“Jadi, Mas mau jadi tentara?” kata Siti Alfiah. Soedirman mengangguk, seolah-olah minta pengertian dari sang istri. Tak langsung mengiyakan, Alfiah mencecar suaminya. Dia menanyakan soal mata kirinya yang kurang terang. Begitu juga tulang lutut kirinya yang sempat bergeser sebab terkilir sewaktu bermain bola. “Tidak apa-apa, Bu. Semua pengalaman ada gunanya. Saya harap Ibu berhati mantap.” Soedirman lalu pergi mengambil wudhu dan berjalan ke kamar untuk shalat tahajud.
Demikian kiranya kisah “santri” yang Soekanto tulis dalam buku “Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman”. Dialog pasangan suami-istri ini kelak menjadi titik balik karir Soedirman; dari santri menjadi jenderal TNI. Jenderal yang dianggap bapak oleh anak buah tentaranya, yang mampu memimpin geriliya meski dengan separuh paru-paru di dada. Panglima yang tidak pernah mengenyam pendidikan militer formal, tapi gigih melawan penjajah Belanda. Ikrarnya, “Haram menyerah bagi tentara.”
Sebuah perpaduan karakter yang unik, bukan? Lantas, bagaimana rekam jejak santri Soedirman hingga mampu mencapai puncak karir kemiliteran?
Soedirman Kecil: Santri dan Julukannya “Kaji”
Senin, 24 Januari 1916, untuk pertama kalinya tangis bayi lelaki mungil itu menyapa bumi. Sejak lahir Soedirman berada di bawah asuhan pasangan Toeridowati dan Raden Tjokrosoenarjo, asisten wedana di Rembang, Purbalingga. Namun, belum genap setahun, Raden Tjokrosoenarjo lantas pensiun. Soedirman kecil lalu pindah ke Cilacap, tumbuh di lingkungan yang sederana dan disiplin. Menginjak usia 7 tahun, ia pun mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS, setingkat SD), Cilacap. Pada tahun 1932, ia pun melanjutkan sekolahnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setingkat SMP) Parama Wiworotomo.
Selain antusias di pelajaran Bahasa, ilmu tata negara dan sejarah, Soedirman juga tekun mempelajari agama Islam. Saking tekunnya belajar Islam, menurut tutur sejarawan Rushdy Hoesein, ia kelak dijuluki “Kaji”, sapaan bagi mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam hal ini, Kaji Soedirman juga terkenal rajin beribadah serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan nonformal, seperti pengajian dan acara keagamaan lainnya. Di sana ia bertemu dan “nyantri” dengan banyak mubaligh dan tokoh dari Muhammadiyah.
Berdasarkan hal ini, bukan hal ganjil bila kita menyematkan gelar “santri” pada sosok muda Soedirman. Terlebih, bila kita pahami santri sebagaimana kalam KBBI, yakni “Orang yang mendalami agama Islam” atau minimal “Orang yang beibadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh”. Dengan begitu, Soedirman tetap bisa kita anggap sebagai “santri” Muhammadiyah tulen.
Organisasi Soedriman dan Batu Loncatan Karirnya
Tiga tahun masa pendidikannya di MULO menjadi batu loncatan karir Soedirman kelak. Soedirman muda hadir sebagai sosok yang pandai memimpin lagi pandai bergaul. Singkat cerita, Soedirman muda tidak hanya aktif di kegiatan intrasekolah putra-putri Wirotomo. Pada tahun 1935, dia mengikuti organisasi Pemuda Muhammadiyah. Lantas, bermodal kemampuan leadership, dia diangkat menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhamadiyah (WMPM) Banyumas, bahkan kemudian WMPM Jawa Tengah.
Semangat yang membara membuatnya tidak hanya berorganisasi di sana. Ia pun turut aktif di Hizbul Wathan (HW), sebuah organisasi yang sebelumnya bernama Padvinder Muhammadiyah. Beragam aktivitas olahraga, tali-temali, baris-berbaris, mencari jejak, dan aktivitas jasmani lainnya dia tekuni. Melalui organisasi kepanduan tersebut, sosok Soedirman pun digembleng secara karakter, fisik, maupun religi. Soedirman yang kala itu berusia 17 tahun dipercaya menjabat sebagai Menteri Daerah HW.
Senada dengan ini, Raden Mohammad Kholil menyadari potensi yang Soedirman muda punya. Tokoh Muhammadiyah, Pendiri HIS Muhammadiyah Cilacap, sekaligus guru pribadinya lantas meminta “santri”-nya mengajar di sekolah rintisannya. Soedirman—yang tak tamat mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK) alias Sekolah Guru Bantu di Solo sebab terkendala biaya—dengan senang hati menerima tawaran tersebut.
Di sana lah Soedirman mengawali karirnya sebagai guru. Berkat keterampilannya dalam ajar-mengajar, gemar membalut pesan religi dengan humor yang renyah, serta sifat kebapakannya, dia semakin disegani, disenangi dan dikagumi. Alhasil, karirnya meroket dalam waktu singkat. Dia lantas dipercaya menjadi Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah.
Selain itu, bicara soal statusnya sebagai “santri” alias kader Muhammadiyah, Soedirman terbilang merupakan sosok yang cukup mendalami Islam. Pribadi yang sejak kecil disapa “Kaji” ini masyhur sebagai juru dakwah alias dai yang handal. Jam terbang dakwahnya tinggi lagi luas, meliputi Cilacap, Banyumas, bahkan Brebes.
Semua berubah sejak negara Jepang menyerang. Pada 1942 HIS yang Soedirman kepalai lantas Jepang tutup sebab curiga memiliki keterkaitan dengan pihak lawan, Belanda. Kemudian bangunan sekolah tersebut Jepang alih fungsikan sebagai pos militer. Singkat cerita, berkat kemampuan diplomasinya, HIS Muhammadiyah kembali diizinkan beroperasi sebagaiamana semestinya. Peristiwa ini semakin membuat pamor Soedirman naik.
Banting Setir, dari Santri Jadi Jenderal TNI
Dua tahun berselang, Soedirman diminta bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Sebagain guru dan kepala sekolah yang baik, ia sempat berpamitan di hadapan ketiga puluh muridnya. “Saya minta pangestu. Semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang membela negara.” Para murid serentak mengiyakan, melepas gurunya pergi membanting setir, menjadi garda terdepan pembela negeri. Tak lupa, sebagai “santri” sekaligus dai Muhammadiyah, sebelum meninggalkan Cilacap, Soedirman juga berpesan pada jamaah agar Muhammadiyah terus dikembangkan dan dihidupkan.
Soedirman lantas berangkat ke Bogor dan mendapat pelatihan non formal militer selama 4 bulan. Karir kemiliteranya melesat tinggi. Pada tahun 1944, dia diangkat sebagai Daidancho atau Komandan Bataliyon di Kroya, Banyumas. Kemudian pada 20 Oktober 1945, Soedirman—dengan status Kolonelnya—diangkat sebagai Komandan Divisi V Banyumas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sebagai komandan, meski memakan banyak korban, dia berhasil mengalahkan penjajah dalam pertempuran Ambarawa. Dengan strategi supit udang-nya, ia porak-porandakan barisan Inggris ketika hendak membebaskan tawanan.
Pada 12 November di tahun yang sama, dia resmi berstatus jenderal sekaligus dipercaya menjadi pemimpin TKR. Menariknya, pengangkatan Soedirman selaku Jenderal merupakan buah suara terbanyak anggota TKR kala itu. Sosoknya yang humble, kebapakkan, disiplin dan disegani menjadi motivasi terkuat mayoritas orang memilihnya menjadi jenderal, meski notabenenya tidak pernah menempuh pendidikan militer formal.
Tercatat dalam tinta emas sejarah, Jenderal Soedirman berhasil memimpin sekaligus mengalahkan Belanda. Baik ketika Belanda berhasrat mengambil SDA guna menutupi defisitnya dalam Opratie Product yang dikenal dengan Agresi Militer I, maupun ketika Belanda hendak menghapuskan Indonesia dari peta dunia pada Opratie Kraa (Gagak) yang dikenal dengan Agresi Militer II. Bemodal ikrarnya, “Haram menyerah bagi tentara,” ia tolak pinta Soekarno untuk berdiam diri di Yogyakarta, enggan menyerah pada penjajah Belanda. Lantas, ia pimpin geriliya meski dengan separuh paru-paru di dada. Dengan ditandu dan dipangku, selama 8 bulan lamanya ia keluar-masuk hutan menghindari kejaran Belanda.
Dengan perjuangannya yang paripurna memimpin TNI (sebelumnya TKR, lalu berubah pada 1946 menjadi TRI, lantas pada tahun 1948 menjadi TNI), Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949. Semua prestasinya menjadi bukti sekaligus tamparan nyata bagi anggapan skeptis sebab latar belakang pendidikan militer non formal Soedirman.
Sebulan setelahnya, 29 Januari 1950, Soedirman dengan sakit TBC-nya pun wafat usai memenangkan 3 pertempuran sengit—Perang Ambarawa, Agersi Militer I, dan Agresi Miloter II—yang sangat menentukan eksistensi Indonesia kedepannya. Juga, tidak bisa kita pungkiri, sosok yang berpulang sembari menyandang gelar Jenderal TNI ini sampai akhir hayatnya adalah “santri”.
Baca Juga Artikel Lainnya: “Hari Kebangkitan Nasional: di Balik Pemilihan Budi Utomo”
Oleh: Salma Azizah Dzakiyyunnisa
Penulis adalah pimpinan umum Majalah Manggala 2019/2020
