Ayo, sayang, culik aku, dong
Aku bosan, di rumah cuma bengong
Sendirian, hatiku jadi kosong
Sungguh, bosan ini kian merongrong
Potongan lagu tersebut digunakan dalam sebuah unggahan di akun TikTok lengkap disertai caption nyentrik berbunyi, “Kecantol kayu bisa lepas, kecantol muthawwif mana bisa lepas,” dengan latar belakang “Masjid Pusat”. Kabarnya, pemilik akun tersebut merupakan seorang mahasiswa Universitas al-Azhar.
Di balik estetika visual yang memesona dan gaya konten yang mampu menarik engagement tinggi, tersimpan dilema antara misi sebagai akademisi dan ambisi membangun persona digital. Mirisnya, penyajian konten semacam itu cenderung berfokus pada aspek popularitas semata. Bahkan, kerap memicu kontroversi atau bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Al-Azhar. Tanpa mempertimbangkan dampak dan manfaatnya, konten seperti ini tersebar luas di dunia maya dan secara tidak langsung berkontribusi pada redefinisi identitas mahasiswa Al-Azhar di mata publik.
Berangkat dari permasalahan di atas, penulis mencoba mengangkat dan membahas terkait fenomena ‘Mahasiswa al-Azhar “Jurusan Selebgram”’ yang kian menjamur. Pertanyaan mendasar seperti mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana cara menyikapi dan menanggapi fenomena ini dengan bijak? Dan yang tak kalah penting, bagaimana cara menjadi mahasiswa al-Azhar yang tetap menjaga marwa Azharinya, sekaligus aktif sebagai konten kreator yang bertanggung jawab? Tulisan ini hadir sebagai upaya untuk merespon fenomena tersebut, dengan cara mengurai masalah, serta menawarkan refleksi dan solusi supaya Azhari kini tidak terjebak dalam arus popularitas yang semu. Selamat menikmati!
Fenomena “Mahasiswa Al-Azhar Jurusan Selebgram”
Konten kreator di media sosial memiliki pengaruh yang sangat signifikan di era digital ini. Dampaknya tidak hanya terbatas pada perilaku dan pandangan netizen, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, baik bagi penonton maupun si pembuat konten itu sendiri. Pengaruh ini akan terasa semakin kuat ketika penonton berada dalam lingkungan yang sama dengan si pembuat konten, seperti yang terjadi di Mesir, di mana sejumlah konten kreator mengaku sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar. Tak heran jika tren ini di kemudian hari diikuti oleh banyak mahasiswa al-Azhar lainnya yang turut terjun di dalam dunia konten kreator. Namun, muncul satu pertanyaan penting: apakah fenomena ini benar-benar membawa kebaikan bagi mahasiswa Al-Azhar itu sendiri?
Perlu diketahui bahwa di era modern ini, status Mahasiswa al-Azhar tidak hanya mencerminkan intelektualitas dan keseriusan dalam menuntut ilmu agama. Lebih jauh dari itu, status Mahasiswa al-Azhar telah menjadi label kehormatan yang ditampilkan dalam bio media sosial. Mudahnya akses ke media sosial memberikan peluang bagi seseorang untuk berkarya dan menarik perhatian luas. Namun di balik kemudahan itu, ada pula yang menyalahgunakan kesakralan status Mahasiswa al-Azhar tanpa mempertahankan integritasnya. Alih-alih fokus menghafal kitab atau diskusi ilmiah, mereka lebih memilih mencari angle foto terbaik di depan Masjid al-Azhar atau di sekitar lingkungannya, lengkap dengan caption Islami yang dianggap menarik oleh netizen.
Fenomena “Mahasiswa al-Azhar Jurusan Selebgram” kian nyata. Disorientasi dari niat awal menunutut ilmu pun tampak semakin jelas. Asupan akal sehat kerap dikesampingkan, sedangkan kebutuhan akan validasi di media sosial justru lebih di utamakan. Kuliah? Ah, yang perlu itu ikut ujian termin saja. Dakwah? Kadang hanya sebatas engagement. Ilmu? Bisa menunggu, yang penting feed tetap estetik. Salah? Yaelah namanya juga manusia, bukan nabi booy. Pertanyaannya, apakah ini wajah baru intelektual muslim, atau sekadar tren digital yang mengikis makna seorang penuntut ilmu?
Ironi di “Mahasiswa” Al-Azhar; Antara Ilmu dan Gengsi
Al-Azhar memiliki sejarah panjang nan gemilang dalam mencetak para ulama yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Namun, mereka atau oknum mahasiswa yang menampilkan konten-konten “Pick me” seperti caption yang minta dicarikan istri atau pesona calon suamimu, sekadar tersenyum tanpa pesan yang mendalam di media sosial, gaya pamer dalam template viral, berjoget di depan kamera —ada juga sambil bernyanyi— di tempat umum, menampilkan konten dengan kata-kata percintaan —seperti rayu dan gombal — berlatar islami seperti Mekah dan masjid lainnya, asal nyebur ke sungai nil, sampai sembarangan mengambil foto atau video tanpa memperhatikan privasi orang lain, adalah perbuatan-perbuatan yang dapat mencoreng nama baik institusi dan tidak sejalan dengan koridor atau manhaj yang berlaku di al-Azhar.
Menjadi konten kreator dapat membuka pandangan bahwa orang yang berkecimpung di dunia keagamaan tidak hanya terbatas pada belajar dan mengajar. Namun, sebagai Mahasiswa yang menimba ilmu di salah satu lembaga pendidikan tertua dan berpengaruh dalam peradaban Islam, tentunya memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga nama baik dan integritas ilmu yang dipelajari. Ironisnya, konten yang mereka hasilkan kerap kali hanya mengejar viralitas (red; vitalitas) dan popularitas tanpa memerhatikan kualitas dan substansi. Media sosial pun dimanfaatkan tidak lebih sebagai alat pencitraan sensasional daripada sebagai sarana penyebaran ilmu. Lalu, di mana kedudukan ilmu dan reputasi al-Azhar yang kabarnya mereka pelajari? Apakah ketika kuliah hanya sebatas mengisi absensi saja? Apakah al-Azhar patut merasa bangga atas perilaku tersebut? saya rasa jawabannya sudah sangat jelas. Tidak!
Ungkapan “Bukannya berdampak, malah terdampak” seakan tepat menggambarkan mereka yang menempuh pendidikan jauh namun masih saja tergerus arus negatif dari tanah airnya sendiri. Segelintir mahasiswa yang Menuhankan kata “viral” dan “gengsi” lalu mempersetankan eksistensi ilmu dan tanggung jawab, seolah ego yang menyumbat kritik dengan dalih “Suka-suka gue, ini kan hidup gue”. Maka jangan heran jika di kemudian hari masyarakat mulai memandang sebelah mata lulusan al-Azhar serta menganggapnya tak ada bedanya dengan mahasiswa dari institusi lain. Sebab, esensi belajar yang harusnya menjadi ruh utama Azhari telah tersisihkan oleh orang-orang yang lebih takut ketinggalan tren FOMO ketimang kehilangan nilai keilmuannya.
Karena Dakwah Kini Tidak Hanya Sebatas Lisan, Tapi Juga Like dan Share
Dari berbagai dampak yang ditimbulkan oleh fenomena ini, muncul satu pertanyaan penting: apakah menjadi konten kreator berarti harus berseberangan dengan nilai-nilai Islam dan keilmuan Al-Azhar? Tentu saja tidak! Justru, menjadi konten kreator dapat menjadi sarana dakwah dan edukasi yang sangat efektif serta menyeluruh, dengan catatan, media sosialnya digunakan dengan tepat dan bijak.
Mari kita belajar dari sosok seperti Oki Setiana Dewi, seorang konten kreator yang berhasil mengedukasi dan menyebarkan manfaat tanpa harus mengorbankan nilai-nilai Islam yang ia pegang teguh. Ia mampu menjaga adab dalam berkonten dan tetap mengamalkan apa yang telah ia pelajari. Sosok seperti ini dapat menjadi tolak ukur bagi siapa pun yang ingin menjadi konten kreator yang bermanfaat.
Apakah dalam hal ini berarti kita tidak boleh membuat konten hiburan dan harus melulu membuat konten edukasi yang Islami? Tidak juga. Selama tidak berbenturan dengan koridor syariat yang berlaku, maka kita kembalikan status hukum tersebut kepada hukum asalnya yaitu boleh. Kenapa hal sekecil ini penting untuk diperhatikan? Sebab, media sosial bukan sekadar panggung untuk eksistensi pribadi, melainkan ruang luas untuk menyebarkan nilai, ilmu, dan inspirasi. Alangkah indahnya jika seorang mahasiswa Al-Azhar mampu menginspirasi para pengikutnya di media sosial; memperkenalkan dirinya sekaligus menyampaikan serta menerapkan apa yang ia pelajari selama ini.
Dengan tetap memperhatikan etika, menjaga nilai-nilai Al-Azhar, dan tidak sekadar ikut tren, kehadirannya di media sosial akan menjadi oase ilmu di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Maka, peran al-Azhar—baik dahulu maupun sekarang—bukanlah sekadar kisah masa lalu, melainkan kenyataan yang masih hidup dan berdampak hingga kini
Pada akhirnya, meskipun fenomena “Mahasiswa Al-Azhar Jurusan Selebgram” semakin marak, kita harus ingat bahwa ini hanya mencakup segelintir orang saja meskipun efeknya sangat besar. Mayoritas mahasiswa al-Azhar tetap setia pada tujuan awal mereka, yaitu menuntut ilmu dengan serius dan menjaga integritas yang telah diajarkan oleh institusi ini. dengan manhajnya yang kokoh, al-Azhar akan tetap mulia, karena warisan keilmuan dan nilai-nilai luhur yang dimilikinya jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian viral di media sosial. Meski ada sebagian kecil yang mungkin terseret dalam arus popularitas, kita tidak boleh melupakan bahwa Al-Azhar tetap menjadi pusat cahaya ilmu yang tak tergoyahkan, dan para mahasiswanya yang sejati akan selalu menjaga kehormatan dan kemuliaannya.
Tabik!
oleh: Ananda Habib Husein
Penulis adalah Kru Esai dan Opini Manggala KPMJB 2025







Semangat kang!. lewat tulisan ini saya terketuk hati untuk ikut mengamati apa yang terjadi di kalangan masisir, terlebih apa yang seharusnya seorang azhari lakukan dan tidak dilakukannya, dan juga dengan pelantaraan tulisan ini, saya pribadi merasakan kepedihan yang mendalam atas apa yang oknum oknum yangtidak bertanggung jawab perbuat, semoga mereka bisa kembali sadar bahwa perbuatan mereka keliru, dan butuh pertanggung jawaban, dengan merubah gaya konten konten nya dengan hal yang positif.