Tak tahu harus berkata apa.

***

Tersisa tiga menit.

“Bagaimana ini?” Suara Bima bergetar.

Kami semua ketakutan. Tak tahu harus berbuat apa. Sementara Handoko malah merebahkan badannya di atas kasur pasien, seolah siap menghadapi kematian.

“Ibu, Karla akan mati disini?”

“Tidak, Karla.”

“Kalau mati, kita mati bersama ya, bu. Nanti kita di surga sama ayah.” Ucapan Karla hanya dibalas anggukan oleh Bu Maria.

Bima menghampiri salah satu drum, tampaknya ia hendak mengeluarkan isi drum itu.

Sayang sekali, bagian bawah drum itu sudah diberi perekat. Bima tak bisa menggulingkan drum itu.

“Pikirkan cara lain!” kataku.

“Karla, ayo pikirkan cara untuk mengambil kunci dari salah satu tabung besar ini!” Bima berseru. Sepertinya dia sudah sangat buntu.

Karla tampak berpikir. Aku sudah menyiapkan diri untuk jawaban absurd yang akan Karla lontarkan.

“Karla tahu!” Bima tampak semangat menunggu jawaban Karla.

“Tidak jadi, Karla ngantuk.” Kekecewaan tampak jelas di wajah Bima. Lagipula, apa yang dia harapkan dari anak umur delapan tahun?

“Harusnya mayat tadi dibawa saja, potongan tubuhnya bisa kita masukan ke tabung untuk eksperimen. Jadi kita tahu mana yang kadar asamnya lebih sedikit”

“Sini deh, kak Raka.” Tangan Karla melambai ke arahku, mengisyaratkanku untuk berjongkok.

“Itu kenapa Karla suka mayat, mereka gak banyak protes dan kadang lebih berguna daripada manusia hidup.”

“Contoh manusia gak berguna itu kayak Kak Bima, hihihi.” Karla berbisik tepat di sebelah telingaku. Aku hanya membalas dengan acungan jempol sambil menahan tawa.

Tersisa satu menit.

Handoko benar-benar serius dengan ucapannya tadi. Ia hanya diam, tidak memikirkan cara keluar. Dia benar-benar siap mati.

Beberapa cara sudah kami lakukan. Dari mencoba menguras tabung, sampai memasukan benda benda ke dalam cairan asam. Hasilnya nihil.

30 detik.

20 detik.

Bima menyuruh semua orang mencari benda untuk menutupi tubuh setebal mungkin dengan kain-kain berdarah yang ada di ruangan itu.

Inikah akhirnya?

10 detik

Si Angkuh Gendut itu malah merebahkan diri di atas kasur pasien. Tak peduli keadaan sekitar yang kacau. Semua sibuk berdoa.

5 detik.

Karla memeluk Bu Maria.

Waktu habis.

“SELAMAT DATANG KEMATIAN!” Handoko berteriak.

Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada hujan, tidak ada asam. Televisi yang awalnya menampilkan hitungan mundur berganti menjadi rekaman kamera pengintai. Kami semua mendekat dengan hati-hati.

“Kau sudah menentukan pilihanmu, Handoko.” Suara dari televisi.

Handoko akhirnya bangkit dari kasur pasien dan menghampiri televisi itu.

Televisi itu menampilkan dua orang anak perempuan berusia sekitar 15 tahun yang diikat di kursi. Mereka berada di ruangan kumuh, seperti gudang tak terpakai. Di atas masing-masing anak perempuan itu terdapat selang yang mengarah langsung ke atas kepala mereka.

“Dua anakmu sudah menyaksikan kesombongan ayahnya,”

“Tidak kah kau sadar bahwa mereka lah orang-orang terdekatmu?”

“Inilah hasil dari pilihanmu. Terimakasih sudah bermain, Handoko.”

Cairan mengalir dari kedua selang itu. Handoko berteriak tak karuan.

“TIDAK! TIDAK! JANGAN!” Handoko berteriak tak karuan. Ia jatuh berlutut di depan televisi, memukul layarnya. Wajahnya dipenuhi ingus dan air mata yang mengalir bersamaan.

“SURYA! MAAFKAN! HENTIKAN ITU!” teriak Handoko putus asa.

Terlambat, dua anak perempuan itu sudah tak bergerak dan selang itu masih mengeluarkan cairan yang entah cairan apa. Handoko telah kehilangan kedua putrinya.

“Aku tidak bisa hidup seperti ini,”

“Lebih baik aku mati.” Handoko mengambil ponsel di sakunya dan mengetik nomor polisi.

“Maafkan aku, Diana.”

Suara tembakan menggelegar, Handoko mati.

Ternyata, ponsel yang kita semua pegang bisa menjadi senjata bunuh diri. Pintu terbuka.

***

Kami memasuki ruangan selanjutnya. Ruangan sempit itu memiliki satu pintu besi besar dan pencahayaannya minim. Satu-satunya sumber penerangan ruangan itu adalah jam digital besar dengan cahaya merah yang menunjukan angka 18.30. Tepat di bawah jam digital itu terdapat satu manekin dengan setelan jas abu-abu kumal dengan banyak noda darah. Tunggu, di saku jas itu ada sebuah kertas yang bertuliskan “Temukan Si Pembunuh”. Alisku mengerut, apa maksudnya?

“Kali ini apa lagi, Surya? Apa salah satu dari kita juga akan kau ancam?” Bima menggerutu seolah Pak Surya ada di hadapannya.

“Cari petunjuk! Aku hanya ingin keluar dari sini secepatnya.” Aku segera berkeliling mencari petunjuk.

“WAH! Ada Karla disini!” seru Karla. Kami semua bergegas menghampiri Karla. Ternyata Karla menunjuk dinding yang ditempeli foto-foto. Di bagian kanan terpajang foto Bu Maria. Di bagian kiri ada foto Karla. Fotoku berada di paling atas sementara foto Bima terletak di paling bawah.

“Apa maksudnya semua ini?” Kami semua tampak berusaha berpikir.

Aku berpikir sembari mengetuk-ngetukkan jariku ke dinding. Tak lama, terdengar suara dari pengeras suara di ruangan itu.

“Setiap manusia memiliki nyawa yang ia jaga. Tapi terkadang, manusia dungu nan egois merenggutnya. Tanpa tahu, nyawa orang yang ia renggut adalah penopang hidup keluarga. Jas ini adalah saksi dari kedunguan.”

Kami bergegas menghampiri jas abu-abu kumal tersebut. Ada robekan di beberapa bagian dan banyak sekali noda darah yang mengering.

“Jas ini sepertinya milik seseorang yang terbunuh karena berkelahi atau korban dari kecelakaan lalu lintas, dan kita harus mencari siapa pembunuhnya.” Aku mengutarakan pendapatku. Dibalas anggukan oleh Bima. Sementara Bu Maria masih saja mengamati jas itu.

“Jas ini… milik suamiku…” kata Bu Maria. Wajahnya dingin, matanya menatap tajam. Tangannya menggenggam erat bagian lengan jas situ. Tak ada raut kesedihan yang terukir di wajahnya.

“Di bagian sini ada inisial namanya yang aku bordirkan.” Ya, tepat di bagian pergelangan tangannya ada inisial J.S.

“Pasti ada petunjuk lain untuk menemukan pembunuh itu.” Aku mencoba meyakinkan Bu Maria.

Aku kembali berpikir sembari menjelajahi ruangan tersebut dan mengetuk dinding yang aku lewati. Tiba-tiba, pengeras suara ruangan itu kembali berbunyi.

“Semua jarum mengarah kepada pembunuh.” Apa maksudnya?

“Ayo berpikir!” Bima berseru, mengajak kita semua berdiskusi.

“Kak Raka sepertinya sudah tahu jawabannya.” Kata Karla.

“Kenapa Karla bisa mikir gitu?” Aku bertanya pada Karla.

“Soalnya dari tadi Kak Raka ngetuk-ngetuk dinding, fokus! Kayak orang pinter kalau lagi mikirin sesuatu.”

Dasar, Karla. Kukira apa.

***

Sudah sepuluh menit kami berdiam di ruangan ini dan tidak ada kejelasan. Semua jarum mengarah ke pembunuh, tapi tak ada satupun jarum di ruangan ini!

“Lihat, jam itu tidak berubah!” Bima berseru. Jam digital di ruangan itu masih menunjukan pukul 18.30

“Pasti ada alasannya,” lanjutnya.

“Karla bosan, ibu.” Mukanya tertunduk lesu.

“Sabar, Karla.” Bu Maria menjawab. Ia terlihat sangat fokus memikirkan semua ini.

“Huft, pembunuhnya Kak Bima.” Perkataan Karla mengejutkan kami semua.

“Hei, Karla! Apa maksudmu?! Dasar psikopat kecil.” Bima jelas marah. Karla telah menuduhnya tanpa alasan jelas.

“Kalau tidak percaya yasudah.” Karla menaikkan bahunya.

Aku bingung, apa yang membuat Karla mengira Bima pembunuhnya?

“Kenapa Karla bilang seperti itu?” Akhirnya aku buka suara.

“Tuh!” Karla hanya menunjuk ke arah dinding yang ditempeli foto-foto kami.

Apa maksudnya?

“Aku mengerti.” Kata Bu Maria.

Bu Maria mulai menjelaskan. “Jam digital menunjukkan angka 18.30, jika kita ubah jam tersebut menjadi jam analog, maka jarum jamnya akan mengarah kebawah semua. Sesuai petunjuk, semua jarum mengarah kepada pembunuh, maka…”

Bu Maria mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

Revolver terarah tepat di dahi Bima.

“B-bagaimana bisa?” Bima gelagapan.

“Huh, ternyata ini alasan resepsionis tadi memberikanku benda ini.”

“Mabuk ketika berkendara dan menabrak seorang pria yang istrinya sedang mengandung?” Bu Maria bertanya dengan nada dingin.

“Rasanya aku ingin mengulitimu hidup-hidup.”

“Maafkan aku, aku-“ Bima tak sempat melanjutkan kalimatnya

‘DOR!’ Sebuah peluru menembus tepat di dahi Bima.

Karla bertepuk tangan kegirangan.

***

Pintu terbuka, ternyata pintu besi itu mengarah pada tangga darurat gedung itu. kami segera menuruni tangga itu dan keluar dari gedung. Meninggalkan tiga mayat di dalamnya. Bu Maria tak banyak bicara dan segera berpamitan. Perpisahan kami begitu singkat. Seolah tak ada kejadian apapun di lantai sebelas.

Aku segera menuju ke mobilku yang terparkir rapi di tempat parkir prioritas gedung ini. Ketika aku hendak membuka pintu mobilku, Karla datang menghampiri dengan berlari kecil.

“Kak Raka!” teriaknya.

“Eh, kenapa Karla?”

“Makasih ya, udah bantuin ibu cari pembunuh ayah.” Aku bingung.

“Karla hafal sandi morse, kakek yang ajarin!”

Aku tertawa kecil, ternyata anak itu membaca ketukanku. Anak ini unik.

“Adik kecil kak Raka pasti sudah tenang di surga.”

“Oh iya, salam untuk Pak Surya dari Karla, ya! Dah, kak Raka!” lanjutnya.

Jika saja adikku Raisa masih hidup, mungkin tingginya seperti Karla.

Oh iya, aku segera tersadar akan sesuatu. Aku mencari kontak rekanku dan menelponnya.

“Sudah selesai, antarkan dua anak itu ke rumah mereka dan bilang pada ibunya, bahwa suaminya meninggal. Jasadnya tak ditemukan.” Aku menutup telepon.

Oleh: Salsabila Firda

Penulis adalah Kru Website Manggala 2025-2026

Editor: M. Alkindi Badruzaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *