Malam di Kota Hujan. Langit kelabu, dan perasaan Leya lebih kelabu lagi. Sudah lima bulan dia merantau demi kuliah impiannya. Tapi tak satu hari pun ia lewati tanpa merindukan masakan Ibu. Bukan hanya soal rasa, tapi tentang bagaimana Ibu selalu menaburkan cinta ke dalam setiap masakan.
‘Krubuk… krubuk…’
Dalam keheningan, suara itu pun berhasil memecahkan lamunan Leya. Perutnya keroncongan, dia pun tersadar kalau dirinya belum makan sejak pagi karena kesibukan dan banyaknya tugas kuliah. Leya membuka ponsel nya, alih-alih dia mencari makan lewat GoFood atau semacamnya, Leya malah membuka galeri, menatap foto lama dirinya dan Ibu di dapur rumah, tertawa, sambil memotong sayur.
“Ah, Ibu, aku rindu sekali, biasanya sepulang sekolah, di meja makan ada sayur asem hangat, tempe goreng renyah, sambel terasi yang pedasnya nendang. Sekarang, makan pun aku harus beli atau masak dulu.” Leya mengeluh.
‘Ping’
Dering ponsel Leya berbunyi, ada pesan masuk dari grup anak rantau, seseorang mengirim pesan: “Ada rumah makan baru di ujung kota, masakannya mirip banget kayak masakan rumah. Rasanya kayak pulang.”
“Hoooaahh,” Leya menggeliat.
Dengan nekat, ia langsung mencari alamat rumah makan itu. Sayangnya, tempat itu ada di ujung kota, hampir dua jam dari kosannya. Ongkosnya pun hampir menyamai uang makan dua hari. Ia menimbang-nimbang antara akan pergi atau tidak. 30 menit memikirkannya, Leya bergegas mengambil jaket, dompet, dan payung.
Jam menunjukan pukul delapan malam, hujan tetap turun walau hanya gerimis, tapi Leya tetap nekat untuk pergi. Perjalanan dimulai.
Angkot yang sempit, jaket yang basah, hujan yang makin deras, dan akhirnya ia sampai di gang rumah makan itu. Perjalanannya belum usai sampai di situ, dari jalan raya menuju rumah makan itu sekitar dua kilometer lagi. Leya pun mengambil ponsel dan membuka Google Maps-nya. Ia pun berjalan menyusuri komplek yang lengang. Tak ada tukang ojek karena hari sudah malam.
Sungguh perjalanan panjang ia tempuh dalam diam. Angkot sempit, hujan deras, dan rasa lapar yang menyesakkan. Tapi yang lebih berat lagi adalah bayangan wajah Ibu, senyumnya, suaranya memanggil, “Leya, makan dulu, sayang.”
Akhirnya Leya tiba di rumah makan itu. Rumah makan tua. Papan nama usang: “Dapoer Ibu”. Aroma masakan yang keluar dari dalam menusuk hidung dan hati. Leya melangkah masuk, dan di sana, di balik etalase… seorang wanita paruh baya berdiri. “Leya…” sapa wanita itu.
Leya tak bisa berkata apa-apa, tenggorokannya tercekik, air matanya langsung jatuh.
I-itu…. Itu Ibu.
Leya pun berlari memeluk ibunya.
“Ibu, maaf Leya belum sempat pulang. Leya kangen banget….” Ibu tersenyum mentapnya dengan penuh kasih.
“Kamu sudah pulang sekarang, sayang. Ayo makan, ibu sudah masakin masakan kesukaanmu.”
Leya duduk. Sepiring nasi hangat, semangkuk sayur asem, sambal, dan tempe goreng terhidang di atas meja. Suapan pertama… dan seluruh dunia seperti menjadi utuh kembali. Ia menangis sambil mengunyah makanannya, sementara Ibu duduk di seberangnya, mengusap rambut Leya.
Ibu bicara pelan: “Kalau kamu kangen, kenapa kamu belum telepon ibu sama sekali?” Leya mengerutkan dahi. “Tapi bukannya kita sekarang sudah bertemu….” Ibu tersenyum, mengusap lembut tangan Leya. “Leya sayang, ibu pamit, ya, Nak, ibu harus pergi. Jaga diri kamu baik-baik, ibu sayang Leya”.
Leya menatap Ibu. Wajah Ibu mulai mengabur. Perlahan, suara sendok menghilang, warna di sekeliling mulai memudar. Aroma makanan lenyap, semuanya pergi. Begitu pun dengan Ibu.
Leya terbangun.
Ia mendapati dirinya masih di kos. Masih di atas kasur, berselimut dingin. Tidak ada rumah makan, tidak ada Ibu. Hanya air mata di pipinya. Leya tersadar, ternyata perjalanan ke rumah makan dan bertemu Ibu itu hanyalah mimpi.
“Syukurlah, itu hanya mimpi,” ucap Leya lega.
Ia pun menyalakan handphone. Jam menunjukan pukul tiga pagi. Terlihat wallpaper foto: wajah Ibu. Di saat itu juga tangan Leya gemetar. Ia membuka kontak, mencari nama: “Ibu cantik”. Tangannya ragu, lalu ia tekan ikon telepon. Nada sambung ‘Tut-tut-tut’.
“Halo, Leya, ada apa, sayang? Kok tumben telepon ibu jam segini?”
Suara itu… suara yang paling dirindukan. Air mata Leya langsung jatuh.
“Ibu… Leya kangen….” Seberang sana hening. Lalu ibu tertawa pelan, “Ibu juga kangen, sayang, ibu masak sayur asem kemarin, tapi nggak ada yang makan.”
Leya menangis. Tapi kali ini, tangis bahagia. Ibu masih ada. Masih bisa dihubungi, masih bisa dikunjungi. Mimpi itu bukan perpisahan, tapi peringatan. Dan malam itu, di kamar yang sempit, Leya tahu satu hal: rasa masakan Ibu masih ada, pelukan Ibu masih bisa dijemput, dan rumah… belum benar-benar terlambat untuk dihubungi.
Oleh: Afti Khoirunnisa
Penulis adalah Kru Website Manggala 2025-2026
Editor: M. Alkindi Badruzaman
