Dia menyebutku Si Babi. Katanya, aku aneh.
“Merasa dilecehkan tapi menikmati berkali-kali.” Sudah kuduga, kalimat itu akan keluar dari mulutnya. Pada awalnya aku memang merasa risih dengan sentuhan yang pria itu berikan. Baru kenal sudah main tangan! Tapi apa salahnya jika manusia punya hasrat? Apa salahnya jika kemudian rasa itu berubah jadi suka? Tapi tetap saja, pada awalnya, aku dilecehkan!
Dia menyebutku Si Babi. Katanya, itu bukan pelecehan jika aku menerima dengan lapang dada.
Sudah kujelaskan berkali-kali! Tangan pria itu tiba-tiba mendarat di tubuhku ketika awal bertemu! Itu pelecehan, kan? Walaupun sudah kumaafkan, tetap saja. Jika saat itu tangannya tak tiba-tiba menyentuh tubuhku, aku tak akan sampai sejauh ini! Ini semua diawali dengan pelecehan. Aku korban pelecehan!
Dia menyebutku Si Babi. Katanya, seharusnya tak kulanjutkan pertemuan kami.
Aku memerlukannya. Tak ada seorang pun di sini yang memberikanku perhatian seperti pria itu memerhatikanku. Walaupun pria itu sempat menyentuh tubuhku tanpa persetujuanku. Dan itu adalah pelecehan.
Dia menyebutku Si Babi. Dan kini aku menyadarinya.
“Mengapa kau selalu mengungkit perbuatannya di awal tanpa menyadari hal hina yang terjadi selanjutnya?” tanyanya. Dia melanjutkan, “Bagaimana hal itu bisa terjadi berulang kali hingga banyak pasang mata melihat prilaku menjijikkan kalian?”
“Hingga tak hanya kehormatanmu, tapi kehormatan kami semua rusak.”
Kuakui. Aku. Memang. Babi.
***
Dia menyebutku Si Anjing. Katanya, berani sekali kau sentuh wanita itu tanpa persetujuannya.
Tanpa persetujuannya? Wanita itu tak pernah mempermasalahkannya. Ia hanya diam, tak menolak. Dia bahkan mengelus kepalaku yang kusandarkan di atas pahanya! Ya! Aku ingat itu! Berarti wanita itu setuju, kan? Maka kulanjutkan. Jika tak setuju, kita tak akan berakhir di penginapan murah di Alexandria satu bulan setelahnya. Apa wanita itu merasa dilecehkan? Dasar wanita sialan!
Dia menyebutku Si Anjing. Katanya, bagaimana bisa kalian bertindak sejauh itu?
Maksudnya pasti kejadian di tempat itu. Aku tak begitu ingat, saat itu kami terbawa suasana. Kutawarkan, dan wanita itu menerimanya. Maka itu terjadi. Apakah wanita itu masih merasa dilecehkan? Dasar wanita sialan tak tahu diri!
Dia menyebutku Si Anjing. Katanya, aku seharusnya bisa menahan nafsuku.
Suruh wanita sialan itu berhenti menggodaku! Bukankah wajar jika aku mengira dia wanita yang mudah diajak bermain? Wanita itu bahkan rela meninggalkan tunangannya untuk menemuiku di Zamalek. Dia memang wanita sialan, kan?
Dia menyebutku Si Anjing. Dan kini aku menyadarinya.
“Lalu bagaimana? Kau akan menikahinya?” Aku terdiam. Bukan wanita seperti itu yang aku inginkan. Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan wanita murahan itu.
“Bagaimana jika hal ini terjadi pada adik perempuanmu?”
Kuakui. Aku. Memang. Anjing.
***
Si Babi itu aneh.
Merasa dilecehkan tapi menikmati berkali-kali. “Demi Tuhan! Aku adalah korbannya!” Suaranya meledak-ledak. Kalimat itu berulang kali Si Babi lontarkan. Hingga publik iba dan mengutuk pria itu: kekasih Si Babi. Hei, Babi itu jelas menikmatinya! Hal tak senonoh itu dia lakukan berulang kali di tempat tertutup sampai tangga gedung karena tak kuat menahan nafsu.
Si Babi itu memuakkan.
Seharusnya tak ia lanjutkan pertemuan dengan pria itu. Bagaimana bisa dia merasa dilecehkan tapi mengelus kepala pria itu di atas pahanya? Mengirimkan pesan mesra pada pria itu esok harinya? Perhatian katanya? Yang benar saja? Babi itu benar-benar memuakkan. Seolah ia akan mati jika tak mendapat sapaan pagi dari pria itu.
Si Anjing itu bajingan.
Awalnya aku marah. Berani sekali dia menyentuh wanita itu tanpa persetujuannya?! Hingga pada akhirnya, wanita itu yang dengan senang hati menerima. Semua ini terasa rumit, isi kepalanya sama sekali tak kumengerti. Tapi satu hal yang pasti: caranya memandang wanita, benar-benar bajingan.
Si Anjing itu brengsek.
Bahkan setelah semua yang dia lakukan bersama wanita itu, dia tak sudi menikahinya. Tidakkah dia berpikir bagaimana jika adik perempuannya diperlakukan seperti wanita itu oleh pria brengsek sepertinya? Lebih buruk lagi, bagaimana jika adik perempuannya menjadi wanita murahan hanya untuk mendapat perhatian seorang pria bajingan?
Si Babi dan Si Anjing itu, mereka dan kawanannya melakukan hal hina itu di mana-mana.
Tak hanya di penginapan murah Alexandria. Boleh jadi, kawanan Babi dan Anjing lainnya melakukan hal hina itu di di syaqqoh-syaqqoh sepanjang jalan Darb El-Ahmar atau mungkin… di balik pintu syaqqoh sebelahmu.
Kairo, 2026.
Oleh: ꦥ꦳ꦶꦂꦧꦗ꦳ꦸ
Editor: M. Alkindi Badruzaman
