Penulis : Husein Ja’far Al-Hadar
Penerbit & Tahun Terbit : Penerbit Mizan, 2019
Jumlah Halaman : 225 Halaman
ISBN : 978-602-441-255-5
Setelah karya Husein Jafar Al-Hadar yang berjudul Menyegarkan Islam Kita mengudara, Husein seolah tak ingin berhenti menginspirasi lewat dunia literasi. Karya Seni Merayu Tuhan ini merupakan buku best seller sang penulis semenjak aktif di dunia kepenulisan, di samping profesinya sebagai pendakwah di kalangan milenial dan Gen Z.
Secara umum, buku yang berukuran 14×20 cm ini menceritakan tentang rahasia perjalanan spiritual ala tasawuf, mengenai bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap kepada Tuhannya. Dengan bahasa yang simpel, penulis mengkritik para hamba Tuhan yang seolah mendangkalkan kredibilitas Tuhan, seolah-olah Tuhan hanya tempat meminta saja, hanya menjalankan ritual tanpa rasa mahabbah dan ikatan memiliki.
Layaknya seekor sapi perah yang akan ditinggalkan tuannya ketika telah mendapatkan hajatnya, begitu pun hamba yang datang kepada Tuhannya hanya pada saat butuh dan terdesak. Penulis seolah ingin menyampaikan pesan yang menyadarkan para hamba-Nya bahwa Tuhan layak dirayu, bukan hanya karena sebatas tempat meminta saja dan mengkerdilkan makna Tuhan, tetapi sebagai bentuk pengagungan dan penghambaan tertinggi manusia terhadap kebesaran Tuhan. Karena hakikatnya, Tuhan adalah kekasih tertinggi kita, yang Maha indah dan menyukai keindahan.
Sudut Pandang yang Unik serta Penyederhanaan Bahasa
Keunggulan dari buku ini adalah sumbernya yang majemuk dan mengacu pada realita. Sehingga, penulis cukup banyak menawarkan sudut pandang unik yang acapkali manusia luput pada hal-hal tersebut.
Sebagai contoh, ketika penulis menceritakan hadits bagaimana seorang pelacur bisa diampuni seluruh dosanya dan diberi rahmat Tuhan hanya karena memberi minum anjing yang kehausan, ia tidak kaku dengan penafsiran tekstual saja. Dalam penafsiran yang lebih jauh, Husein ingin kita berpikir, jangan-jangan orang yang gemar beribadah dan berbuat baik bisa hangus pahalanya karena menghina anjing, apalagi sampai menyakitinya.
Di samping itu, Husein juga menggunakan tanda warna yang berbeda di setiap poin penting dari suatu pembahasan yang ingin disampaikan, yang tentunya memudahkan pembaca dalam memahami inti dari satu pembahasan.
Tidak ketinggalan, ia menggunakan bahasa yang sangat sederhana tapi tidak melemahkan kekuatan intelektual dalam tulisannya. Sehingga, mudah dipahami dan menginspirasi bagi siapa pun, terutama bagi siapa saja yang sedang menggeluti ilmu Tasawuf.
Kenapa Tidak Bisa Mencintai Tuhan?
Secara garis besar, buku ini menggunakan alur terstruktur yang dapat memudahkan pembaca untuk memahami dari dasar, membangun fondasi yang kuat, hingga menemukan jati dirinya sebagai seorang hamba Tuhan.
Buku ini di awal menjelaskan permasalahan umum seorang hamba kenapa tidak bisa mencintai Tuhannya, padahal sudah seringkali melakukan apa yang diperintah-Nya. Apakah seorang hamba itu yakin sudah menggunakan aspek-aspek beriman, berislam, dan berihsan sesuai porsinya? Kebanyakan manusia seringkali meninggalkan esensi dari 3 aspek itu sendiri.
Dalam hal keimanan, ketika salat misalnya, berapa banyak manusia yang meninggalkan prinsip umum dalam gerakan sujud dan rukuk. Salat hanya sekadar gerakan keritualan yang dilakukan berulang-ulang tapi tidak khusyuk. Sampai Allah menyindir dalam QS Al-Ma’un : 4, “Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat! Yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya”. Husein menjabarkan, jika salat hanya melakukan gerakan-gerakan seperti itu, maka tak ubahnya seperti yoga bersyariah.
Merayu Tuhan
Kemudian setelah membahas permasalahan awal, pembaca diajak cara merayu Tuhan dengan menggunakan hal-hal kecil tetapi bermakna besar di mata Tuhan, yang terkadang luput di pikiran manusia. Beberapa konsep seperti bersyukur, belajar iman dari tukang cukur, analogi-analogi yang relevan, bahkan dalam beberapa pembahasan penulis menggunakan cerita para sufi untuk memperdalam perasaan dan mengukuhkan pemahaman para pembaca terhadap pembahasan tersebut.
Tidak hanya itu, beberapa kali penulis menggunakan kisahnya sendiri dengan latar belakang yang unik sehingga meningkatkan ketertarikan pembaca. Seperti ketika ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan tukang sate madura, yang ia anggap unik karena melabeli dagangannya sebagai sate nomor dua terenak di dunia. Ketika ditanya kenapa nomor dua dan tidak menduduki posisi pertama, tukang sate menjawab “Loh, ya, jangan musyriklah kita ini. Dalam segala hal, yang nomor satu hanya Allah. Kita mentok di nomor dua saja.”
Pembahasan dalam buku ini ditutup dengan pembahasan bermuamalah dengan sesama manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam menyikapi perbedaan. Satu kalimat menarik dalam pembahasan ini adalah ketika penulis menggunakan kutipan pakar fikih bermazhab syafii terkenal pada abad 15 tentang toleransi.“Kita harus meyakini mazhab kita benar, tetapi mengandung kekeliruan. Sedangkan mazhab lain keliru, tetapi mengandung kebenaran,” ujar Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii
Penulis ingin menanamkan ke pikiran pembaca bahwa memperlakukan sesuatu secara bijak adalah hal yang paling utama ketika dihadapkan pada perbedaan. Ia mengajak untuk bijak menyikapi perbedaan dengan memilih satu pendapat untuk dipegang, dan dengan kerendahan hati tanpa merasa kita pasti benar serta yang berbeda belum tentu juga salah. Penulis mengakhiri tulisan dalam buku ini dengan menyempurnakan tiga aspek yang harus dipegang dan dikokohkan sebagai seorang hamba yang hakiki.
Akhir kata, saya ingin menutup perkataan penulis yang cukup mencuil hati saya, “Bahkan, lebih baik hati yang merendah karena malu akan maksiat daripada hati yang meninggi karena sombong akan ibadah.”
Reviewer: Atsilla Yusya Arrizky






