Esai  

Generasi Pertama Penulis Sirah Nabawiyah

Dok. Manggala
Dok. Manggala

Dewasa ini serangan terhadap akidah umat Islam telah menyasar pada inti ajaran agama: keabsahan nubuwat (keNabian) Muhammad saw. Upaya ini dilakukan salah satunya lewat penyangsian kisah hidup Rasul yang termaktub rapi dalam ilmu Sirah selama berabad-abad. Sirah Nabawiyah dituduh telah terlepas dari rel objektivitas yang menjadi tolak ukur utama ilmu pengetahuan yang rasional. Sirah dipandang sekedar dongeng penuh bumbu yang ditulis agamawan tentang imajinasi mereka akan sosok Muhammad saw.

Prof. Dr. Abbas Syauman, Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar menjawab fenomena ini dengan pernyataan yang meyakinkan: “Upaya penyangsian terhadap Sirah—kemudian pada nubuat Muhammad saw. sekali-kali merupakan upaya yang sia- sia, tak akan mampu merobohkan argumen-argumen rasional yang ada dalam buku- buku Sirah. Penulis-penulis Sirah nabawiyah adalah orang-orang yang terverifikasi sebagai periwayat qualified: sahabat, tabiin dan generasi-generasi setelahnya.”

Selain soal kebenaran isi riwayat, orisinalitas penyampai riwayat juga merupakan tolak ukur yang sangat penting dalam upaya meneguhkan Sirah sebagai ilmu pengetahuan yang valid. Riwayat-riwayat Sirah yang sampai kepada kita telah melalui verifikasi yang kompleks terhadap isi riwayat maupun penyampainya. Jelas dan sangat memenuhi standar rasionalitas ilmu pengetahuan.

Penyangsian terhadap Sirah makin menemukan momentum ketika umat Islam semakin abai pada ilmu Sirah itu sendiri. Sirah kerap dipandang semata kisah hidup abi Muhammad dari lahir hingga wafat. Tanpa pendekatan ilmiah, pengajian Sirah cenderung berjalan satu arah, tak lebih dari sard al-ma’lumat (giving information) dari sebuah buku Sirah—seperti Rahiq Al-Makhtum—tanpa perhatian pada kerangka ilmiah yang terdapat dalam buku tersebut.

Berangkat dari kenyataan di atas, maka tulisan yang menurutkan perhatiannya kepada penulis buku-buku Sirah lintas generasi merupakan hal yang—tak dapat tidak— harus dikerjakan. Ibarat menyusun puzzle, informasi Sirah yang diperoleh lewat pemahaman transmisi riwayat-riwayat Sirah dapat membawa pembaca kepada keutuhan argumentasi dan keyakinan penuh akan kisah kehidupan Muhammad saw. yang syarat suri tauladan itu.

Sejarah Ilmu Sirah

Ilmu Sirah adalah ilmu yang mengulas kehidupan Nabi Muhammad saw. Ilmu Sirah, seperti hal lain di alam raya ini, tunduk pada sunnatullah yang bernama “proses”. Sebelum menjadi fan ilmu yang berdiri sendiri, Sirah pada mulanya merupakan bagian dari catatan-catatan hadits yang ditulis oleh generasi sahabat dan tabiin. Kehidupan Rasulullah saw. yang penuh dengan keteladanan serta kewajiban menjadikan tindak- tunduknya sebagai tolak ukur berkehidupan—membuat kaum muslim menaruh perhatian tinggi pada segala hal tentang Rasulullah.

Latar belakang keluarga, era sebelum keNabian, perawakan, metode dakwah, peperangan, strategi, pernikahan, perjalanan-perjalanan—semua dicatat secara komprehensif dalam satu disiplin yang disebut ilmu Hadits. Barulah ketika Nabi wafat (11 H) dan munculnya generasi baru yang belum pernah bersua Nabi saw. (tabiin) percakapan tentang Rasulullah semakin diminati. Melihat fakta bahwa tindak-tunduk Nabi adalah salah satu sumber hukum Islam, maka kebutuhan akan deskripsi dan kontekstualisasi hadits-hadits Nabi menjadi wacana baru yang menggejala di kalangan tabiin. Di titik inilah muncul keinginan untuk memisahkan kisah kehidupan Nabi Muhammad saw. ke dalam satu diskursus tersendiri.

Dalam sejarah Islam awal, peperangan-peperangan—baik untuk membela diri atau membela kedudukan Islam—merupakan peristiwa yang sangat dihormati dan memuat banyak hikmah. Buku-buku yang mengulas riwayat-riwayat peperangan Rasul pun ditulis, dinamai dengan buku maghazi (cerita peperangan).

Maghazi adalah bentuk awal disiplin ilmu Sirah. Bersamaan dengan kebutuhan kodifikasi informasi tentang peperangan, deskripsi tentang sosok Nabi Muhammad saw. sangat digandrungi generasi tabiin yang memang tidak pernah melihat beliau secara langsung. Sosok Muhammad saw. memang pribadi terpilih yang tiap senti lelakunya ditulis dengan tinta emas. Menyimak uraian tentang Nabi—langsung dari murid dan keluarganya adalah sesuatu yang sangat hebat. Demikianlah yang dirasakan para tabiin di masa itu.

Selanjutnya buku-buku yang khusus berisi uraian tentang Rasulullah mulai dari masa prakenabian, era dakwah hingga wafatnya—disusun secara kronologis dan runut. Di titik ini, Ilmu Sirah sudah mulai menemukan bentuknya seperti disiplin Sirah yang kita kenal sekarang.

Penulis Sirah Awal

Prof. Abdusyafi Mohammed Abdulathif membagi penulis Sirah awal menjadi tiga generasi. Pengelompokkan ini berdasar pada identifikasi ciri khas tokoh-tokoh pada tiap generasi, sehingga dapat dibedakan dari tokoh-tokoh pada generasi sebelumnya dan sesudahnya. Dari pengklafisikasian ini, kontinuitas riwayat-riwayat Sirah dapat dilacak sehingga tingkat otentisitas riwayat pun dapat dipertanggung jawabkan.

Sederhananya, semua buku Sirah yang ada hari ini bermuara pada apa yang ditulis Ibnu Ishaq. Namun dari sisi kronologis, Ibnu Ishaq sendiri tak bernah bertemu Rasulullah, ia hidup jauh setelah wafatnya sang Nabi. Dengan memahami teori klasifikasi generasi penulis Sirah, kesinambungan riwayat Sirah bisa dipertanggung jawabkan; karena Ibnu Ishaq memperoleh riwayatnya dari gurunya (tabiin), dan gurunya meriwayatkan cerita itu langsung dari sahabat: orang-orang yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad saw.

Penulis Sirah Generasi Pertama

Yang perlu diperhatikan, generasi pertama ini didominasi anak atau cucu sahabat besar, masih berkerabat dengan Rasulullah saw. ini merupakan variabel penting karena informasi yang diperoleh pun akan lebih akurat dan menyeluruh; karena mereka mendengarnya langsung dari orang-orang terdekat Rasulullah saw. bahkan istri-istri beliau.

  1. Aban bin Utsman

Aban adalah putra khalifah ketiga Utsman bin Affan ra, menantu Rasul saw. di antara orang yang dijanjikan masuk surga. Aban lahir di Madinah, dari keluarga terpandang yang dekat dengan Rn asul. Aban menimba ilmu dari sang ayah. Ayahnya sendiri dua kali menjadi menantu Nabi dan di antara 10 orang paling pertama yang masuk Islam, telah membersamai Nabi sejak permulaan dakwah.

Aban adalah periwayat hadits dan ahli fikih Madinah. Muridnya banyak. Salah satunya adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri yang kelak menjadi guru bagi Ibnu Ishaq, sang imam al-mua’allifin fi ilmi as-Sirah.

Dalam At-Thabaqat, Ibnu Sa’ad menyebut Aban sebagai periwayat yang masyhur dalam bidang maghazi. Buku Sirah Aban memang tidak sampai ke kita, namun riwayat dan pandangan-pandanganya termaktub jelas di kitab-kitab Sirah yang datang setelahnya.

  1. ‘Urwah bin Zubair

Urwah adalah penulis terpenting di generasi pertama. Ia memiliki keistimewaan yang tak banyak dimiliki penulis lain. Urwan adalah putra Zubair bin Awwam, orang dekat Rasul saw. Ayahnya, Zubair mempunyai bibi yang merupakan istri pertama Rasul saw, Sayyidah Khadijah ra. Dari sisi ibunda, Urwah adalah cucu Abu Bakar ra. Bibinya adalah Istri Rasul yang paling banyak meriwayatkan hadits: Sayyidah Aisyah ra. Terkumpul pada diri ‘Urwah kedekatan baik secara spiritual maupun kekerabatan dengan Nabi Muhammad saw.

‘Urwah menjadi sangat terkenal dengan riwayat-riwayat Sirah dan maghazi. Keluarga Zubair memang dikenal sebagai keluarga ahli Sirah. Selain ‘Urwah, dua putranya: Hisyam dan Yahya kelak menjadi rujukan dalam ilmu Sirah. Selain mereka, Umar bin Abdullah dan Yahya bin Ubbad juga merupakan ulama Sirah asal klan Zubairiyyin.

Ibnu Sa’ad menyebutkan dari Hisyam bin ‘Urwah, bahwa ayahnya (‘Urwah bin Zubair) telah membakar beberapa buku karangannya termasuk buku-buku Sirah ketika terjadi Perang Harrah (63 H) di Madinah. Meskipun demikian, riwayat-riwayat dari ‘Urwah tetap terjaga dalam buku-buku Sirah yang ditulis oleh generasi selanjutnya, seperti dalam Sirah Ibnu Ishaq, kitab Maghazi Al-Waqidi, Thabaqat Ibn Sa’ad, dan Tarikh Thabari. ‘Urwah wafat pada tahun 94 H.

  1. Syurahbil bin Sa’ad

Syurahbil adalah seorang mawali (muslim non-Arab). Ia merupakan Tabiin yang berguru pada sahabat-sahabat besar: Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri dan banyak lainnya. Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “tak ada orang yang lebih tahu tentang maghazi dan ahli Badr selain Syurahbil”. Musa bin ‘Uqbah, generasi ketiga penulis Sirah juga berkata bahwa Syurahbil telah membuat daftar nama muhajirin yang pindah ke Madinah serta daftar nama pejuang di perang Badar dan Uhud. Syurahbil wafat pada tahun 123 H.

  1. Wahab bin Munabbih

Beda dengan generasi penulis Sirah pertama lainnya, Wahab tidak lahir di Madinah. Ia lahir tahun 34 H di sebuah desa bernama Dzamar di Yaman Utara, dekat Shan’a. Hal ini menunjukkan bahwa geliat ilmu Sirah telah menyebar hingga ke luar kota Madinah. Wahab sebenarnya berasal dari keturunan Persia yang pindah ke Yaman.

Wahab telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Sa’id Al-Khudri, Jabir bin Abdullah dan banyak lainnya. Riwayat Wahab banyak berkisar tentang Ahlul Kitab—yang memang mayoritas berada di wilayah selatan Semenanjung Arabia.

Dalam kumpulan papirus yang tersimpan di Hiddlelberg, Jerman, orientalis Becker menyebutkan, di dalamnya ada sepotong manuskrip Sirah yang ditulis Wahab bin Munabbih. Di dalamnya termuat cerita tentang Bai’at ‘Aqabah, peristiwa rencana pembunuhan Nabi oleh Ǫuraisy di Darun Nadwah dan rententang peristiwa hijah Rasul ke Madinah. Wahab bin Munabbih wafat pada tahun 110 H.

Kesimpulan

Pemahaman tentang periwayat-periwayat Sirah generasi pertama akan mengantarkan kita pada pehamanan yang utuh dan keyakinan yang penuh atas originalitas kisah-kisah Sirah nabawiyah. Hal ini penting, mengingat minimnya pendekatan ilmiah dalam studi-studi Sirah dewasa ini.

Oleh: Rifaldhoh, Lc

Exit mobile version