Warta  

Gugat Stagnasi Intelektual, Faiz Abdurrahman: “Jangan Anggap Diri Kita Setara Anak SMA”

Dok. Manggala
Dok. Manggala

Manggala, Kairo – Faiz Abdurrahman, moderator dalam diskusi publik “Diagnosa Masisir”, menyampaikan kritik tajam terhadap pola gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Dalam pembukaannya di Kafe Tiara, Rabu (8/4), ia mempertanyakan apakah masifnya organisasi di Masisir saat ini sebanding dengan kualitas pemikiran strategis yang dihasilkan.

​Di hadapan para panelis dan pasangan calon Presiden PPMI Mesir, Faiz menyoroti adanya “ruang kosong” dalam aktivisme Masisir saat ini. Ia menilai, dengan jumlah mahasiswa yang mencapai lebih dari 20.000 orang, organisasi seharusnya tidak hanya terjebak pada kegiatan administratif dan kerja fisik semata.

​”Jangan-jangan organisasi kita memang tidak berpikir hal-hal strategis. Kita sering merendahkan diri sendiri, menganggap diri setara anak SMA yang sekadar bikin acara, padahal kita adalah mahasiswa Al-Azhar, sebuah diaspora internasional,” tegas Faiz dalam orasi pembukanya.

​Ia juga menyinggung fenomena kurang dikenalnya identitas intelektual Indonesia di mata warga lokal Mesir. Menurutnya, hal ini menjadi indikator bahwa divisi-divisi strategis di organisasi, seperti pendidikan dan sosial budaya, belum mampu menjadi ujung tombak pergerakan yang nyata di kancah internasional.

​Lebih lanjut, Faiz mengajak peserta untuk berhenti sejenak meromantisasi sejarah diplomasi masa lalu—seperti peran mahasiswa era kemerdekaan—dan mulai membangun aktivisme baru yang lebih progresif. Ia menekankan pentingnya mendobrak budaya organisasi agar lebih efektif dan memiliki pandangan yang lebih maju ke depan.

“Orang di dalam negeri saja berani bersuara frontal. Harusnya kita yang di luar negeri, yang jauh dari jangkauan langsung pemerintah, bisa lebih keras menyuarakan isu-isu strategis,” pungkasnya.

​Pernyataan pembuka ini sengaja dilemparkan sebagai pemantik untuk menguji visi para calon pemimpin PPMI Mesir yang hadir, guna memastikan bahwa gerakan mahasiswa ke depan tidak hanya bergerak di tempat, tetapi memiliki dampak intelektual yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *