Kontroversi HTI di Lingkungan Masisir; Angkringan Ramu Teguh pada Prinsip Ide Dilawan dengan Ide

Kontroversi HTI: Angkringan Ramu Teguh Pada Prinsip
Dok. Manggala

Manggala, Kairo – Angkringan Ramu kembali hadir di Antara Cafe, Darrasah, pada Ahad (17/8) dengan mengangkat tema “80 Tahun Kemerdekaan: Masih Beta Version atau Sudah Full Version?”. Diskusi terbuka ini tak sekadar membincang capaian bangsa, tetapi juga menyinggung wacana penerapan syariat Islam dan demokrasi yang belakangan menimbulkan kontroversi. Meski kerap dituding sebagai simpatisan HTI, para penggerak Angkringan Ramu menegaskan komitmennya: ide harus dijawab dengan ide, bukan dengan skeptisisme apalagi penolakan.

Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka dan santai. Dalam pembahasan, pemateri menyoroti makna kemerdekaan Indonesia yang sudah memasuki usia 80 tahun. Ia mempertanyakan apakah bangsa ini telah mencapai full version kemerdekaan atau masih berada pada tahap beta version, dengan menyinggung aspek penerapan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pernyataan tersebut memantik tanggapan dari audiens. Salah satu kru Manggala mengajukan pertanyaan kritis mengenai kemungkinan penerapan gagasan syariat atau khilafah di tengah realitas Indonesia sebagai negara demokratis, juga dengan pertimbangan kerasnya pertentangan akan ide tersebut. Pertanyaan ini menjadi salah satu sorotan dalam jalannya forum, mencerminkan semangat dialektika yang diusung Angkringan Ramu.

“Berbeda itu adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa itu adalah ketika kita sentimen terhadap perbedaan dan mengotak-kotakkan. Itu adalah penyakit pertama yang akan merusak adanya forum-forum seperti ini. Makanya, di sini paling anti dengan sentimen. Ide murni harus dibalas dengan ide,” ujar Ketua Komunitas Raudhatul Mufakirin, Muhammad Rangga Perkasa, saat diwawancarai seusai acara.

Dengan tetap memegang prinsip keterbukaan, Angkringan Ramu berharap dapat menjadi wadah bagi Masisir untuk melatih kemampuan berpikir kritis, berbicara di depan publik, dan menumbuhkan tradisi diskusi ilmiah yang beradab.

Reporter: M. Alkindi Badruzaman & M. Alfin Nurrohim

Exit mobile version