Hilman Rosyidi, mahasiswa asal Jawa Barat, berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Mumtaz pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir, di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Gelar doktor resmi disematkan kepada senior KPMJB Mesir ini setelah ia melewati sidang munaqosyah selama tiga jam. Di balik keberhasilannya menyandang gelar doktor, tersimpan kisah perjuangan yang menginspirasi.
Menyelesaikan studi Strata 3 di Universitas Al-Azhar bukanlah hal yang mudah. Universitas ini dikenal dengan keilmuannya, kemoderatannya, serta kualitas alumninya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Oleh karena itu, menjadi doktor lulusan universitas ternama ini mengharuskan seseorang melewati berbagai rangkaian ujian panjang demi menjaga standar kualitas lulusannya.
Hilman membagikan kisah perjuangannya ketika menempuh jenjang magister. Saat itu, setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti kelas Tamhidy (kelas persiapan) selama dua tahun. Pada fase ini, mahasiswa diuji melalui ujian tahriri (tulis) dan syafahi (lisan) dengan nilai kelulusan minimum 60 untuk setiap maddah (materi). Pada tahun kedua, nilai kelulusan minimum dinaikkan menjadi 70 untuk setiap maddah. Tentu, ini menjadi tantangan yang tidak mudah, terutama bagi mahasiswa asing yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Ibu.
Pada tahun pertama, Hilman mengalami kegagalan dalam satu mata pelajaran, sehingga ia harus mengulang seluruh materi selama satu tahun. Namun, ia tidak membiarkan kegagalan itu menjatuhkannya. Dengan tekad yang kuat, ia bangkit dan berusaha kembali untuk menghadapi ujian berikutnya.
Setelah melewati seluruh rangkaian ujian tahriri dan syafahi, para mahasiswa mengalami kecemasan luar biasa. Mereka menantikan hasil ujian yang menentukan masa depan mereka. Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan berbulan-bulan berlalu hingga akhirnya nilai ujian diumumkan dan ditempel di dinding kampus. Saat mendengar kabar bahwa hanya ada satu mahasiswa wafidin (mahasiswa asing) dari jurusan Tafsir yang lulus, Hilman segera menuju kampus dengan perasaan harap-harap cemas. Ketika melihat hasil ujian, ia tak kuasa menahan haru—nama satu-satunya mahasiswa wafidin yang lulus itu adalah dirinya sendiri. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kesabaran dan kesungguhan dalam belajar akan membuahkan hasil.
Setelah melewati berbagai tantangan di kelas Tamhidy, Hilman juga menghadapi perjalanan berliku dalam menulis tesis dan disertasi. Mulai dari mempersiapkan bahan untuk judul, mengajukan tajuk tesis yang tidak cukup sekali tetapi berkali-kali, hingga mengalami penolakan judul yang sempat membuatnya merasa pesimis. Hilman menyelesaikan tesisnya dalam waktu dua tahun setelah masa Tamhidy, sedangkan disertasinya diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Kecepatan dalam menyelesaikan risalah (tesis dan disertasi) sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk kepentingan pribadi serta ketersediaan musyrif (pembimbing akademik), yang masing-masing memiliki kondisi dan kriteria berbeda.
Sebagai seorang bahits (peneliti) sekaligus kepala keluarga, Hilman harus pandai membagi waktu antara studi dan tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia bangun pagi, memasak untuk keluarganya, menyiapkan bekal, serta mengantar dan menunggu anak-anaknya di sekolah. Semua dilakukan dengan penuh perhatian agar keseimbangan antara pendidikan dan kehidupan keluarga tetap terjaga.
Ia berpesan, “Seorang bahits harus siap menerima segala konsekuensi yang berkaitan dengan teknis penulisan risalah. Mental baja diperlukan agar tidak mudah menyerah. Mendapatkan teguran dari pembimbing adalah hal yang lumrah karena kita sedang berproses. Justru dengan adanya pembimbing, kita dapat diarahkan dan dikontrol agar risalah yang kita susun memiliki kualitas yang baik.”
Perjalanan panjang menempuh studi hingga jenjang doktoral di Al-Azhar bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan perjalanan spiritual, intelektual, dan emosional yang membentuk karakter. Berbagai tantangan telah dilewati—mulai dari kendala bahasa, adaptasi budaya, hingga ujian intelektual yang menguras tenaga dan pikiran. Namun, di balik semua itu, ada tekad yang tak pernah padam, doa yang tak terputus, serta dukungan keluarga dan sahabat yang menjadi sumber kekuatan.
Kini, gelar yang diraih bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu yang telah digali harus bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan umat. Al-Azhar telah mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar wawasan, tetapi juga amanah yang harus dijaga dan diamalkan.
Semoga perjalanan ini menjadi langkah kecil menuju kontribusi yang lebih besar bagi agama, bangsa, dan peradaban. Perjuangan belum berakhir, tetapi babak baru telah dimulai.
Oleh: Muhammad Alfin






