As Long As The Lemon Trees Grow adalah sebuah novel yang lahir dari tangan Zoulfa Katouh, penulis berdarah Suriah yang kini berkewarganegaraan Kanada. Melalui karya ini, Zoulfa menyuguhkan sebuah kisah yang mengguncang, bukan dari sudut pandang sejarah atau politik, melainkan dari dalam jiwa manusia yang terkoyak oleh perang. Tokoh utamanya, Salama, adalah seorang gadis muda yang harus bertahan hidup di tengah reruntuhan negaranya sendiri, sambil bergulat dengan luka batin yang tak terlihat, yaitu Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Zoulfa, yang juga merupakan mahasiswa magister farmasi di Swiss, tidak sekadar menarasikan penderitaan Salama. Ia dengan cermat dan menyentuh menyelipkan gejala-gejala PTSD dalam setiap monolog batin tokohnya, menjadikan pembaca tak hanya menyaksikan, tapi turut merasakan guncangan batin yang dialami Salama.
Untuk itu, sebelum memahami lebih jauh kompleksitas karakter Salama dalam As Long As The Lemon Trees Grow, penting bagi kita untuk terlebih dahulu mengurai: apa sebenarnya yang dimaksud dengan PTSD?
Apa itu PTSD?
Sukhmanjeet Kaur Mann, dkk. di dalam salah satu artikel ilmiahnya menyebutkan bahwa PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) merupakan trauma yang terjadi dikarenakan penderita mengalami hal traumatis yang mengancam nyawa, baik secara langsung maupun tidak. Hal ini bisa terjadi karena penderita berada dalam kejadian traumatis tersebut, menyaksikan seseorang mengalami trauma itu, atau juga karena mengetahui bahwa hal traumatis tersebut dialami oleh keluarga dekat atau teman dari penderita.Pemicu utama PTSD ialah peristiwa yang pernah dialami yang kemudian berubah menjadi kecemasan atau ketakutan dalam menjalani hidup penderita. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa perang, kecelakaan, bencana alam, perundungan, kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.[1]
Gejala yang paling menonjol dari penderita PTSD ialah perkembangan karakteristik yang mereka miliki. Pada beberapa individu, terjadi perubahan kognitif yang menjadi lebih reaktif; pada sebagian lainnya, perubahan tersebut cenderung menjadi lebih disosiatif. Ada pula yang menunjukkan kombinasi dari pola-pola gejala tersebut. Selain itu, seorang penderita PTSD, baik orang dewasa maupun anak-anak, umumnya memiliki gejala seperti ketidakmampuan dalam mengekspresikan emosi secara terus-menerus, kurangnya respons sosial dan emosional terhadap orang lain, mudah tersinggung, serta munculnya rasa sedih atau takut yang tidak dapat dijelaskan, dan lain sebagainya.Gejala-gejala tersebut terbentuk karena penderita merasa diabaikan atau mengalami kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional yang seharusnya didapatkan setelah melalui kejadian traumatis. Biasanya, penderita juga jarang atau tidak berupaya untuk mencari kenyamanan bagi diri mereka sendiri ketika berada dalam situasi tertekan.[2]
Dalam hal ini, American Psychiatric Association mengklasifikasikan penderita PTSD pada orang dewasa ke dalam beberapa kriteria. Peristiwa traumatis dalam Kriteria A semuanya melibatkan kematian aktual atau terancam, cedera serius, atau kekerasan seksual yang terjadi dalam berbagai cara. Seseorang yang mengalami secara langsung peristiwa traumatis tersebut tergolong ke dalam Kriteria A1. Individu yang menyaksikan secara langsung peristiwa yang terjadi pada orang lain termasuk ke dalam Kriteria A2. Sementara itu, individu yang mengetahui bahwa peristiwa tersebut dialami oleh anggota keluarga atau teman terdekat diklasifikasikan dalam Kriteria A3. Adapun Kriteria A4 mencakup individu yang terpapar peristiwa traumatis ketika sedang menjalankan tugas pekerjaannya..[3]
Salama dalam As Long As The Lemon Trees Grow
Novel As Long As The Lemon Trees Grow menceritakan tentang seorang perempuan bernama Salama yang pada usia 18 tahun harus bertahan hidup di tengah perang saudara yang melanda negaranya setelah peristiwa Arab Spring. Alih-alih mengambil sudut pandang sejarah atas konflik tersebut, Zoulfa Katouh memilih untuk menyampaikan kisah ini dari sisi lain, yaitu perjalanan batin dan pertumbuhan seorang gadis yang perlahan kehilangan hampir seluruh keluarganya. Salama harus menghadapi kenyataan pahit ditinggalkan oleh ayah dan kakaknya, Hamza, lalu ibunya, serta Layla, sahabat sekaligus kakak iparnya, yang tewas bersama calon bayinya.
Di tengah kehancuran dan kekacauan, Salama dipaksa untuk tumbuh sebagai manusia yang tidak mendapatkan hak-haknya secara utuh. Ia kehilangan kesempatan untuk merasakan kenyamanan emosional sebagai seorang remaja, dan juga sebagai manusia yang bebas. Rasa bersalah tumbuh dalam dirinya dari hari ke hari, hingga pada akhirnya berkembang menjadi gangguan psikis yang serius. Dalam tekanan mental yang begitu hebat, Salama mulai mengalami halusinasi. Ia meyakini bahwa dirinya tidak benar-benar hidup sendirian. Dalam pikirannya, Layla masih ada bersamanya, padahal enam bulan sebelumnya Layla telah tertembak mati tepat di kepalanya oleh salah satu tentara pemerintahan..
Ayah dan kakaknya menghilang setelah menjadi pemimpin demonstrasi dalam upaya memperjuangkan revolusi bagi negaranya. Ibunya meninggal dunia tertimpa reruntuhan akibat ledakan bom yang menghancurkan apartemen tempat tinggal mereka. Sementara itu, sahabat sekaligus kakak iparnya, Layla, tewas ditembak dalam kondisi hamil delapan bulan. Rangkaian peristiwa traumatis ini membekas kuat dalam diri Salama dan menghantui pikirannya setiap hari. Halusinasi tentang kejadian-kejadian tersebut terus membayangi Salama. Ingatan akan momen-momen kehilangan itu begitu jelas terekam dalam benaknya, terputar ulang seolah tak pernah berhenti. Pada malam hari, rasa cemas dan takut datang menyergap tanpa ampun. Ketakutan itu tidak lagi abstrak, namun menjelma dalam sosok nyata yang Salama ciptakan sendiri berwujudu seorang pria berperawakan tinggi namun cungkring, bermata biru dan berambut hitam legam. Sosok ini ia beri nama Khauf.
Namun Khauf, sosok yang selalu membayangi Salama, tidak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam setiap perjalanan Salama menuju rumah sakit, muncul saat Salama melihat sofa yang dulu selalu diduduki Layla, atau ketika pandangannya tertuju pada sudut ruangan yang biasa digunakan Layla untuk melukis. Bahkan saat Salama mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama orang-orang yang ia cintai, Khauf tetap mengikuti, seolah tak memberi ruang bagi kedamaian.
Namun perlahan, semua itu mulai berubah. Setelah kehilangan seluruh anggota keluarganya, Salama menemukan seseorang yang menghadirkan rasa aman dalam hidupnya. Sosok ini menjadi tempat berpulang, menjadi satu-satunya yang tersisa dan mampu membuatnya merasa seperti pulang ke rumah. Dalam kehadiran orang inilah, Salama perlahan mulai menemukan kembali harapan yang sempat hilang.
Salama dan PTSD
Sebelum perang terjadi, Salama adalah seorang mahasiswi tahun pertama di jurusan Farmasi di salah satu universitas di Suriah. Seperti mahasiswi pada umumnya, ia menjalani hari-harinya dengan belajar, bermain, serta berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Namun semuanya berubah ketika perang pecah. Karena kurangnya tenaga medis yang tersedia untuk masyarakat, Salama pun mulai bekerja secara sukarela di rumah sakit dekat rumahnya. Tanpa ada ruang untuk menolak, ia langsung dianggap sebagai seorang dokter yang berpengalaman.Setiap harinya, tak terhitung berapa banyak luka yang ia jahit, berapa banyak pembedahan yang ia lakukan, atau berapa banyak mata para syuhada yang ia tutup. Semua itu ia lakukan di tengah kondisi batin yang rapuh, sebab ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya. Dengan latar belakang pengalaman seberat itu, Salama sangat berpotensi mengalami trauma psikologis yang mendalam, termasuk gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
Dengan perasaan bersalah karena pernah mengenyam pendidikan di bidang kesehatan, ditambah rasa takut dan putus asa yang ia rasakan setiap harinya, Salama hidup dalam tekanan batin yang mendalam. Ia merasa tidak lagi memiliki harapan untuk terus hidup di kampung halamannya, Homs, Suriah. Meskipun demikian, Salama tetap menjalankan tugasnya di rumah sakit, berusaha menebus rasa bersalahnya dengan mengabdi kepada masyarakat, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh ayah dan kakaknya sebelum mereka menghilang tanpa jejak.
Di tengah tugas kemanusiaannya, Salama juga dihantui oleh dilema berat. Ia terikat pada janji yang pernah dibuat kepada kakaknya—janji untuk pergi meninggalkan Suriah bersama Layla jika situasi perang semakin memburuk. Namun, sebelum mereka sempat pergi, Layla tertembak mati tepat di depan rumah mereka. Hal ini menjadi pukulan besar bagi Salama, sebab Layla bukan hanya kakak iparnya, tetapi juga sahabat terdekatnya.
Sebelum kehilangan Layla, Salama bahkan pernah hampir mati akibat ledakan bom yang menghancurkan rumahnya. Ia juga menyaksikan sendiri bagaimana ibunya menghembuskan napas terakhir. Deretan peristiwa traumatis ini menyebabkan Salama mengalami halusinasi yang intens. Ia membayangkan bahwa Layla masih hidup, masih menemaninya setiap hari, menunggu ia pulang dari rumah sakit, dan terus mengingatkan Salama agar menepati janjinya kepada sang kakak.
Gejala-gejala ini menunjukkan indikasi kuat bahwa Salama termasuk ke dalam Kriteria A dalam klasifikasi PTSD menurut American Psychiatric Association. Trauma yang ia alami berasal dari paparan langsung terhadap kematian dan kekerasan ekstrem, baik sebagai saksi maupun sebagai korban yang selamat dari peristiwa-peristiwa yang mengancam nyawa.
Penutup
Dari narasi-narasi yang muncul dalam pikiran Salama, cara ia mengambil keputusan, serta perasaan-perasaan yang disiratkan oleh Zoulfa Katouh dalam novel As Long As The Lemon Trees Grow, dapat diindikasikan bahwa Salama mengalami gangguan PTSD. Zoulfa bahkan secara eksplisit menyebutkan dalam novelnya bahwa pada suatu titik, Salama menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit mental akibat trauma, meskipun tidak disebutkan secara gamblang istilah medisnya.
Salama bukan satu-satunya yang mengalami dampak psikologis akibat perang. Faktanya, setelah pecahnya konflik di Suriah pada tahun 2011, sekitar 44% warga Suriah mengalami gangguan mental berat, dan 36,9% di antaranya dinyatakan positif menunjukkan gejala PTSD. Hal ini diperkuat oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan melalui situs BMC Psychiatry pada 2 Januari 2021. Penelitian tersebut menyatakan bahwa perang di Suriah telah menyebabkan tekanan mental besar-besaran terhadap masyarakat, dan lebih dari 60% penduduk dilaporkan menderita PTSD serta gangguan mental berat.
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, seseorang dapat mengalami PTSD apabila ia pernah mengalami atau menyaksikan langsung peristiwa traumatis yang mengancam nyawa. Kasus yang dialami Salama mencerminkan hal tersebut dengan sangat jelas, baik melalui pengalaman pribadinya maupun dari peristiwa-peristiwa yang ia saksikan sendiri.
Oleh : Farahsyifa Muthia Hasbi
(Penulis Merupakan Koordinator Media Manggala KPMJB)
Editor: Nabil Irtifa
Referensi
Katouh, Z. (2022). As long as the lemon trees grow. Little, Brown Books for Young Readers.
Kaur Mann, S., Marwaha, R., & Torrico, T. J. (2024, February 25). Posttraumatic stress disorder. National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559129/
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., p. 265).
Kakaje, A., Al Zohbi, R., Hosam Aldeen, O., Makki, L., Alyousbashi, A., & Alhaffar, M. B. A. (2021, January 2). Mental disorder and PTSD in Syria during wartime: A nationwide crisis. Journal of Public Health Research, 10(1), Article 1910. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7778805/






