Manggala, Kairo — Sekitar seratus mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) mengikuti acara bertajuk AIGYPT (AI Egypt) yang digelar di Al-Idarah Al-‘Ammah Lilwafidīn, Madinatul Bu‘ūts, Kairo, pada Senin (30/6). Kegiatan ini bertujuan mendorong kesadaran dan kesiapan masisir dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
AIGYPT, yang diinisiasi oleh Daru Fahmaa Muliawan, merupakan bentuk keprihatinan terhadap realitas masisir yang dinilai terlalu sibuk dengan aktivitas teknis namun kurang menghasilkan perubahan berarti. Menurutnya, mahasiswa perlu beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar tidak tertinggal.
“Sebagai masisir, kita tidak bisa terus terjebak dalam aktivitas yang serba manual. Teknologi, khususnya AI, harus mulai dipahami dan digunakan secara bijak,” ujar Daru dalam sesi wawancara bersama tim media.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan konsep AI, tetapi juga diajak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pengelolaan waktu belajar, keuangan, hingga perencanaan proyek jangka panjang — semua didorong untuk diintegrasikan melalui aplikasi berbasis AI seperti Notion.
Untuk mendukung penerapan tersebut, peserta dibimbing oleh para mentor dalam menyelesaikan misi-misi harian yang berlangsung selama 10 hari ke depan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas hidup para mahasiswa.
Daru menegaskan, AI bukanlah ancaman, melainkan alat bantu yang, jika dikuasai dengan baik, dapat memberdayakan manusia. Ia berharap AIGYPT menjadi awal pembaruan cara pandang dan gaya hidup masisir agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Manusia tidak digantikan oleh AI, tapi oleh manusia yang memahami AI. Maka, sudah keharusan bagi kita untuk belajar, beradaptasi, dan memahami teknologi ini,” tutupnya.
Reporter: Ajrina Fauziah
Editor: Arif Avianto






