Engkau adalah Wanita yang Kusebut Fiksi

Ilustrasi wanita dalam dimensi fiksi. (Sc: wallhere.com)
Ilustrasi wanita dalam dimensi fiksi. (Sc: wallhere.com)

Oleh: Defri Cahyo Husain

Penulis  adalah Pemimpin Redaksi Website Manggala 2021-2022

Teman saya pernah bercerita, ia sering merasakan jatuh cinta pada seseorang yang baru pertama kali dilihatnya, atau mungkin ia sudah tahu, tapi belum mengenalnya terlalu jauh. Iya, hal ini sering kali orang sebut sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Anyways, jika Anda berspekulasi bahwa teman yang saya maksud itu sebenarnya diri saya sendiri, Anda tidak sepenuhnya salah, tidak juga sepenuhnya benar. Saya sering kali menganggap teman terbaik adalah diri sendiri.

Balik lagi pada sampel di atas, ketika kita misalnya melihat seseorang-dalam tulisan ini saya akan sering memberikan contoh lelaki terhadap wanita-yang sedang duduk di bangku bus sambil menikmati angin yang menerobos lewat jendela, kita mungkin akan memunculkan proyeksi dalam pikiran kita, “Sepertinya dia adalah wanita yang anggun. Dari cara duduknya yang elegan, senyumnya yang khas, dan sebagainya. Dia adalah tipe saya.” atau mungkin Anda mempunyai bayangan sendiri terhadap keadaan seperti itu, silakan.

Hal yang mau saya singgung di sini adalah, kita mungkin sering kali memunculkan sebuah proyeksi terhadap wanita yang pertama kali kita lihat, berdasarkan intuisi yang kita punya. Dalam arti lain, wanita kerap masuk dalam dunia fiksi ciptaan kita, yang  kemudian kita secara gegabah memutuskan apakah dia masuk dalam kriteria-yang sudah kita susun dalam alam bawah sadar -atau tidak, sehingga bisa sampai pada kesimpulan jatuh cinta pada pandangan pertama. Lantas, apakah ini adalah sesuatu yang salah, atau justru hal yang wajar?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita memahami dulu beberapa istilah yang sering membuat kita tersesat dalam lautan makna. Kebanyakan orang memahami ‘Fiksi’ adalah sebuah cerita rekaan atau khayalan kosong belaka, sehingga makna Fiksi yang sebenarnya, secara sadar dibunuh oleh batasan kamus yang kita gunakan sehari-hari.

Dalam Filsafat, saya menemukan definisi menarik dari diksi tersebut, sebagaimana yang dilontarkan oleh Bung Rocky Gerung, filsuf Indonesia di abad modern ini, dalam tayangan program Indonesia Lawyers Club 4 tahun lalu, bahwa fiksi adalah sebuah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Tentu, tidak hanya sampai situ kita memahaminya, masih ada satu kata lagi yang sering disalahpahami banyak orang; Imajinasi.

Kebanyakan dari kita biasanya sering membenturkan kata ‘Imajinasi’ dengan kenyataan. Seolah, Imajinasi itu adalah sesuatu yang terbatas dalam angan saja, tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Padahal sebenarnya lebih dari itu. Pernah mendengar ungkapan dari tokoh terkenal, Albert Einstein? Beliau pernah mengatakan:

Logic will get you from A to B, but imagination will take you everywhere (Logika hanya akan membawamu dari A ke B, tapi imajinasi akan membawamu ke mana pun).”

Dalam quotes yang berbobot itu, seorang Albert Einstein seolah ingin mengatakan bahwa imajinasi dapat merealisasikan apa pun yang ada dalam gagasan atau alam ide kita. Jadi, imajinasi itu sebenarnya sangat berhubungan dengan kenyataan. Bahkan, batas imajinasi kita merupakan refleksi dari batas kenyataan itu sendiri.

Lebih jelasnya, jika kita membayangkan sesuatu yang dapat dibayangkan, maka sesuatu itu ‘mungkin’ ada dalam kenyataan, begitu pun sebaliknya. Misalnya, coba kita bayangkan dua objek: “Gunung Emas” dan “Gunung Tanpa Lereng”. Dapat saya katakan, objek pertama ini adalah imajinasi atau sesuatu yang dapat dibayangkan dan memungkinkan ada di kenyataan, sehingga dia menjadi keniscayaan.

Berbeda dengan objek kedua, bagaimana mungkin kita membayangkan Gunung Tanpa Lereng, padahal secara definisi dalam intuisi kita mengasosiasikan gunung sebagai dua atau lebih lereng, sangat kontradiksi, ‘kan? Kedua hal ini dalam Ilmu Filsafat disebut sebagai hubungan antara Modalitasi Epistemik dan Modalitas Metafisis.

(BACA JUGA: Apakah Kau Jatuh Cinta Padaku, Atau Mencintai Imajinasimu Tentangku?)

Berdasarkan uraian singkat saya di atas, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa, ketika seorang wanita masuk dalam dimensi fiksi ciptaan kita, menjelma jadi berbagai macam proyeksi yang kita munculkan, tentu secara tak sadar, wanita tersebut telah mengaktifkan apa yang sebelumnya tertanam dalam pikiran kita.

Kita mungkin sebelumnya pernah membuat standar dalam alam bawah sadar, “Saya ingin memiliki wanita seperti ini; seperti itu ….” Sehingga ketika melihat seorang wanita yang sesuai dengan kriteria, spontan proyeksi subjektif itu muncul berdasarkan pola pengetahuan yang sudah kita susun sebelumnya. Pada akhirnya, kita kemudian akan sampai pada satu kesimpulan bahwa, saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Selain dari sudut pandang filosofis, fenomena ini juga sebenarnya bisa kita jelaskan melalui pendekatan saintifik. Menurut penelitian Dr. Stephanie Cacioppo dari Neuro Imagine of Love, sebagaimana yang ditayangkan di kanal Youtube “Kok Bisa?“, otak kita dapat menghasilkan hormon cinta setelah berpandangan pertama kali dengan wanita hanya dalam waktu 1/5 detik. Ajaib, ‘kan? Dalam waktu sesingkat itu, imajinasi kita langsung aktif memunculkan berbagai macam proyeksi terhadap wanita tersebut.

Tentu, apa pun yang kita bayangkan tentang wanita itu, selama itu adalah sesuatu yang niscaya, maka itu menjadi imajinasi yang dapat mendorong kita untuk membuktikan benar atau tidaknya proyeksi kita terhadapnya. Keputusan untuk merealisasikannya ada pada diri kita sendiri.

Namun, jika proyeksi yang kita munculkan adalah sesuatu yang tidak mungkin-misalnya kita membayangkan dia seperti Tuhan, padahal secara definisi, wanita adalah manusia memiliki ciri-ciri yang hanya ada padanya, seperti hamil, melahirkan, dan semacamnya, sedangkan Tuhan sudah pasti tidak seperti manusia-maka ia tentu tidak akan mungkin ada dalam kenyataan.

Intinya, selama proyeksi kita terhadap wanita yang baru pertama kali kita lihat itu adalah sebuah keniscayaan, maka fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama tentu merupakan sebuah kewajaran. Tidak ada yang salah memasukkan wanita ke dalam suatu dunia yang kita sebut fiksi, ‘kan?

Untuk menutup tulisan ini, saya teringat perkataan seorang tokoh yang sudah saya sebutkan di atas, Bung Rocky, dengan begitu berani melemparkan jokes filosofis yang sampai hari ini terus menempel di alam pikiran saya: Wanita itu indah sebagai fiksi, dan berbahaya sebagai fakta. Wallahua’lam bi al-Shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *