Warna-Warni Manusia Mesir

Manusia yang tinggal dalam sebuah wilayah selalu memiliki karakteristik umum yang kentara. Dengan itulah mereka mengembangkan ciri-ciri khas yang tak terhindarkan. Dalam dunia yang terdiri dari banyak bangsa dan negara, keunikan ini menjadi semakin jelas terlihat. Karakter yang melekat pada manusia Indonesia, misalnya, akan sangat berbeda dari manusia Amerika. Begitu pula ciri khas yang ditemukan pada manusia Finlandia, terasa amat jauh dari manusia Jepang. Kontras-kontras ini terus berulang di berbagai belahan dunia.

Kemajemukan karakter yang dimiliki oleh setiap negeri melahirkan sifat-sifat yang dapat diamati dan dibedakan dengan mudah. Dari hanya memperhatikan beberapa kebiasaan atau sifat tertentu, kita dapat dengan segera menebak asal-usul seseorang. Selain berfungsi sebagai pembeda, pengenalan terhadap karakteristik umum ini juga memungkinkan kita mengantisipasi sifat-sifat negatif yang mungkin muncul dalam interaksi sosial. Tanpa pengetahuan semacam ini, kerap kali kita dibuat kecewa oleh perilaku yang tak terduga dari orang lain.

Dalam salah satu pidatonya yang diadaptasi menjadi sebuah karya tulis, Mochtar Lubis, secara gamblang mengungkap karakter-karakter yang dimiliki oleh manusia Indonesia. Buku tersebut dianggap banyak orang sebagai bentuk autokritik beliau terhadap bangsanya sendiri–menguraikan sifat-sifat yang mencolok dari bangsa ini. Lubis tak segan menyebutkan sifat-sifat negatif seperti hipokrit, jiwa feodal, dan ketidakmauan untuk bertanggung jawab. Satu-satunya sifat positif yang ia sebut adalah jiwa artistik bangsa Indonesia. Tak heran, jika banyak yang merasa tersinggung oleh tulisannya.

Terinspirasi oleh keberanian Lubis, saya merasa tergelitik untuk menuliskan pengamatan saya mengenai karakter manusia Mesir. Setelah cukup lama tinggal di Oum Dunya ini, saya mulai mengenali pola-pola umum yang mewarnai perilaku manusia Mesir. Sebagai mahasiswa yang belajar di bawah naungan Al-Azhar, saya tak hanya terlibat dalam rutinitas akademik belaka, tetapi juga dalam pergaulan sehari-hari dengan pribumi setempat.

Selain itu, saya juga aktif berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara lain. Melalui percakapan dan pengalaman langsung, saya mulai memahami sifat-sifat khas yang dimiliki oleh masriyyiin, warga asli Mesir. Pengalaman ini semakin lengkap melalui perjalanan-perjalanan wisata ke luar Kairo dan juga konsumsi film-film Mesir– sebuah usaha untuk meningkatkan pemahaman bahasa dan budaya mereka, meskipun kalau bukan karena kebutuhan, mungkin saya tidak akan menonton secara sukarela.

Dari semua pengalaman yang telah saya lalui, saya bisa menyimpulkan bahwa manusia Mesir itu memiliki keunikan tersendiri. Karakter mereka sangat berbeda dari bangsa-bangsa lain. Siapa pun yang pernah tinggal di negeri ini, atau sekadar berkunjung untuk liburan, pasti akan mengamini bahwa orang Mesir itu memang unik. Seperti manusia di belahan dunia lainnya, beberapa sifat mereka mampu membuat kita tersenyum dan merasa terhibur, sementara banyak lainnya yang membuat kita mengelus dada sembari berucap “Hadeuh.”

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin membagikan beberapa karakteristik umum dan unik yang dimiliki oleh manusia Mesir. Seperti yang telah saya singgung di muka, tulisan ini diharapkan dapat membantu siapa saja yang berniat mengunjungi atau tinggal di negeri ini, agar mereka dapat bersiap dan menyusun strategi terbaik ketika berinteraksi dengan mereka. Terutama, agar terhindar dari sikap tak terduga mereka yang kerap kali menguji kesabaran.

Kaddab (Penipu yang Mahir) 

“Kaddab” adalah bentuk superlatif dari “kaadzib”, yang berarti pembohong. Dialek Mesir mengganti huruf dzal dengan dal, sehingga kata ini terdengar berbeda dari bahasa Arab formal. Jika saya boleh jujur, saya termasuk orang yang mudah percaya–apa yang dikatakan orang lain, saya terima begitu saja. Namun, setelah tinggal cukup lama di sini, tingkat kepercayaan saya terhadap manusia menurun drastis, khususnya manusia Mesir. Kini saya selalu menjaga kewaspadaan saat berhadapan dengan mereka, karena banyak di antara mereka adalah kaddabiin–penipu yang ulung.

Pandangan ini bukan hanya lahir dari pengalaman subjektif semata. Banyak teman saya pun berbagi cerita pahit tentang bagaimana mereka ditipu oleh orang Mesir. Bahkan, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Pembangunan Administratif Mesir, 55% dari masyarakat Mesir tidak menganggap kebohongan sebagai masalah, bahkan mereka mempraktikannya secara normal!

Ada sebuah video menarik yang diunggah di kanal YouTube al-Naba Tube. Video ini telah ditonton lebih dari 112 ribu kali dan berisi wawancara dengan masyarakat Mesir mengenai penelitian tersebut. “Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa 55% orang Mesir suka berbohong. Apa pendapatmu?” tanya si presenter. “Salah! Bukan 55%, tapi semua orang Mesir memang seperti itu!” jawab seorang bapak-bapak berbaju cokelat, sembari tersenyum.

Pertanyaan serupa diajukan kepada seorang pemuda Mesir berkemeja biru kotak-kotak, dan dengan tegas ia menjawab, sambil tertawa, “bukan cuma 55%, tapi 100% orang Mesir suka berbohong.” Bahkan, seorang anak kecil yang tak luput dari pertanyaan ini, dengan pede dan suara cemprengnya menjawab “Ya, saya setuju. Orang Mesir memang semuanya pembohong, dan saya salah satunya, haha.” Jawaban polos itu diiringi dengan tawa dan wajah tanpa dosa.

Sepertinya, manusia Mesir dan kebohongannya sulit untuk dipisahkan. Di apartemen sederhana tempat saya tinggal, ada seorang pembersih tangga yang datang setiap dua minggu sekali. Baba (baca: pemilik apartemen) mengatakan bahwa biaya untuk jasa ini hanya 20 pound Mesir sekali jasa kebersihan. Namun, ketika petugas kebersihan datang menagih bayaran, ia meminta 80 pound! Tentu saja saya tidak terima. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ia setuju menerima bayaran sesuai dengan harga yang sebenarnya. Kali ini, saya menang.

Ada satu film Mesir yang dianggap wajib ditonton oleh para mahasiswa baru di sini. Film ini sudah seperti warisan turun-temurun dari generasi mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir. Bahkan, ada yang berkelakar  jika seorang mahasiswa belum menonton film ini, statusnya sebagai bagian dari komunitas Masisir dianggap gugur. Film tersebut berjudul ‘Asal Iswid (Madu Hitam). Judul ini adalah sebuah alegori tentang kehidupan di Mesir yang manis sekaligus pahit.

Tokoh utamanya adalah seorang pria bernama Masri, seorang warga Mesir yang hijrah ke Amerika saat usianya masih sepuluh tahun. Setelah dua dekade tinggal di sana, kerinduan pada kampung halamannya pun memuncak, dan ia memutuskan untuk kembali ke tanah piramida. Namun, minimnya pengalaman hidup di Mesir membuatnya sering kali mengalami gegar budaya.

Ada satu adegan menarik dalam film ini, ketika Masri baru saja menginjakkan kakinya di bandara. Begitu keluar dari bandara, ia naik taksi yang dikendarai oleh orang Mesir. Kita sebut saja namanya Bahar. Bahar, yang menyadari bahwa Masri adalah orang Mesir yang bergaya kebarat-baratan segera melihat peluang untuk memanfaatkan ketidaktahuan Masri. Ketika Masri bertanya berapa ongkos perjalanan dari bandara ke hotel, Bahar menyebutkan harga yang jauh di atas rata-rata, bahkan meminta bayaran dalam bentuk dolar! Masri, yang lugu, menerima saja tawaran itu tanpa banyak protes. Betapa malang nasibnya.

Bagi siapa pun yang berencana menjadikan Mesir sebagai destinasi kunjungan, sangat disarankan untuk berhati-hati. Akan jauh lebih baik jika ditemani oleh seseorang yang berpengalaman dalam menghadapi situasi khas Mesir, entah itu pemandu wisata, agen perjalanan, atau mahasiswa yang telah lama tinggal di negeri ini. Jika tidak, anda berarti sedang terjun bebas ke dalam kolam penuh buaya yang siap melahap apa pun yang anda bawa. Jangan heran jika dalam hitungan hari, perbekalan anda tiba-tiba habis, tanpa jejak yang jelas.

Komunikator yang Ulung

Saya selalu terpesona dengan cara bicara orang Mesir. Entah mengapa, rasanya kemampuan mereka dalam berbicara seperti anugerah dari langit. Suka atau tidak, mereka sangat ahli dalam menyamapaikan apa yang ada di benak mereka. Jika ada sesuatu yang mengganjal, mereka tidak akan menyimpannya dalam hati. Semuanya akan dikatakan dengan gamblang, baik secara halus maupun kasar. Mereka tidak akan diam hingga semua tersampaikan.

Sifat ini sangat kontras dengan karakter manusia Indonesia yang dikemukakan Mochtar Lubis dalam karyanya. Manusia Indonesia, kata Lubis, cenderung hipokrit–lain di mulut, lain di hati. Ada ketidaksesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Orang Indonesia lebih suka menghindari konflik. Selama masalah masih bisa diatasi dengan mengiakan, tak perlu repot-repot berdebat panjang. Prinsipnya, “asal bapak senang” (ABS).

Sebaliknya, orang Mesir tidak akan segan-segan menyuarakan apa yang mereka pikirkan, baik anak muda maupun orang tua. Mereka tidak akan percaya pada solusi yang sekedar basa-basi. Setiap masalah harus dibicarakan, bahkan jika harus bertentangan dengan norma kesopanan. Mereka tidak akan membiarkan perasaan terpendam begitu saja, semuanya harus diselesaikan saat itu juga.

Dalam salah satu siaran radio Mesir, Najoum FM, seorang pembawa acara yang bernama Najwa Ibrahim pernah berbicara tentang ciri khas orang Mesir. Menurutnya manusia Mesir adalah “fenomena vocal”, mereka sangat ekspresif dalam mengungkapkan perasaan melalui suara mereka.

Hal itu benar adanya, terutama suara orang Mesir ketika mereka sedang berbicara atau berdebat, bisa terdengar sangat lantang. Entah apakah ini hasil dari kemampuan komunikasi yang begitu terbentuk sejak kecil atau sekadar ekspresi emosional yang melekat dalam budaya mereka. Saya sering melihat perdebatan kecil di jalan-jalan Kairo, yang sebetulnya bisa selesai dengan cepat jika salah satu pihak mengalah. Namun, itu bukan cara mereka. Semua harus dikatakan dan harus dikeluarkan.

Saya juga memperhatikan bahwa mereka sangat jarang menyiapkan teks saat berbicara di depan umum. Para khatib Jumat, misalnya, sering kali berbicara tanpa teks sama sekali namun tetap lancar, penuh makna, dan membara. Kawan-kawan saya dari Mesir, ketika tiba-tiba diminta untuk mempresentasikan materi di kelas oleh dosen, mampu menguraikannya seolah-olah telah berlatih selama berhari-hari. Penyampaiannya sangat lancar, layaknya seorang pembicara ahli.

Yang lebih mengesankan lagi, hal ini tidak hanya terjadi di kalangan akademisi; para pedagang pun menunjukkan keterampilan oratoris yang sama. Saya pernah menyaksikan beberapa pedagang yang tengah menyampaikan keutamaan Selawat kepada Baginda Nabi Muhammad saw. “Ini seperti mubalig kondang di Indonesia,” gumam saya dalam hati. Semakin jelas bagi saya bahwa kemampuan mereka ini benar-benar merupakan anugerah Ilahi. Angkat topi untuk salah satu sifat luar biasa yang mereka miliki. 

Kesabaran Setipis Tisu

Orang Mesir dikenal dengan tingkat kesabaran yang setipis tisu. Ketidaksabaran ini seringkali mencerminkan budaya yang penuh dinamika dan ketergesa-gesaan. Dalam banyak situasi, terutama di tempat-tempat umum seperti pasar atau pusat pembelanjaan, antrian sering kali berubah menjadi kekalutan. Fenomena ini bukan hanya sekadar kebiasaan tetapi menjadi bagian dari realitas sosial sehari-hari.

Menurut pandangan saya, ketidaksabaran ini bukanlah fenomena baru. Sifat ini tampaknya telah menjadi bagian dari karakter manusia Mesir sejak lama. Catatan sejarah yang ditulis oleh salah satu tokoh sejarawan besar Mesir, Taqiyyuddiin al-Maqrizi (764 H-845 H), dalam karya monumentalnya al-Mawaidz wa al-I’tibar bidzikri al-Khutot wa al-Atsar, juga mencatat Hal serupa. al-Maqrizi menjelaskan bahwa:

“Orang Mesir didonimasi oleh sifat tipu daya, pengecut, putus asa, kikir, kurang sabar, juga kurang tekun. Demikian pula akhlak mereka didominasi oleh ketidakmungkinan, bergeser dari suatu hal ke hal lainnya, bergosip, berbohong, memperebutkan kekuasaan dan mencela orang. Pada umumnya mereka didominasi oleh keburukan-keburukan duniawi yang diakibatkan oleh kerendahan kualitas diri. Perlu diingat, bahwa keburukan-keburukan tadi tidak bersifat umum di antara mereka, namun terdapat pada sebagian besar dari mereka sahaja.” (1/84).

Kawan Mesir saya, Ali, pernah bilang “kesabaran adalah atribut yang jarang ditemukan dalam interaksi masyarakat Mesir. Ketika situasi menuntut ketenangan dan keteraturan, sering kali kita melihat bagaimana ketidaksabaran menjadi lebih dominan.” Pengalaman saya di berbagai lokasi di Kairo membenarkan ucapannya ini. Misalnya, saat menunggu giliran di warung atau ketika menghadapi proses Administrasi, suasana sering kali dipenuhi dengan kondisi yang tidak kondusif, menggambarkan betapa tipisnya batas kesabaran mereka.

Ini terlihat semakin jelas saat manusia Mesir berhadapan dengan kemacetan lalu lintas yang padat. Klakson mobil menjadi alat komunikasi mereka, bukan hanya untuk memberi tahu arah, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi frustasi. Ketidaksabaran ini sering kali menjadikan interaksi sehari-hari yang penuh dengan dinamika yang tidak terduga, memerlukan kemampuan beradaptasi yang tinggi bagi mereka yang tidak terbiasa.

Ramadan dan Kedermawanan

Jika membicarakan sifat dermawan manusia Mesir, tidak semua orang menunjukkan kualitas ini secara konsisten. Hanya sebagian dari mereka yang benar-benar mempraktikan kebaikan hati ini. Awalnya, saya tidak begitu menyadari bahwa sifat ini ada di kalangan mereka. Pengalaman saya sehari-hari di Mesir tidak banyak memperlihatkan kedermawanan yang kentara. Namun, hal ini berubah secara drastis ketika bulan Ramadan tiba.

Ramadan di Mesir adalah momen yang membuka mata saya. Saat itu, seolah-olah ada gelombang kebaikan yang menyelimuti seluruh negeri. Tradisi memberi sedekah menjadi sangat nyata dan terlihat di setiap sudut jalan. Ketika matahari mulai terbenam, di berbagai kawasan, masyarakat Mesir dengan penuh keikhlasan menyiapkan Mā’idatur Raḥmān—meja-meja makan yang disediakan secara gratis bagi siapa pun menjelang waktu berbuka puasa. Tidak ada pertanyaan mengenai latar belakang atau alasan seseorang duduk di meja tersebut; siapa saja yang membutuhkan, atau sekadar ingin berbuka dalam suasana kebersamaan, dipersilakan menikmati hidangan yang tersedia secara cuma-cuma.

Sebagai Masisir, saya pribadi merasakan langsung betapa nyatanya sifat dermawan ini ketika bulan Ramadan tiba. Pada bulan suci ini, hampir tak ada satu geneh pun yang perlu dikeluarkan untuk makan. Setiap hari kami bisa menemukan makanan yang disediakan gratis, baik itu di Mā’idatur Raḥmān atau di masjid-masjid. Tak jarang, saya dan teman teman sesama Masisir merasa seperti berada di tengah perayaan sosial yang penuh dengan rasa persaudaraan, di mana tidak ada satu pun yang merasa ditinggalkan atau diabaikan.

Al-Azhar, institusi tempat saya menimba ilmu, juga menunjukkan kedermawanan yang tak kalah mengagumkan. Setiap bulan Ramadan, halaman Masjid Al-Azhar yang luas menjadi saksi sebuah tradisi penuh berkah—buka puasa bersama bagi para wāfidīn, sebutan bagi pelajar dari luar Mesir yang menimba ilmu di sini. Tanpa terkecuali, setiap hari menjelang Magrib, paket-paket makanan panjang ditata rapi.

Ini bukan sekadar ritual berbagi, melainkan wujud nyata kepedulian Al-Azhar terhadap para mahasiswa asing yang jauh dari tanah airnya. Tak ada satu pun dari kami yang perlu mengeluarkan uang untuk makan di sana. Sebuah kemewahan spiritual yang jarang dirasakan di tempat lain. Ini adalah bukti nyata dari kedermawanan yang tak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari institusi yang telah berusia berabad-abad, yang menjaga tradisi berbagi sebagai bagian dari komitmen intelektual dan spiritual.

Dengan segala pengalaman yang saya alami, saya menyadari bahwa Ramadan di Mesir lebih dari sekadar ibadah rohani. Ini adalah sebuah perjalanan sosial yang memperlihatkan betapa kedermawanan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan setiap lapisan masyarakat. Sebuah sifat yang tidak hanya tampak di permukaan, tetapi telah berakar dalam dan menjadi pondasi dari harmoni sosial yang begitu kuat di negeri para nabi ini.

PENUTUP

Membaca karakter manusia Mesir itu seperti menggali sebuah buku penuh halaman yang tidak pernah usai. Dari kecerdikan mereka dalam berbohong–sebuah seni yang menjadi bagian tak terpisahkan dari interaksi sehari-hari– hingga kemampuan berbicara yang seolah merupakan anugerah Ilahi. Ketidaksabaran mereka yang sering kali tampak jelas dalam antrian dan kemacetan, serta kedermawanan yang melimpah di bulan Ramadan, menggambarkan sebuah kompleksitas karakter yang mendalam.

Dari penipu ulung hingga komunikator berbakat, dari ketidaksabaran yang mencolok hingga kedermawanan yang tulus, manusia Mesir menampilkan spektrum kepribadian yang nyata dan mempesona. Dalam setiap sifat tersebut, kita tidak hanya melihat kebiasaan, tetapi juga jendela menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kemanusiaan.

Di akhir perjalanan ini, kita diingatkan bahwa dalam setiap karakter manusia ada kekayaan dan keajaiban yang layak untuk dijelajahi. Layaknya piramida yang megah, manusia Mesir menyimpan misteri dan keindahan yang hanya dapat diungkap melalui pemahaman yang mendalam. Menyusuri keunikan ini memberikan kita prespektif yang lebih kaya tentang kompleksitas dan keindahan dunia yang kita huni.

Tabik!

Oleh: Ahmad Muzayyin Ali Syariati

Exit mobile version