Dawkinsme: Teknologi dan Sains ala Sekuler
Sebagaimana contoh yang telah disebutkan terkait contoh teknologiwan dan saintis dengan menggunakan dimensi “sudut pandang” ateisme, akan berujung terhadap proses sekularisasi. Di mana sekularisasi ini menafikan seluruh peran central tuhan semaksimal mungkin. Dengan demikian tidak ada proses kreatif sekaligus keruhanian di paradigma saintis dan teknologiwan itu sendiri.
Dalam konteks ini, Richard Dawkins dijadikan sampel untuk menunjukan penggunaan dimensi “sudut pandang” ateis terhadap sains, juga mungkin teknologi. Tetapi perlu dikenalkan secara sekilas siapakah Richard Dawkins itu? Nama aslinya Clinton Richard Dawkins, dia lahir Nairobi pada tahun 1941. Di samping itu, merupakan ahli etologi dan biologi evolusi, juga dosen biologi terkemuka di Universitas Oxford. Buku pertamanya berjudul The Selfish Gene (1976, dan di edisi kedua pada tahun 1989) langsung menjadi buku laris internasional dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
Dengan demikian terlihat secara ekpliti bahwa dia merupkan ahli saintis, juga penulis terkemuka. Di sisi lain banyak tokoh-tokoh pemikir dunia yang menilai bahwa Richard Dawkins ini merupakan tokoh ateis di abad kontemporer.
Dalam konteks Sains, Richard Dawkins (2006: 284-285) dalam The God Delusion menilai bahwa agama secara fundamental bertetanggan dengan sains. Dalam hal ini ia menggangkat kasus saintis geologi Amerika yaitu Kurt Wise yang keyakinan sains mengenai umur bumi kalah dengan keyakinan teologisnya dalam al-kitab. Dari sini Dawkins menilai bahwa percaya kepada agama secara fundamental merusak pendidikan ilmiah.
Masih dalam karyanya yang sama, Richard Dawkins (2006: 286) menilai bahwa absolutisme berasal dari iman yang religius sangatlah tidak tepat. Tidak hanya itu ia menilai bahwa absolutisme paling bahaya berasal dari dunia Islam dan teokrasi amerika, juga menilai agama dapat menjadi sebuah kekuatan untuk kejahatan di dunia. Dalam konteks sains, di sini terlihat secara implisit kebencian dia sebagai saintis terhadap agama dan menilai bahwa keduanya itu tidak kompatible atau tidak sesuai.
Sosok saintis berdimensi “sudut pandang” ateis dari Richard Dawkins sangatlah terlihat juga dari karyanya The Blind Watchmaker. Dimana Dawkins (1996: 6) melihat bahwa Darwin merupakan sosok ateis yang puas secara intelektual (to be an intellectually fulfield atheistic). Dengan demikian dari sini terlihat secara eksplisit bahwa Dawkins merupakan sosok saintis punya worldview ateis. Oleh karena itu, jelaslah bahwa aktivitas saintis yang menggunakan sudut pandang ateis sangatlah menafikan peran agama dan tuhan, bahkan melihatnya sebagai musuh.
“Sudut Pandang” Seharusnya: Quo Vadis Hakteknas?
Dari berbagai penjelasan sebelumnya sekarang kita patut untuk menegaskan kembali paradigma atau sudut pandang apa yang mesti digunakan oleh saintis di Indonesia dalam rangka Hakteknas? Apakah ingin berlandaskan teologi ketuhanan ataukan proses sekularisasi? ataupun lebih radikal dari itu seperti Ateis ala Dawkinsme? Di mana kah posisi yang penting untuk menerapkan agama dan sains dalam konteks hakteknas bagi saintis juga masyarakat Indonesia?
Sebagaimana yang kita akui bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang berbasis kepada Tuhan semesta alam. Hal ini berarti pengalaman di Indonesia berbeda dengan pengalam negara-negara Barat sekuler. Pancasila sebagai falsafah negara secara jelas mengakui eksistensi peran tuhan. Di mana hal tersebut diwujudkan dalam sila nomor pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena itu, maka sudah sewajarnya jika para saintis, teknologiwan, bahkan masyarakat menggunakan “sudut pandang” yang bernuansa ketuhanan dan teologi, serta tidak menafikan peran agama dalam sains.
Lalu bagaimana aplikasi dan implementasi dari “sudut pandang” berdasarkan tuhan dan agama? Untuk konteks ini penulis fokuskan dalam aspek kesarjanaan teoritis Islam, yang dikenal dengan gagasan Islamisasi Ilmu atau Sains. Gagasan tersebut dipopulerkan oleh Prof. Ismail Raji Al-Faruqi dengan konsep “at-Tauhid as Worldview”, lalu Prof. Muhammad Naquib al-Attas dengan “Islamic Worldview”, dan Prof. Seyyed Hossein Nasr merumuskanya dengan “Scientia Sacra”, serta Muzzafar Iqbal dengan konsep terkemukaya yaitu “Qur’anic Worldview”. Meskipun masing-masing dari corak dan metode pendekatanya berbeda-beda, akan tetapi dimensi “sudut pandang” nya masih sama yaitu ketuhanan atau tauhid. Dengan demikian gagasan ini tidak lah menafikan peran sentral tuhan dalam Ilmu pengetahuan.
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa “sudut pandang” yang seharusnya digunakan oleh saintis, teknologiwan, juga masyarakat Indonesia dalam rangka hakteknas harus berdasarkan dimensi ketuhanan dan agama. Dalam konteks Indonesia cara pandang terhadap agama dan sains harus diupayakan untuk dikompromikan semaksimal mungkin. Dalam Islam dikenal dengan terwujudnya cita masyarakat ulul albab yang menintegratifkan aspek berzikir (al-dzikr) dan berpikir (al-fikr) sebagaimana Q.S Ali-Imran ayat 3. Tidak hanya itu aspek kemajuan ilmu pengetahuan sangatlah dituntut, Allah swt befirman: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (Q.S Az-Zumar: 9).
Wallahu a’lâm bi as-Shawwâb
Kembali ke (Bag 1)
Baca Juga Artikel Lainnya: “Islamisasi Sains Serta Relevansinya dengan Hakteknas”
Oleh: Muhammad Ghifari
Penulis adalah editor Majalah Manggala 2019-2021
